Translate

Tampilkan postingan dengan label Jawa – Islam : Keasingan dan Pertemuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa – Islam : Keasingan dan Pertemuan. Tampilkan semua postingan

Gamelan dalam Artefak Budaya

Gamelan dalam Artefak Budaya*

Bagi masyarakat Indonesia, di Pulau Jawa khususnya, gamelan bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan. Mereka—orang Jawa maupun Sunda—tahu mana yang disebut gamelan atau seperangkat gamelan, sekali pun orang bersangkutan tak bisa memainkannya. Mereka mengenal istilah gamelan, karawitan, atau gangsa. Akan tetapi, barangkali masih banyak yang belum mengetahui bagaimana sejarah perkembangan gamelan itu sendiri, sejak kapan gamelan mulai ada di Jawa.
Sarjana berkebangsaan Belanda, Dr. J.L.A. Brandes, mengatakan bahwa jauh sebelum datang pengaruh budaya India, bangsa Jawa telah rnemiliki keterampilan budaya atau pengetahuan yang mencakup 10 butir (Brandes, 1889), yakni:
1. wayang,
2. gamelan,
3. ilmu irama sanjak,
4. batik,
5. pengerjaan logam,
6. sistem mata uang sendiri,
7. ilmu teknologi pelayaran,
8. astronomi,
9. pertanian sawah,
10. birokrasi pemerintahan yang teratur.
Dengan begitu, bila pendapat Brandes tak keliru, kesepuluh butir keterampilan budaya tersebut bukan dari pemberian bangsa India. Ini benar berarti keberadaan gamelan dan wayang sudah ada sejak jaman prasejarah meski tahun yang tepat sulit diketahui karena masyarakatnya belum mengenal sistem tulisan. Tidak ada bukti tertulis yang dapat dipakai untuk melacak gamelan pada masa prasejarah.
Gamelan merupakan produk budaya untuk memenuhi kebutuhan manusia akan kesenian; dan kesenian merupakan salah satu unsur budaya yang bersifat universal. Ini berarti bahwa setiap bangsa dipastikan memiliki kesenian, meski wujudnya berbeda antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Apabila antarbangsa terjadi kontak budaya, keseniannya pun ikut bersinggungan, sehingga dapat terjadi satu bangsa menyerap bila unsur seni dari bangsa lain disesuaikan dengan kondisi setempat. Oleh karena itu, sejak keberadaannya, gamelan sampai sekarang telah mengalami perubahan dan perkembangan, khususnya dalam kelengkapan ansambelnya.
Istilah “karawitan” yang merujuk pada kesenian gamelan, banyak dipakai oleh kalangan masyarakat Jawa. Istilah tersebut mengalami perkembangan dalam hal penggunaan maupun pemaknaannya. Banyak orang memaknai “karawitan” berangkat dari kata dasar “rawit” yang berarti kecil, halus, atau rumit. Konon, di lingkungan keraton Surakarta, istilah karawitan pernah juga digunakan sebagai payung dari beberapa cabang kesenian, seperti tatah sungging, ukir, tari, hingga pedhalangan (Supanggah, 2002: 5-6).
Dalam pengertian yang sempit, istilah karawitan dipakai untuk menyebut suatu jenis seni suara atau musik yang mengandung salah satu atau kedua unsur berikut ini (Supanggah, 2002: 12): menggunakan alat musik gamelan—sebagian atau seluruhnya baik berlaras slendro atau pelog—sebagian atau semuanya; menggunakan laras (tangga nada) slendro dan/atau pelog, baik instrumental gamelan atau nongamelan maupun vokal atau campuran dari keduanya.
Gamelan Jawa sekarang ini bukan dikenal di Indonesia saja, bahkan telah berkembang di luar negeri seperti di Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Canada. Karawitan telah mendunia. Maka itu, cukup ironis apabila bangsa Jawa sebagai pewaris langsung malah tidak peduli terhadap seni ini. Bangsa lain malah sangat apresiatif dan tekun mempelajari gamelan, “mengalahkan” masyarakat pribumi sebagai ahli waris karya agung nenek moyang ini.

Sumber Data tentang Gamelan
Kebudayaan Jawa dan Nusantara umumnya, mulai memasuki zaman sejarah, ditandai dengan adanya sistem tulisan. Selama kurun waktu antara abad VIll sampai abad XV Masehi, kebudayaan Jawa mendapat pengayaan unsur-unsur kebudayaan India. Unsur-unsur budaya India, salah satunya, dapat dilihat pada kesenian gamelan dan seni tari, melalui transformasi budaya Hindu-Buddha.
Data-data tentang keberadaan gamelan ditemukan pada sumber verbal, yakni sumber tertulis berupa prasasti dan kitab-kitab kesusastraan yang berasal dari masa Hindu-Buddha. Pun, sumber ini berupa sumber piktorial, seperti relief yang dipahatkan pada bangunan candi, baik candi-candi yang berasal dari masa klasik Jawa Tengah (abad ke-7 hingga ke-10) dan candi-candi yang berasal dari masa klasik Jawa Timur yang lebih muda (abad ke-11 sampai ke-15) (Haryono, 1985). Dalam sumber-sumber tertulis masa Jawa Timur, kelompok ansambel gamelan dikatakan sebagai “tabeh-tabehan” (dalam bahasa Jawa Baru “tabuh-tabuhan” atau “tetabuhan”, berarti segala sesuatu yang ditabuh atau dibunyikan dengan dipukul).
Zoetmulder menjelaskan kata “gamèl” dengan alat musik perkusif, yakni alat musik yang dipukul (1982). Dalam bahasa Jawa, ada kata “gèmbèl” yang berarti alat pemukul. Dalam bahasa Bali, ada istilah “gambèlan” yang kemudian mungkin menjadi istilah gamelan. Istilah gamelan telah disebut dalam kaitannya dengan musik. Pada masa Kadiri (abad ke-13 M), seorang ahli musik Judith Becker mengatakan bahwa kata gamelan berasal dari nama seorang pendeta Burma yang seorang ahli besi bernama Gumlao. Kalau pendapat Becker ini benar adanya, tentunya istilah gamelan dijumpai juga di Burma atau di beberapa daerah di Asia Tenggara daratan; namun ternyata tidak.

Gambaran Instrumen Gamelan pada Relief Candi
Pada beberapa bagian dinding Candi Borobudur dapat dilihat jenis-jenis instrumen gamelan yaitu: kendang bertali yang dikalungkan di leher, kendang berbentuk seperti periuk, siter dan kecapi, simbal, suling, saron, gambang. Pada Candi Lara Jonggrang (Prambanan) dapat dilihat gambar relief kendang silindris, kendang cembung, kendang bentuk periuk, simbal (kècèr), dan suling.
Gambar relief instrumen gamelan di candi-candi masa Jawa Timur dapat dijumpai pada Candi Jago (abad ke -13 M) berupa alat musik petik: kecapi berleher panjang dan celempung. Sedangkan pada candi Ngrimbi (abad ke - 13 M) ada relief reyong (dua buah bonang pencon). Sementara itu, relief gong besar dijumpai di Candi Kedaton (abad ke-14 M), dan kendang silindris di Candi Tegawangi (abad ke-14 M). Pada candi induk Panataran (abad ke-14 M) ada relief gong, bendhe, kemanak, kendang sejenis tambur; dan di pandapa teras terdapat relief gambang, reyong, serta simbal. Pada Candi Sukuh (abad ke-15 M) terukir relief bendhe dan terompet.
Berdasarkan data-data pada relief dan kitab-kitab kesusastraan diperoleh petunjuk, bahwa paling tidak ada pengaruh India terhadap keberadaan beberapa jenis gamelan Jawa. Keberadaan musik di India sangat erat dengan aktivitas keagamaan. Musik merupakan salah satu unsur penting dalam upacara keagamaan (Koentjaraningrat, 1985: 42-45). Di dalam beberapa kitab-kitab kesastraan India seperti Natya Sastra, seni musik dan seni tari berfungsi untuk aktivitas upacara. keagamaan (Vatsyayan, 1968). Secara keseluruhan, kelompok musik di India disebut “vaditra” yang dikelompokkan menjadi lima kelas, yakni:
1. tata (instrumen musik gesek),
2. begat (instrumen musik petik),
3. sushira (instrumen musik tiup),
4. dhola (kendang),
5. ghana (instrumen musik pukul).
Pengelompokan yang lain adalah:
1. avanaddha vadya, bunyi yang dihasilkan oleh getaran selaput kulit karena dipukul;
2. ghana vadya, bunyi dihasilkan oleh getaran alat musik itu sendiri;
3. sushira vadya, bunyi dihasilkan oleh getaran udara dengan ditiup;
4. tata vadya, bunyi dihasilkan oleh getaran dawai yang dipetik atau digesek.
Klasifikasi tersebut dapat disamakan dengan membranofon (Avanaddha vadya), ideofon (ghana vadya), aerofon (sushira vadya), kordofon (tata vadya). Irama musik di India disebut “laya”, dibakukan dengan menggunakan pola “tala” yang dilakukan dengan kendang. Irama tersebut dikelompokkan menjadi: druta (cepat), madhya (sedang), dan vilambita (lamban).

KLASIFIKASI INSTRUMEN GAMELAN
1. Kelompok Membranofon (Avanaddha Vadya)
Kelompok membranofon adalah instrumen gamelan, yang sumber bunyi ada pada selaput kulit atau bahan lainnya. Di dalam gamelan Jawa, kelompok ini adalah jenis kendang. Dalam beberapa prasasti diperoleh bukti bahwa instrumen kelompok membranofon telah populer di Jawa sejak pertengahan abad ke-9 Masehi dengan nama: padahi, pataha (padaha), murawa atau muraba, mrdangga, mrdala, muraja, panawa, kahala, damaru, kendang.
Istilah “padahi” tertua dapat dijumpai pada Prasasti Kuburan Candi yang berangka tahun 821 Masehi (Goris, 1930). Istilah tersebut terus dipergunakan sampai era Majapahit sebagaimana dapat dibaca pada Nagarakretagama gubahan Mpu Prapanca tahun 1365 Masehi (Pigeaud, 1960). Bukan tidak mungkin bahwa instrumen musik jenis membranofon merupakan jenis instrumen gamelan yang telah ada sebelum adanya kontak budaya dengan India, yang digunakan pada acara-acara ritual. Hal ini dapat dibandingkan dengan alat-alat musik yang dimiliki suku primitif yang pada umumnya dari kelompok membranofon. Pada zaman kebudayaan logam prasejarah (kebudayaan perunggu) di Indonesia, telah dikenal adanya jenis moko, nekara. Nekara pada zamannya berfungsi sebagai semacam genderang. Penulis tidak sependapat bahwa nekara dalarn perkembangannya kemudian menjadi gong.
Di India, instrumen jenis kendang disebut dengan berbagai nama seperti: dundubhi, pataha, mridangga, panava, murawa, mrdala; dan telah dikenal sejak masa Weda. Jenis dundubhi disebutkan sebagai “kendang yang jika dipukul dapat mengalahkan musuh” (Vatsyayan, 1968:175). Di India, kendang memainkan peran penting dalam upacara dan mengiringi pertunjukan tari sebagaimana disebutkan dalam Natya Sastra. Mridangga termasuk sebagai jenis kendang yang utama. Murawa (muraba), mrdala, mrdangga (mridangga) barangkali berasal dari akar kata yang sama yakni "mrd" yang berarti tanah.
Dalam mitologi disebutkan bahwa mrdangga atau mrdala diciptakan oleh Dewa Brahma untuk mengiringi tarian Dewa Siwa ketika berhasil mengalahkan raksasa Trusurapura (Popley, 1950:123; Haryono, 1986). Dalam kitab Natya Sastra dijumpai istilah bheri, bhambha, dindimas, yang mungkin juga masih termasuk kelompok instrumen kendang. Istilah bheri di Jawa sekarang menjadi kelompok ideofon yang disejajarkan dengan bendhe.
Dalam beberapa kitab sastra Jawa kuno penyebutan bheri berdekatan dengan kata mrdangga, seperti dalam kitab Wirataparwa: "... prasamanggwal bheri mrdangga, ajimur arok silih-wor ikang prang ..." (sama-sama memikul bheri mrdangga, bercampur saling berbaur mereka yang berperang); "... humung tang bheri murawa ..." (Huh suara bheri dan murawa).
Dalam kitab Ramayana (abad X Masehi) disebutkan: "... tinabih ikang bahiri ring taman ..." (bheri ditabuh di taman). Keterangan tersebut memberi kesan bahwa bahiri atau bheri masih dalam kelompok membranofon. Berdasarkan data-data pada kitab-kitab sastra, mrdala atau murawa merupakan instrumen yang sangat penting yang dikombinasikan dengan alat musik yang lain seperti sangkhakala, vina, baribit.
Penyebutan dengan berbagai nama, menunjukkan adanya berbagai bentuk kendang dan bahan. Dalam seni arca, kendang kecil yang dipegang oleh dewa disebut damaru. Pada relief Candi Borobudur (awal abad ke-9 M) dan Candi Siwa di Prambanan (pertengahan abad ke-9 M) dilukiskan bermacam-macam bentuk kendang (Haryono, 1985; 1986). Ada kendang bentuk silindris langsing, bentuk tong asimetris, bentuk kerucut.
Pada pagar langkan Candi Siwa, kendang ditempatkan di bawah perut dengan semacam tali. Pada candi-candi yang lebih muda dari abad ke-14, relief kendang dapat dilihat di candi-candi masa klasik muda (periode Jawa Timur), seperti Candi Tegawangi dan Candi Panataran. Di Candi Tegawangi juga dijumpai relief seseorang yang membawa kendang bentuk silindris dengan tali yang dikalungkan pada kedua bahu. Di Candi Panataran, relief kendang digambarkan hanya berselaput satu sisi dan ditabuh dengan menggunakan pemukul berujung bulat.
Jaap Kunst (1968:35-36) menyebut instrumen musik ini “dogdog”. Adanya kesamaan penyebutan kendang dalarn sumber tertulis Jawa Kuna dengan sumber tertulis di India membuktikan bahwa kontak budaya antara keduanya mencakup pula dalam bidang seni pertunjukan. Namun tidak berarti bahwa kendang Jawa merupakan pengaruh kendang India.
Berdasarkan akar kata mrd, maka kata mredangga dalam prasasti mungkin sekali adalah kendang yang dibuat dari tanah liat. Dalam perkembangan kemudian di Jawa, kata mredangga menjadi pradangga dalam bahasa Jawa Baru, yang berarti penabuh gamelan atau niyaga. Perubahan seperti ini terdapat juga pada kata kamsa atau kangsa yang berarti perunggu, yang kemudian di Jawa berubah menjadi gangsa yang berarti gamelan. Oleh karena itu, pendapat yang mengatakan bahwa kata gangsan berasal dari kata gasa sebagai kata singkatan (akronim) dari kata tiga + sedasa atau tembaga + rejasa, tidak berdasarkan pada hasil penelitian yang valid (Haryono, 2002; 2004:48).
Penelitian metalurgis perunggu atas dasar komposisi unsur bahan, juga tidak membuktikan adanya komposisi tiga berbanding sedasa (3:10). Hasil penelitian komposisi unsur pada gamelan buatan dari Papringan (Yogyakarta) = Cu 52,87% : Sn 34,82% : Zn 12,55% ; dari Bekonang (Surakarta) = Cu 48,80% : Sn 39,88% : Zn 10,86%; dan dari Kauman (Magetan) = Cu 51,00% : Sn 40,26% : Zn 8,39%. Cu adalah tembaga, Sn untuk timah putih, dan Zn untuk seng. Jelaslah bahwa komposisi tersebut tidak menggambarkan perbandingan 3 (tiga) : 10 (sedasa) seperti pendapat pada umumnya (Haryono, 2004:51-52).
Istilah gangsa yang berarti gamelan sudah digunakan pada abad ke-12 Masehi seperti dijumpai dalam kitab Smaradahana (pupuh XXIX:8): "ginding daityaddhipati ya ta tinabih kendang, gong, gangsa, gubar asahuran...” artinya gending dari Sang Raja Raksasa dibunyikan, kendang, gong, gangsa, dan gubar bersahut-sahutan (Poerbatjaraka, 1951; Sedyawati, 1985:236). Dalam gamelan sekarang yang disebut gambang gangsa adalah jenis gambang yang dibuat dari bahan logam (perunggu atau kuningan).
Jenis instrumen membranofon lainnya adalah “bedug” dan “trebang”. Istilah bedug dijumpai pada kitab yang lebih muda yakni Kidung Malat. Dalam Kakawin Hariwangsa, Ghatotkacasraya, dan Kidung Harsawijaya, instrumen sejenis disebut “tipakan”. Selain itu, ada istilah “tabang-tabang” dalam kitab Ghatotkacasraya dan kitab Sumanasantaka, yang mungkin kemudian berkembang menjadi istilah “tribang”. Kutipan teks berikut: "ginding sri saha damya-damyan anameni kidung miring ing tabang tabang" (Gatotkacasraya, 37:7); "tabang-tabang ramya karingwangsulan". Jika ini benar, berarti apa yang kita sebut trebang maupun bedhug bukan instrumen musik yang munculnya setelah datangnya kebudayaan Islam melainkan telah ada sejak abad ke-12 M (Zoetmulder, 1983: 317-395).

2. Kelompok Ideofon (Ghana Vadhya)
Instrumen musik kelompok ini adalah jenis instrumen musik yang sumber bunyinya berasal dari “badan” alat musik itu sendiri; dan oleh para ahli musik digolongkan sebagai alat musik yang tertua jika dibandingkan dengan jenis yang lain (Ferdinandus, 1999). Beberapa di antara instrumen musik jenis ini yang dapat dijumpai dalam prasasti dan kitab sastra, yaitu tuwung, kangsi, rigang, curing, rojeh, brikuk, bungkuk, kamanak, gambang, calung, salunding, barung, ganding, dan gong.
Prasasti-prasasti masa Jawa Tengah (abad ke-9 Masehi) banyak menyebut istilah “curing”, “regang”, “tuwung”, “brikuk”. Curing dan tuwung merupakan jenis simbal. Curing barangkali sejenis simbal yang dibuat dari logam. Dalam Prasasti Kuti tahun 762 Saka (840 M) disebutkan: "Mangkana yan pamuja mangungkunga curing..." (adapun jika mengadakan pemujaan, supaya menabuh curing). Kata “mangungkunga” dalam bahasa Jawa Baru sekarang masih dapat dijumpai sebagai tiruan bunyi gamelan “ngungkung”. Jenis instrumen gamelan curing ini sangat populer pada masa Jawa Kuna; terbukti banyak disebutkan dalam Prasasti Penetapan Sima (abad ke-9 hingga ke-12 M). Dari prasasti tersebut dapat disimpulkan bahwa perlengkapan gamelan dibunyikan dalam konteks ritual (upacara pemujaan).
Menurut Jaap Kunst (1968:52), curing dan tuwung adalah alat musik yang sama sejenis kicer. Nama celuring sekarang ada pada gamelan di keraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman. Mungkin celuring berasal dari kata curing yang mendapat sisipan “el” untuk menyatakan kata jamak. Bila demikian maka gambaran bentuk curing pada masa Jawa Kuna sama seperti celuring sekarang. Sementara itu, di beberapa kitab sastra disebutkan jenis instrumen gamelan “rojeh” seperti dalam kitab Hariwangsa, Kresnayana, Sumanasantaka, Siwaratrikalpa, dan Kidung Harsawijaya. Instrumen gamelan ini ditafsirkan sejenis simbal. Demikian pula istilah “baribit” disebut sebagai nama jenis instrumen gamelan dalam Ramayana.
Nama “brikuk” sebagai nama instrumen gamelan dijumpai dalam Prasasti Panggumulan tahun 902 M dan pada Prasasti Lintakan 919 M. Sedangkan dalam Prasasti Paradah tahun 943 M dijumpai istilah “bungkuk”. Dalam gamelan sekarang ini ada nama “ketuk”. Istilah ketuk telah ada pada zaman Kadiri sebagaimana disebut dalam Hariwangsa karya Mpu Panuluh. Dalam kitab tersebut diceritakan suasana keindahan alam ketika Rukmini dan Kresna dalam sebuah perjalanan yang diibaratkan sebagai pertunjukan wayang, diiringi gamelan: salunding, kituk, dan talutak.
Uraian tersebut sekaligus menggambarkan bahwa pertunjukan wayang abad ke-12 diiringi ansambel gamelan yang masih sederhana. Mungkinkah brikuk dan bungkuk adalah instrumen pencon seperti ketuk dan kenong sekarang? Menurut J. Kunst (1968:63), baik brikuk maupun bungkuk adalah penyebutan yang sama untuk satu jenis instrumen. Mungkin sekali brikuk, bungkuk, dan kituk adalah bentuk instumen gamelan yang sejenis. Bentuk instrumen gamelan pencu dipahatkan pada candi-candi masa Jawa Timur abad ke-14 Masehi dan sesudahnya seperti Candi Panataran, Candi Sukuh, dan Candi Ngrimbi.
Relief instrumen gamelan berpencu di Panataran maupun Candi Ngrimbi barangkali dapat dinamakan “reyong”. Instrumen ini dibunyikan dengan tongkat pendek dipegang dengan lengan kanan dan kiri. Susunannya yang banyak dalam satu rancak kemudian menjadi “bonang”. Kalau susunannya sedikit, masing-masing dalam satu rancak dinamakan “kenong”. Dalam sumber tertulis, istilah reyong dijumpai dalam Pararaton. Dalam sumber tertulis yang lebih tua, yakni Prasasti Polengan I, tahun 870 Masehi disebut istilah “makajar” yang berarti pemain kajar. Kajar adalah sejenis instrumen musik pencu.
Gong adalah jenis instrumen gamelan yang sangat penting pula. Dalam bentuk relief, sumber tertua dapat dilihat pada relief cerita Arjunawiwaha di Gua Selamangleng, Tulungagung, dari abad ke-11 M (Bernet Kempers, 1959: 87). Kemudian digambarkan pada relief cerita Bhomantaka di Candi Kedaton, dan relief Ramayana di Candi Panataran (abad ke-14 M). Hal ini tidak berarti bahwa gong belum dikenal sebelum abad ke-11.
Dalam Ramayana Jawa Kuna yang berasal dari abad ke-9 Masehi telah disebut-sebut “gong” (Poerbatjaraka, 1926: 265-272). Dalam berita Cina dari dinasti Tang (618-906 M) disebutkan bahwa “jika raja Poli keluar kota, ia mengendarai kereta yang ditarik oleh gajah dan diiringi musik yang terdiri dari gong, kendang, dan terompet” (Haryono, 2001). Tampaknya instrumen gamelan tersebut sampai sekarang tetap bernama gong pada abad ke-9 Masehi sebagai instrumen gamelan yang penggunaannya terbatas di keraton, sehingga oleh Kunst dikatakan sebagai “royal instrument” (Kunst, 1968:66). Lagi pula, ditinjau dari teknik pembuatan, gong memerlukan teknik lebih rumit dan bahan yang lebih mahal sehingga tidak setiap kelompok masyarakat dapat memiliki.
Istilah gong dalam hal ini digunakan untuk menyebut gong ukuran besar (gong gedhe); sedangkan untuk ukuran yang lebih kecil mungkin ada istilah lain seperti: gubar, bendhe, bheri. Istilah gong juga dipakai untuk mewakili seluruh ansambel gamelan. Masyarakat Jawa mengatakan bahwa kalau punya hajatan akan nggantung gong berarti akan menyelenggarakan klenengan.
Dalam kitab Bharatayuddha disebutkan gending, gong, dan gubar dalam satu kelompok. Sangat menarik bahwa dalam Kidung Wangbang Wideya (dari masa Kadiri) yang berisi cerita Panji disebutkan jenis gong dengan istilah “gong Bentar Kadatwan”, bersama-sama dengan gamelan yang lain yakni curing dan gong, yang dibunyikan untuk mengiringi pertunjukan wayang (Robson, 1977). Adapun “gubar” ditafsirkan sebagai sejenis gong ukuran sedang. Dalam Bharatayuddha, gubar disebut bersama-sama dengan sangkha dan saragi, dibunyikan oleh prajurit dalam peperangan. Dalam konteks “gubar saragi”, berarti istilah saragi dapat juga berarti sejenis gong. Di Ternate kata saragi berarti gong (Haryono, 2001:107).
Gambang disebutkan dalam sumber tertulis Kitab Malat, dan menurut berita Cina masa Dinasti Song (966-1279 M), dikatakan bahwa pada masa pemerintahan Raja Jayabhaya dari Kadiri masyarakat Jawa telah dapat bermain seruling, kendang, dan xylophone (gambang) dari kayu (Groeneveldt, 1960:17). Dalam sumber-sumber tertulis yang lain seperti kitab Sumanasantaka, Prasasti Buwahan abad ke-11 M, Prasasti Pura Kehen (abad ke-12 M) disebut istilah “calung” dan istilah “galunggang” dan “garantung” dalam sumber yang lain. Istilah “gender” mulai disebut pada zaman Kadiri yakni dalam Kidung Wangbang Wideya yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang bersama dengan ridip dan gong. Instrumen gamelan yang terdiri atas bilah-bilah (wilahan) yang dirangkai telah ada pada masa Candi Borobudur. Relief seperti tersebut juga dapat dilihat pada candi yang lebih muda yakni Candi Panataran. Bila gambang sudah dikenal, seharusnya jenis saron juga sudah dikenal.
Barangkali relief yang dipahatkan pada Candi Borobudur menggambarkan saron, bukan gambang. Istilah “saron” baru ditemukan dalarn sumber tertulis setelah abad ke-15 M (kitab Arjunapralabda). Dalam sumber tertulis, ada istilah “barung” yang ditafsirkan sebagai saron (Juynboll, 1923:401). Dalam kitab Bharatayuddha, Gahtotkacasraya, dan Hariwangsa serta beberapa prasasti Bali kuno abad ke 12 Masehi dijumpai istilah “salunding”. Gamelan salunding sampai sekarang masih dapat dijumpai di Bali.
Instrumen gamelan berikutnya yang cukup tua keberadaannya adalah “kemanak”. Dalam kakawin Bharatayuddha, kitab Calon Arang, disebutkan kamanak bersama-sama dengan kangsi. Bahkan dalam kitab Calon Arang dikatakan bahwa kamanak dan kangsi dipakai untuk mengiringi tarian sakral yang dilakukan oleh Calon Arang dan murid-muridnya.

3. Kelompok Aerofon (Sushira Vadya)
Jenis instrumen yang termasuk kelompok ini adalah gamelan yang sumber bunyinya adalah udara yang ditiup. Pada ansambel gamelan Jawa sekarang, seruling merupakan kelengkapan dalam gamelan klenengan atau uyon-uyon. Dalam kitab Natya Sastra, seruling (suling) disebut dengan istilah “vamsa” yang artinya bambu dan dibunyikan bersama-sama dengan “vino” (wina). Bukti piktorial keberadaan suling pada masa Jawa kuno dapat dilihat pada relief Candi Borobudur pada relief Karmawibhangga, relief Jataka, dan Lalitawistara, dan terdapat juga pada relief di Candi Jago dan Candi Panataran.
Berdasarkan data relief tersebut dapat dibedakan dua macam seruling, yaitu seruling melintang (suling miring) dan seruling membujur (vertikal). Dalam sumber tertulis, seruling disebut dalam kitab Ramayana Jawa Kuna dengan istilah “bangsi” dan dibunyikan bersama-sama dengan instrumen rawandsta. Kata bangsi atau wangsi sangat boleh jadi berasal dari kata yang sama Sanskerta “vamsa”. Dalam kitab yang lebih muda yakni Writtasancaya karya Mpu Tanakung seruling disebut “suling”. Kitab Ramayana Jawa Kuna juga menyebutkan istilah suling. Demikian pula di Bali, dalam prasasti Batur Pura Abang A tahun 1011 Masehi disebut suling. Ini berarti bahwa sejak abad ke-11 suling telah masuk dalam kelengkapan gamelan.
Selain seruling dalam sumber tertulis maupun relief ada alat musik tiup, yakni terompet yang disebut “sangkha”. Sangkha adalah kerang laut dan sebagai alat musik tiup telah lama digunakan di India. Dalam ikonografi Hindu, sangkha merupakan atribut Dewa Wisnu, Kresna. Dalam relief Ramayana di Candi Brahma (Prambanan), sangkha ditiup untuk membangunkan Kumbakarna (adik Rahwana) yang tidur. Dalam Nagarakretagama disebutkan “gumang kahala sangka lan padaha ganjuran....” (gemuruh suara kahala sangka dan kendang, ganjuran) (pupuh 65:1). Dalam Ramayana, sangka disebut dengan “kalasangkha”; dan dalam kitab Wirataparwa disebut “sangkhakahala” (Kunst, 1968). Istilah “kahala sangka” dan “sangkha kahala” sekarang menjadi “sangkakala”; sedangkan “ganjuran” sebagai instrumen gamelan barangkali sejenis genderang (?). Istilah gamelan Kala Ganjur sekarang ini berasal dari kata “kahala” dan “ganjur”, istilah yang telah ada sejak zaman Majapahit. Jenis terompet yang lain adalah “pereret” sebagaimana disebut dalam Kidung Rangga Lawe.

4. Kelompok Kordofon (Tata Vadya)
Instrumen gamelan yang termasuk dalam kelompok ini pada gamelan Jawa sekarang disebut dengan istilah siter, celempung, dan rebab. Istilah “celempung” pertama kali dijumpai dalam sumber tertulis Hikayat Cekelwanengpati. Pada relief di Candi Jago dilukiskan gambar seseorang yang sedang memainkan celempung. Dalam Kidung Wangbang Wideya disebut instrumen gamelan “samepa” dan gamelan ini ditafsirkan sebagai “rebab” (Kunst, 1968). Sementara itu “kachapi” disebutkan dalam Kidung Hausa Wijaya bersama-sama dengan gamelan lainnya yakni: gong, ridip, dan ginding.
Prasasti-prasasti Jawa Kuna menyebutkan istilah “wina”, “rawanahasta”, dan “panday rawanahasta”. Kata rawanahasta berarti “tangan rawana” dan “panday rawanahasta” berarti “tukang membuat rawanahasta”. Rawanahasta ditafsirkan sebagai instrumen gamelan berdawal sejenis lute yang berbentuk seperti tangan (Kunst, 1968; Sarkar, 1972). Kitab Ramayana Jawa Kuna menyebutkan: “makinara” dan “malawuwina”. Lawuwina artinya wina yang berbentuk seperti buah labu. Harpa tampaknya telah digunakan pada masa lampau seperti terlihat pada relief di Candi Borobudur dan di pemandian Jalatunda (Jawa Timur). Demikian pula ada beberapa arca logam yang yang ditemukan di Nganjuk dan Suracala (Yogyakarta) yang menggambarkan dewi memegang alat musik petik.

Disarikan dari tulisan Prof. Dr. Timbul Haryono, M.Sc. (K.R.A. Haryono Hadiningrat), budayawan Jawa, Guru Besar dalam Ilmu Arkeologi pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Anggota Dewan Pakar Lembaga Studi Jawa Sekar Jagad; dimuat di Majalah Sasmita edisi I tahun 2007
*dikutip dari http://www.wacananusantara.org/2/313/gamelan-dalam-artefak-budaya

Filosofi Rumah Tradisional Jawa

Filosofi Rumah Tradisional Jawa*
Bangunan tradisi atau rumah adat merupakan salah satu wujud budaya yang bersifat konkret. Dalam kontruksinya, setiap bagian/ruang dalam rumah adat sarat dengan nilai dan norma yang berlaku pada masyarakat pemilik kebudayaan tersebut. Begitu juga dengan rumah tradisi Jawa. Konstruksi bangunan yang khas dengan fungsi setiap bagian yang berbeda satu sama lain mengandung unsur filosofis yang yang sarat dengan nilai-nilai religi, kepercayaan, norma dan nilai budaya adat etnis Jawa. Selain itu, rumah tradisi Jawa memiliki makna historis yang perlu dipelihara dan dilestarikan.

Akibat perubahan masyarakat dewasa ini, tradisi-tradisi lama cenderung ditinggalkan. Hal ini terjadi akibat perubahan pola pikir yang didukung oleh perubahan sosial dan lingkungan masyarakat. Begitu pula dengan rumah tradisi yang semakin jarang ditemukan. Di perkotaan pada umumnya, masyarakat lebih nyaman membangun rumah dengan konsep modern atau tinggal di perumahan dan apartemen. Tidak hanya di kota, masyarakat pedesaan pun mulai merubah tempat tinggalnya menjadi bangunan modern.

Perubahan tersebut tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan saat ini. Maka tidak mengherankan apabila generasi muda etnis Jawa sendiri tidak mengenal secara mendalam tentang rumah adat Jawa. Selain sulit untuk menemukan rumah tersebut di lingkungan tempat tinggalnya, sedikit sekali sumber informasi yang bisa mereka peroleh. Banyak bangunan bernilai historis berarsitektur Jawa maupun etnis lain yang tidak terpelihara atau bahkan dibongkar karena tidak dapat difungsikan lagi dan diganti dengan gedung/bangunan modern.

Rumah tradisi Jawa masih bisa ditemukan pada Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta. berciri tropis sebagai upaya penyesuaian terhadap kondisi lingkungan yang beriklim tropis. Salah satu bentuk penyesuaian terhadap kondisi tersebut dengan membuat teras depan yang luas, terlindung dari panas matahari oleh atap gantung yang lebar, mengembang ke segala sudut yang terdapat pada atap joglo (Indrani, 2005: 47). Menurut Rahmanu Widayat (2004: 2) Rumah tradisi Jawa yang bentuknya beraneka ragam mempunyai pembagian ruang yang khas yaitu terdiri dari pendopo, pringgitan, dan dalem.

Terjadi penerapan prinsip hirarki dalam pola penataan ruangnya. Setiap ruangan memiliki perbedaan nilai, ruang bagian depan bersifat umum (publik) dan bagian belakang bersifat khusus (pribadi/privat). Uniknya, setiap ruangan dari bagian teras, pendopo sampai bagian belakang (pawon dan pekiwan) tidak hanya memiliki fungsi tetapi juga sarat dengan unsur filosofi hidup etnis Jawa. Unsur religi/kepercayaan terhadap dewa diwujudkan dengan ruang pemujaan terhadap Dewi Sri (Dewi kesuburan dan kebahagiaan rumah tangga) sesuai dengan mata pencaharian masyarakat Jawa (petani-agraris). Ruang tersebut disebut krobongan, yaitu kamar yang selalu kosong, namun lengkap dengan ranjang, kasur, bantal, dan guling dan bisa juga digunakan untuk malam pertama bagi pengantin baru (Widayat, 2004: 7). Krobongan merupakan ruang khusus yang dibuat sebagai penghormatan terhadap Dewi Sri yang dianggap sangat berperan dalam semua sendi kehidupan masyarakat Jawa.

Rumah tradisi Jawa banyak mempengaruhi rumah tradisi lainnya, diantaranya rumah abu (bangunan yang didirikan oleh keluarga semarga dan digunakan sebagai rumah sembahyang dan rumah tinggal untuk menghormati leluhur etnis Cina). Oleh karena itu, struktur rumah abu memiliki banyak persamaan dengan rumah tradisi Jawa dalam berbagai segi.

Tulisan ini akan mengungkap konstruksi rumah tradisi Jawa secara fisik dan meninjaunya dari segi filosofis masyarakat Jawa. Bangunan atau rumah tradisi tidak hanya dibangun sebagai tempat tinggal tetapi juga diharapkan membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi penghuninya melalui pernggabungan unsur makrokosmos dan mikrokosmos di dalam rumah tersebut. Dengan demikian diharapkan keseimbangan hidup tercapai dan membawa dampak positif bagi penghuninya. Mendalami unsur filosofi dalam rumah tradisi Jawa membuka kemungkinan usaha generasi muda sebagai pewaris kebudayaan di masa yang akan datang untuk memelihara dan melestarikan warisan generasi pendahulunya.

Konstruksi Rumah Tradisi Jawa
Rumah tradisi Jawa mengalami beberapa fase perubahan yang panjang. Salah satunya adalah bangunan rumah Jawa yang terdapat pada relief-relief Candi Borobudur berbentuk rumah panggung (Widayat, 2004: 4).

Teras dan Pendopo
Di bagian depan, rumah tradisi Jawa memiliki teras yang tidak memiliki atap dan pendopo (pendhapa) yaitu bagian depan rumah yang terbuka dengan empat tiang (saka guru) yang merupakan tempat tuan rumah menyambut dan menerima tamu-tamunya. Bentuk pendopoumumnya persegi, di mana denah berbentuk segi empat selalu diletakkan dengan sisi panjang ke arah kanan-kiri rumah sehingga tidak memanjang ke arah dalam tetapi melebar ke samping (Indrani, 2005: 7).

Pendopopada rumah Jawa terbuka tanpa pembatas pada keempat sisinya, hal ini melambangkan sikap keterbukaan pemilik rumah terhadap siapa saja yang datang. Pendopobiasanya dibangun lebih tinggi dari halaman, ini dimaksudkan untuk memudahkan penghuni menerima tamu, bercakap-cakap sambil duduk bersila di lantai beralas tikar sesuai tradisi masyarakat Jawa yang mencerminkan suasana akrab dan rukun.

Bentuk salah satu ruang dalam rumah tradisi Jawa tersebut memperlihatkan adanya konsep filosofis tentang makna ruang yang dalam dimana keberadaan pendoposebagai perwujudan konsep kerukunan dalam gaya hidup masyarakat Jawa. Pendopotidak hanya sekedar sebuah tempat tetapi mempunyai makna filosofis yang lebih mendalam, yaitu sebagai tempat untuk mengaktualisasi suatu bentuk/konsep kerukunan antara penghuni dengan kerabat dan masyarakat sekitarnya (Hidayatun, 1999:7). Pendopo merupakan aplikasi sebuah ruang publik dalam masyarakat Jawa.

Pringgitan
Ruang yang masih berfungsi sebagai ruang publik adalah ruang peralihan dari pendopomenuju ke dalem ageng disebut pringgitan, yang juga berfungsi sebagai tempat mengadakan pertunjukan wayang kulit pada acara-acara tertentu. Pringgitanmemiliki makna konseptual yaitu tempat untuk memperlihatkan diri sebagai simbolisasi dari pemilik rumah bahwa dirinya hanya merupakan bayang-bayang atau wayang dari Dewi Sri (dewi padi) yang merupakan sumber segala kehidupan, kesuburan, dan kebahagiaan (Hidayatun, 1999:39). Menurut Rahmanu Widayat (2004: 5), pringgitan adalah ruang antara pendhapa dan dalem sebagai tempat untuk pertunjukan wayang (ringgit), yaitu pertunjukan yang berhubungan dengan upacara ruwatan untuk anak sukerta (anak yang menjadi mangsa Bathara Kala, dewa raksasa yang maha hebat).

Dalem Ageng
Semakin masuk ke bagian dalam rumah tradisi Jawa, semakin menunjukkan hirarki dalam pola penataan ruangnya. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, semakin masuk ke bagian belakang ruangan tersebut bersifat khusus (pribadi/privat). Bagian dalam dari rumah tradisi Jawa disebut dalem ageng. Ruangan ini berbentuk persegi yang dikelilingi oleh dinding pada keempat sisinya. Dalem ageng merupakan bagian terpenting dalam rumah tradisi Jawa sebab di dalamya terdapat tiga senthong atau tiga kamar. Tiga senthong tersebut dinamakan senthong kiwa, senthong tengah dan senthong tengen. Senthong tengah dinamakan juga krobongan yaitu tempat untuk menyimpan pusaka dan tempat pemujaan terhadap Dewi Sri. Senthong tengah atau krobongan merupakan tempat paling suci/privat bagi penghuninya. Sedangkan senthong kiwa dan senthong tengen berfungsi sebagai ruang tidur anggota keluarga. Senthong kiwa merupakan ruang tidur anggota keluarga laki-laki dan senthong tengen berfungsi sebagai ruang tidur anggota keluarga perempuan.

1. Pendhapa
2. Pringgitan
3. Dalem
a. Senthong kiwo
b. Senthong tengah
c. Senthong tengen
4. Gandhok dan pawon.

Krobongan
Kepercayaan masyarakat Jawa terhadap Dewi Sri tidak lepas dari kehidupan mereka yang agraris. Dewi Sri merupakan dewi kesuburan yang berperan penting dalam menentukan kesejahteraan masyarakat agraris (para petani). Agar dalam berusaha lancar maka perlu menyediakan tempat yang khusus di rumahnya untuk menghormati Sang Tani. Y.B. Mangunwijaya (1992 : 108) menjelaskan yang dimaksud dengan Sang Tani adalah bukan manusia si petani pemilik rumah, melainkan para dewata, atau tegasnya Dewi Sri.

Di dalam dalem atau krobongan disimpan harta pusaka yang bermakna gaib serta padi hasil panen pertama, Dewi Sri juga dianggap sebagai pemilik dan nyonya rumah yang sebenarnya. Di dalam krobongan terdapat ranjang, kasur, bantal, dan guling, adalah kamar malam pertama bagi para pengantin baru, hal ini dimaknai sebagai peristiwa kosmis penyatuan Dewa Kamajaya dengan Dewi Kama Ratih yakni dewa-dewi cinta asmara perkawinan(Mangunwijaya, 1992: 108). Di dalam rumah tradisi Jawa bangsawan Yogyakarta, senthong tengah atau krobongan berisi bermacam-macam benda-benda lambang (perlengkapan) yang mempunyai kesatuan arti yang sakral (suci). Macam-macam benda lambang itu berbeda dengan benda-benda lambang petani. Namun keduanya mempunyai arti lambang kesuburan, kebahagiaan rumah tangga yang perwujudannya adalah Dewi Sri (Wibowo dkk., 1987 : 63).

Gandhok dan Pawon
Ruangan di bagian belakang dinamakan gandhok yang memanjang di sebelah kiri dan kanan pringgitan dan dalem. Juga terdapat pawon yang berfungsi seagai dapur dan pekiwan sebagai wc/toilet. Ruangan-ruangan tersebut terpisah dari ruangan-ruangan utama, apalagi dari ruangan yang bersifat sakral/suci bagi penghuninya.

Pola organisasi ruang dalam rumah tradisi Jawa dibuat berdasarkan tingkatan atau nilai masing-masing ruang yang terurut mulai dari area publik menuju area private atau sakral. Pembagian ruang simetris dan menganut pola closed ended plan yaitu simetris keseimbangan yang berhenti dalam suatu ruang, yaitu senthong tengah (Indrani, 2005: 11).

Dewi Sri dalam Krobongan Rumah Tradisi Jawa

Dewi Sri sangat akrab dengan masyarakat agraris Jawa. Bagi mereka, Dewi Sri merupakan icon sekaligus tokoh penting yang sangat berperan dalam menentukan hasil panennya nanti. Maka tidak aneh apabila di rumah pribadi mereka, terdapat tempat khusus yang digunakan sebagai tempat pemujaan terhdapa Dewi Sri. Selain itu, Dewi Sri juga dikenal sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan rumah tangga.

Dewi Sri dalam buku Sejarah Wayang Purwa (Hardjowirogo, 1982 : 72) dijelaskan Dewi Sri adalah putri Prabu Srimahapunggung dari negara Medangkamulan. Dewi Sri bersaudara laki-laki yang bernama Raden Sadana.

Gambar 2. Penggambaran Dewi Sri dalam 
Wayang Purwa (http://img181.exs.cx/img181/9018/shinta8tl.jpg).

Dewi Sri meninggalkan Medangkamulan untuk menyusul saudaranya yang menolak untuk dikawinkan. Ia mendapat berbagai cobaan dalam perjalanannya. Seorang raksasa terus menggodanya. Setelah itu ia dikutuk menjadi ular sawah oleh ayahnya namun kemudian ia berhasil kembali menjadi Dewi Sri seperti semula. Selama perjalanan, Dewi Sri banyak mendapat pengalaman yang berhubungan dengan pertanian.

Menurut Lombard (1996: 82), walaupun mitos Dewi Sri berasal dari India namun di beberapa pulau di Nusantara yang tidak tersentuh pengaruh India pun mengenal sosok Dewi Sri sebagai Dewi Kesuburan. Ceritanya pun hampir sama, yaitu Dewi Sri yang dikorbankan lalu dari seluruh bagian tubuhnya tumbuh berbagai tanaman budidaya yang utama seperti padi. Mitos tersebut sangat kental dengan pengaruh Hindu. Hal ini bisa saja terjadi akibat adanya asimilasi antara paham animisme dan Hindu. Hasilnya muncul seorang tokoh simbolik kaum petani Jawa, yang melindungi tanaman padinya terhadap gangguan-gangguan hama tanaman padi, yang dianggap berasal dari para lelembut atau jin mrekayangan (Widayat, 2004: 10). Berbagai cerita padi muncul di Jawa sebelum datangnya pengaruh Hindu dan ada kemungkinan cerita tersebut setelah datangnya paham Hindu diubah dan disesuaikan dengan ajaran Hindu.

Penghormatan terhadap Dewi Sri juga dilakukan dalam upacara-upacara adat. Salah satunya adalah upacara bersih desa. Dalam upacara tersebut digelar pertunjukan wayang kulit dengan lakon berjudul Srimantun yang menggambarkan reinkarnasi Dewi Sri sebagai Dewi Kemakmuran dan anugerah dari dewata terhadap negara agar menjadi negara yang mekmur dan sejahtera serta tidak kekuarangan apapun. Untuk upacara bersih desa biasanya dipersembahkan sesajian yang diletakkan di dekat sawah antara lain terdiri atas :
1. Kelapa muda
2. Nasi dan telur ayam (puncak manik )
3. Rujak manis (pisang, asam)
4. Ketupat
5. Lepet
6. Cermin
7. Minyak kelapa
8. Minyak wangi
(Widayat, 2004: 13).

Krobongan sebagai ruangan khusus sebagai bentuk penghormatan terhadap Dewi Sri memiliki makna yang terdapat pada setiap benda yang ada di dalamnya.
a. Padi; Dewi Sri merupakan Dewi Kesuburan dan dilambangkan oleh apdi di dalam krobongan.
b. Patung Loro-Blonyo; patung mempelai pria dan wanita adat Jawa ini diletakkan di depan krobongan yang melambangkan kegahagiaan suami istri dan lambang kesuburan.
c. Pusaka/keris; pusaka/keris yang merupakan benda suci maka akan diletakkan di tempat suci pula seperti krobongan.
d. Kain Cindai/patola India; penutup tempat tidur dan bantal serta guling di dalam krobongan merupakan kain cindai/patola India. Karena memiliki pola yang sarat dengan makna Hindu (pola jlamprang dan cakra-senjata Dewa Wisnu dan delapan tataran yoga)maka kain ini dianggap memiliki kesaktian dan keberadaannya pun dikeramatkan.
e. Hiasan Naga; hiasan naga pada krobongan muncul setelah mendapat pengaruh Hindu. Cerita Amertamanthana (dalam cerita Mahabarata) yang menceritakan sewaktu ular Basuki melilit pada pinggang gunung Mandara yang membantu untuk keluarnya air amerta (abadi) yang dibutuhkan para dewa untuk diminum (Wibowo dkk., 1987 : 157). Sebelum datangnya Hindu ke Nusantara (zaman Neolitikum), dunia dianggap memiliki dua bagian yaitu dunia atas dan dunia bawah yang memiliki sifat-sifat bertentangan. Dunia atas dilambangkan dengan matahari, terang, atas, rajawali, kuda sedangkan dunia bawah dilambangkan dnegan gelap, bumi, bulan, gelap, air, ular, kura-kura, buaya (Soegeng, 1957 : 11). Berdasarkan kepercayaan neolitikum dan cerita Mahabarata, ular selalu dikaitkan dengan air Makna hiasan ular pada krobongan merupakan simbol agar dalam bertani tidak akan kekurangan air (Widayat, 2004: 17).
f. Hiasan Burung Garuda; hiasan garuda pada krobongan merupakan simbol penyeimbang dari hiasan naga atau ular yang melmbangkan dunia bawah, maka garuda melambangkan dunia atas. Selain itu, burung garuda mengingaktkan pada cerita Gurudeya. Burung garuda yang merupakan anak Winata menyelamatkan ibunya dari perbudakan dan menjadikan para dewa tidak mati. Dalam cerita tersebut, burung garuda menjadi sosok pemberantas kejahatan, dan hal inilah yang diharapkan sehingga hiasan burung garuda diletakkan pada krobongan (Widayat, 2004: 17).

Simpulan
Rumah tradisi Jawa memiliki beberapa ruangan yang simetris dan terdapat hirarki ruang di dalamnya. Dari luar terdapat ruang publik yang besifat umum, semakin ke dalam ruangan yang ada bersifat pribadi (private). Bagian luar yang disebut teras merupakan ruangan terbuka tanpa atap. Teras juga merupakan ruang publik sebagai area peralihan dari luar ke dalam rumah.

Ruangan selanjutnya yaitu Pendopo yang masih berfungsi sebagai ruang publik, di ruangan inilah biasanya tuan rumah menerima tamu-tamunya. Pendopo memiliki bentuk ruangan persegi dan memiliki empat tiang (soko guru) yang terdapat di tengah-tengah pendopo. Ruangan ini tidak memiliki pembatas pada keempat sisinya, hal ini melambangkan keterbukaan pemiliknya terhadap siapa saja yang datang. Pendopo menggambarkan gaya hidup masyarakat Jawa yang rukun.

Pringgitan merupakan ruang peralihan antara area publik dan privat, yaitu terletak diantara pendopo dan dalem ageng. Pringgitan juga berfungsi sebagai tempat pertunjukan wayang kulit apabila ada acara khitanan, ruwatan, perkawinan, dsb. Ruangan yang disebut dalem ageng merupakan ruang privat (pribadi), salah satu fungsinya sebagai ruang berkumpulnya seluruh anggota keluarga. Bentuk ruangan ini persegi dengan dilingkupi dinding pada setiap sisinya. Di dalam ruangan dalem ageng terdapat tiga petak ruangan yang berukuran sama besar disebut senthong. Senthong kiwa dan senthong tengen di sisi kanan dan kiri merupakan tempat tidur anggota keluarga pria dan wanita, sedangkan senthong tengah merupakan senthong paling sakral/suci. Senthong tengah atau krobongan merupakan tempat pemujaan kepada Dewi Sri sebagai Dewi Kesuburan dan kebahagiaan rumah tangga. Senthong tengah merupakan area paling privat (pribadi) bagi pemilik rumah tradisi Jawa.

Bagian rumah lain yang bersifat privat adalah gandhok, pawon dan pekiwan. Gandhok merupakan ruangan belakang yang memanjang di sisi dalem ageng dan pringgitan. Sedangkan pawon merupakan bangunan di belakang dalem ageng dan terletak jauh dari tempat paling suci (senthong tengah/krobongan) fungsinya sebagai dapur. Ruangan yang berfungsi sebagai wc adalah pekiwan. Ruangan-ruangan yang dianggap ‘kotor’ ini diletakkan jauh-jauh dari ruangan-ruangan utama sebelumnya, seperti dalem ageng atau krobongan sebagai tempat suci pemujaan Dewi Sri.

Krobongan sebagai tempat suci bagi para penghuni rumah tradisi Jawa erat kaitannya dengan mitos dan kepercayaan masyarakat agraris Jawa terhadap Dewi Sri. Dewi Sri yang melambangkan kesuburan dan kebahagiaan dalam rumah tangga sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa. Di ruangan sakral tersebut tersimpan benda-benda pusaka yang dipercaya memiliki kekuatan magis yang juga disertai dengan alat-alat penuh makna mistis yang dikaitkan dengan paham Hindu dan zaman neolitikum. Keberadaan krobongan dalam rumah tardisi Jawa menggambarkan dunia orang Jawa tidak dapat dipisahkan dari pemahaman tentang keseimbangan makrokosmos dan mikrokosmos. Segala sesuatunya selalu dikaitkan dengan kekuatan-kekuatan alam, sesuatu yang metafisik, sebagaimana orang Jawa memahami rumah Jawanya. Keseimbangan kosmologi tersebut dibangun diatas pemahaman yang selalu dalam bentuk dualitas, seperti adanya siang-malam, panas-dingin, utara-selatan, dan laki-laki-perempuan; selain itu juga adanya makna simbolik yang mengacu pada tiga, empat atau lima kutub.

Kepustakaan

Widayat, Rahmanu. 2004. “Krobongan Ruang Sakral Rumah Tradisi Jawa”.
Dimensi Interior, Vol. 2 No. 1, hal. 1-21.
Hedy C. Indrani dan Maria Ernawati Prasodjo. 2005. “Tipologi, Organisasi Ruang, dan Elemen Interior Rumah Abu Han di Surabaya”.
Dimensi Interior, Vol. 3 No.1, hal-44-65.
Muqoffa, Muhammad. 2005. “Mengkonstruksikan Ruang Gender pada Rumah Jawa di Surakarta dalam Perspektif Kiwari Penghuninya”. Dimensi
Interior, Vol. 33 No.2, hal. 87-93.
Hidayatun, Maria I. 1999. “Pendopo dalam Era Modernisasi: Bentuk, Fungsi, dan Makna Pendopo pada Arsitektur Jawa dalam Perubahan Kebudayaan”. Dimensi TeknikArsitektur, 27, hal. 37-46.
Wibowo, HJ. dkk. 1987. Arsitektur Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta,
Yogyakarta : Depdikbud Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
Hardjowirogo. 1982. Sejarah Wayang Purwa, Jakarta : PN. Balai Pustaka.
Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa: Silang Budaya, Warisan Kerajaan-Kerajaan
Konsentris, Jakarta : Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Singh, Lisa. 1988. Patola, Kisah Kasih sehelai Kain, Buku Cindai, Pengembaraan Kain Patola India, Jakarta : Himpunan Wastraprema.
Soegeng. 1957. Sedjarah Kesenian Indonesia , Jakarta : Fasco.


* dikutip dari http://www.wacananusantara.org/2/385/filosofi-rumah-tradisional-jawa

Jawa: Sejarah Awal

Java Indonesia History: Prehistory and Early Kingdoms
Prasejarah Jawa Indonesia dimulai sejak sekitar satu juta tahun yang lalu. Bukti dengan ditemukannya Megantrophus Paleojavanicus (manusia besar dari Jawa Kuno) di Sangiran pada 1941 oleh GHR Von Koenigswald. Sekitar 600.000 tahun yang lalu, sejak paleolitikum, Jawa Indonesia juga dihuni oleh paleojavanicus Homo erectus. Setelah era Homo erectus paleojavanicus, Jawa dihuni oleh Homo erectus soloensis. Fosil itu ditemukan di sungai Bengawan Solo, dekat Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, pada tahun 1941.

Setidaknya sejak tahun 2000 SM, pulau Jawa dihuni oleh (manusia modern) homo sapiens, sejak migrasi etnis Melayu Deutro dari Yunnan, Cina selatan. Sejak abad-abad awal, orang Jawa telah membentuk hubungan perdagangan dan budaya dengan India dan Cina. Jadi budaya asing mulai masuk, seperti budaya Hindu. Hal ini dibuktikan oleh penemuan batu monumen tertulis (prasasti) dari era tersebut, seperti batu monumen tertulis yang ditemukan di Ciaruteun, Bogor. Dari prasasti itu diketahui ada satu kerajaan bernama Tarumanagara Jawa awal (358-669 M). Purnavarman (395-434 AD) adalah raja yang paling populer.

The terracotta portrait of Gajah Mada Medang atau kerajaan Mataram adalah sebuah kerajaan Hindu-Buddha yang berkembang antara abad ke-8 dan ke-10 dalam sejarah Indonesia Jawa. Raja pertama adalah Sanjaya. Pada 750-850 Masehi, Dinasti Sailendra kemudian menjadi penguasa Mataram. Sailendra membangun Candi Borobudur yang selesai pembangunannya tahun 825, di era Samaratunga Raja. Mataram runtuh di sekitar 1045 AD karena serangan Kerajaan Sriwijaya Sumatera.

Sementara itu, di tahun-tahun 669-1579 kerajaan Sunda berkembang di Jawa Barat. Kerajaan Sunda diperintah oleh Maharaja Sri Jayabupati Wisnumurti Samarawijaya Jayamanahen Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa.

Pada 1222, Ken Arok mendirikan salah satu kerajaan Jawa awal bernama Kerajaan Singhasari (1222-1292). Dia memerintah kerajaan sampai tahun 1292. Pada 1227 Anusapati membunuh Ken Arok. Anusapati kemudian menjadi raja Singhasari. Anusapati hanya berkuasa selama 20 tahun. Ia dibunuh oleh Tohjaya. Tiga tahun kemudian, Tohjaya tewas dalam pemberontakan yang dipimpin oleh Jaya Visnuvardhana.

Tahun 1268, Jaya Visnuvardhana meninggal, ia digantikan oleh Kertanegara (1268-1292). Pada tahun 1292, Kertanegara dikalahkan oleh pemberontakan Jayakatwang , sekaligus akhir dari Kerajaan Singhasari.
Java Indonesia ancient king Pada 1294, sejarah yang paling penting dari Jawa Indonesia Kerajaan Majapahit (1293-1500) berdiri. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Wijaya. Majapahit mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Dia ditemani (perdana menteri) Gajah Mada mahapatih nya. Dengan Gajah Mada, Hayam Wuruk telah menguasai hampir seluruh wilayah Indonesia yang bernama Dwipantara. Pada 1389, Hayam Wuruk meninggal. yang Kemudian digantikan oleh Wikramawardhana.

Kedatangan Islam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dari sejarah panjang Jawa. Salah satu pembangunan pusat Islam di Jawa adalah Kesultanan Demak (1475-1548) di Jawa Tengah. Kerajaan ini di java didirikan oleh Raden Hasan. Ia kemudian berjudul Shah Akbar Al Fatah, atau lebih dikenal dengan nama Raden Patah. Pada era Trenggono (1521), Kesultanan Demak berkembang menjadi semacam negara federal dengan Islam sebagai pemersatu nya.

Selama periode ini, Samudera Pasai kerajaan di Sumatera diserang oleh Portugis. Situasi ini memaksa seorang bangsawan bernama Fatahillah untuk menjauh dari Sumatra. Dia pindah ke Demak, Jawa Tengah. Fatahillah kemudian menikah dengan adik Sultan Trenggana (1522-1548) dan diangkat sebagai Panglima Tentara Kesultanan Demak. Fatahillah kemudian menyerang dan mengambil alih kota-kota penting dari Kerajaan Sunda, termasuk Cirebon dan Banten.
Pada 1527, Sunda Kelapa (sekarang Jakarta) juga ditaklukkan oleh Fatahillah. Setelah penaklukan ini, Sunda Kelapa berganti nama menjadi Jayakarta. Sebagai sejarah Jawa Indonesia, 22 Juni 1527, sampai sekarang diperingati sebagai ulang tahun Jakarta.
Pada bulan Juli 1596, ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman tiba di Jayakarta. Meski hanya untuk perdagangan, tetapi pada akhirnya VOC Belanda atau VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) memiliki ambisi untuk menguasai daerah tersebut.
Pada 1550, Sultan Trenggana dibunuh. Setelah Sultan Trenggana wafat, ada perebutan kekuasaan. Dalam perjuangan, ada seseorang bernama Pamanahan. Pamanahan membantu Adiwijaya (Duke Surabaya) untuk memenangkan perjuangan ini. Kemudian Adiwijaya menjadi Raja yang baru (sultan) Demak. Sebagai imbalan atas bantuannya, Pamanahan diberikan wilayah Mataram (sekarang sekitar Kota Gede, Yogyakarta).

Pada 1619, pasukan Belanda di bawah komando serangan Pieters Coen, dan berhasil menguasai Jayakarta. VOC kemudian berubah Jayakarta ke Batavia.
Sementara itu, sekitar 16 abad sejarah Jawa Indonesia, berkembang Kesultanan Mataram (yang berbeda dari Kerajaan Mataram), kerajaan muslim di pusat Sejarah Indonesia Jawa. Kesultanan mencapai kemuliaan di Sultan Agung Kusumo Hanyokro era (1613-1645). Sultan Agung berhasil memperluas kerajaannya sampai seluruh wilayah Jawa Tengah, bagian dari Jawa Timur, Kalimantan, dan sebagian Jawa Barat.
Old Java Map
Sultan Agung juga serangan terhadap VOC di Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Tapi ia gagal untuk mengalahkan VOC. Mataram VOC memperlakukan Kesultanan oleh perjanjian Giyanti. Berdasarkan ketentuan perjanjian, bagian timur dari Kesultanan Mataram di Jawa Tengah diberikan kepada Paku Buwono III dengan Surakarta sebagai ibukotanya, sementara bagian barat diberikan kepada Pangeran Mangkubumi dengan ibukotanya di Yogyakarta.

Akhirnya pada tanggal 31 Desember 1799, VOC dinasionalisasi oleh pemerintah Belanda. Semua wilayah di Indonesia diambil alih oleh pemerintah Belanda di Batavia. Pada 1807, Belanda secara resmi menyatakan bahwa kepulauan Kepulauan merupakan bagian dari Kerajaan Belanda. Sebagai yang pertama Gubernur umum Wilhelm Hermann Daendles (1808-1811).
 
Terjemahan, teks asli

Raja Jawa Mengantar Revolusi

George Donald Larson, dalam: Prelude to Revolution:Palaces and Politics in Surakarta, 1912-1942 – disertasi doktor untuk ilmu sejarah di Northern Illinois University, Dekalb, Amerika Serikat, 1979 – mengungkap peranan raja-raja Jawa. Ternyata Pakubuwono X dan para bangsawan politisi Keraton Surakarta bukan hanya mendukung, tapi terjun langsung dalam kancah pergerakan nasional. Berikut ini nukilan dari disertasi tersebut.
 
BELANDA mulai menggigit Mataram dari dalam ketika kerajaan itu sedang keropos, di akhir pemerintahan Amangkurat (1645-1677). Berkat campur tangan Kompeni (VOC), dinasti itu bernapas lagi. Tapi, sebagai imbalannya, VOC berhasil memaksakan dua perjanjian penting, mengenai konsesi ekonomi dan teritorial. Selanjutnya sejarah Mataram diwarnai cakar-cakaran dalam istana, pemberontakan bangsawan dan pejabat tinggi, serta permainan Belanda dalam konsensi ekonomi dan luas teritorial. Pada tahun 1746 Pangeran Mangkubumi, saudara Susuhunan Pakubuwono II (1726-1749), membelot dan mengibarkan perang sampai tahun 1755, hingga tercapainya perjanjian Giyanti. Hasilnya, separuh daerah Mataram dan gelar Sultan Hamengku Buwono buat Mangkubumi. Pemberontakan lain pun pecah. Kali ini Raden Mas Said, keponakan Mangkubumi yang membantu Mangkubumi pada tahun-tahun awal pemberontakannya, seorang yang berwibawa dan jago perang. Hasilnya, perjanjian di Salatiga tahun 1757: R.M. Said berhak memakai gelar Pangeran Adipati Mangkunegoro, dan memperoleh 4.000 cacah dari wilayah Susuhunan Surakarta.
Terkeping-kepingnya Mataram oleh kalangan elite Jawa sempat dianggap kejadian sementara. Tapi setelah tahun 1755 muncul rasa khawatir, jangan-jangan kesatuan Mataram tidak kunjung pulih. Toh cita-cita kesatuan Mataram itu masih lekat, berkat “ramalan” Raja Jayabaya–penguasa daerah Jawa Timur dari abad ke-12. Ramalan itu menyebutkan, setelah didera penjajahan yang lama, akan tiba zaman kemerdekaan yang makmur sejahtera. Pakubuwono IV (1788-1820) terpanggil. Rencananya untuk menegakkan Surakarta dan Jawa Tengah nyaris menimbulkan perang lagi di tahun 1789 hingga 1790. Suhu panas itu baru dapat dikubur setelah Surakarta dikepung oleh pasukan Belanda. Di ekor abad ke-18 kerajaan-kerajaan Jawa semakin kehilangan pamor dan wilayahnya.
Tahun 1799 Kompeni ambruk akibat korupsi. Harta kekayaannya diambil alih oleh negeri Belanda waktu itu merupakan protektorat Prancis. Tangan kanan Napoleon, H.W. Daendels (1808-1811), dikirim ke Jawa dengan kekuasaan mutlak guna memperbaiki pemerintahan dan memperkuat pertahanan di wilayah Hindia. Ia menggebrak para penguasa pribumi. Kekuasaan mereka dikurangi. Para residen kulit putih diberi atribut kerajaan seperti payung emas dan tidak usah angkat topi untuk menghormati penguasa-penguasa pribumi. Wilayah dan penghasilan Keraton Surakarta dan Yogyakarta dipangkas. Walaupun pemerintahan Daendels pendek umurnya karena ditendang oleh Inggris, toh tangan besi Daendels ditiru oleh T.S. Raffles (1811-1816). Baru setahun berkuasa, ia sudah mencium bahwa Sultan dan Susuhunan diam-diam mengepalkan tangan. Sultan segera dicopot lalu dibuang, keratonnya dijarah. Perjanjian dengan kedua kerajaan itu diperbarui. Akibatnya, daerah dan pendapatan kerajaan menciut, administrasi pemerintahan dikontrol. Hak memiliki pasukan pun dicabut, tinggal segelintir kecil pengawal. Pemaksaan perjanjian yang mencekik itu menyalakan amarah.
Di bulan November 1815, hidung Raffles mengendus bau busuk dari Keraton Surakarta. Pemberontakan untuk memulihkan kejayaan Mataram itu dikenal dalam sejarah sebagai Perang Sepei atau Sepoy.Inggris, yang saat itu hendak meninggalkan Jawa, sengaja tidak mendakwa Susuhunan. Sebagai gantinya, salah seorang saudara Susuhunan diasingkan ke Ambon. Ketika kembali ke Jawa, Belanda bertindak lebih hati-hati. Setelah pemberontakan Pangeran Diponegoro – Perang Jawa (1825-1830), Yogyakarta yang dianggap biangnya, dikenai denda wilayah. Agar seimbang, kue Surakarta pun digigit. Banyumas dan Kedu di sebelah barat, Kediri serta Madiun di sebelah timur, lepas dari Yogyakarta dan Surakarta. Pakubuwono VI amat kecewa atas perampasan itu, lalu diam-diam pergi ke pantai Segara Kidul. Tapi ia tertangkap, ditawan atas tuduhan hendak menyulut pemberontakan, lalu dibuang ke Ambon. Setelah semua itu, sepanjang abad ke-19 Surakarta dan Yogyakarta pucat pasi.
Pada awal abad ke-20, Karesidenan Surakarta yang agraris sangat terbelakang dari kaca mata teknologi. Penduduk membengkak. Pada tahun 1905 tercatat 1.593.056 jiwa, tahun 1920 bertambah menjadi 2.049.547 jiwa, dan tahun 1930 meningkat menjadi 2.564.848 jiwa. Surakarta suram. Kekuasaan Susuhunan peot, taring pengadilan pun dirampas pemerintah Hindia Belanda. Pejabat-pejabat Belanda berkembang biak. Keadaan semacam ini membuat Susuhunan masygul dan kecewa.
Pakubuwono X
Dalam tulisan-tulisan ilmiah, peranan kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dalam gerakan nasional Indonesia kurang terungkap. Padahal, Yogyakarta melahirkan Budi Utomo (1908) sebagai partai politik yang benar-benar pertama di Indonesia. Awal 1912 di Surakarta muncul Sarekat Islam (SI) sebagai partai politik massa yang juga pertama di Indonesia. Walaupun SI dilahirkan di sebuah kerajaan Jawa, kemungkinan keterlibatan keraton dalam gerakan nasional seperti diabaikan. Bahkan beberapa sarjana menyebutkan, salah satu faktor utama perkembangan SI adalah adanya kejengkelan rakyat terhadap para bangsawan dan hukum keraton yang sudah kuno.
Arsip di Negeri Belanda menjelaskan bahwa sebenarnya pihak keraton terlibat dalam gerakan itu. Munculnya organisasi kebangsaan yang penting di kerajaan Jawa tak mengherankan. Dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Jawa, perkembangan teknologi di kerajaan itu tampak terbelakang, tapi perkembangan kebudayaannya amat pesat. J.Th. Petrus Blumberger, penulis tentang gerakan nasionalis Indonesia yang paling perseptif, mengatakan bahwa kerajaan-kerajaan itu merupakan tempat “jantung Jawa berdenyut”. Penulis lain menyebutkan bahwa, terutama sekali di daerah kerajaan, rakyat menunggu-nunggu datangnya Heru Cokro, sang juru selamat, sebagaimana telah diramalkan oleh Raja Jayabaya. Kalangan elite Jawa tahu ini. Kawula kerajaan, rakyat Jawa di daerah gubernemen (daerah Hindia Belanda), para pangeran, terutama Susuhunan, tetap dianggap sebagai poros. Setidak-tidaknya lambang semua kekuasaan di Jawa.
Kendati terpecah-pecah, daerah kerajaan masih dipandang sebagai sisa kejayaan dan kesatuan Mataram. D.A. Rinkes, asisten penasihat urusan pribumi pemerintah Hindia Belanda, menyebut cita-cita munculnya Mataram kembali tidak pernah sirna. Itulah yang memacu gerakan Sarekat Islam (1912 dan 1913), dan selanjutnya mempengaruhi pemikiran para politisi keraton sampai akhir zaman penjajahan, bahkan juga sesudah masa itu. Karena hak-hak dan statusnya dipereteli terus, para bangsawan politisi menerima gerakan nasionalis dengan simpati. Bila ada sikap amat hati-hati, itu agar mereka tidak ditangkap dan tak perlu berkubur di tempat pengasingan. Yang jelas, keraton-keraton Jawa berperan pada awal munculnya gerakan nasional di Indonesia, khusunya Keraton Surakarta dan Pakualaman.
Susuhunan Pakubuwono X di Surakarta merupakan tokoh sentral yang membingungkan. Bahkan mungkin kurang diperhitungkan oleh ke-13 orang residen dan gubernur Belanda yang ditempatkan di Surakarta sejak tahun 1893 hingga 1939. Kebanyakan orang Belanda menganggap Susuhunan lemah, tidak cakap serta patuh. Memang Pakubuwono tidak memperlihatkan sikap keras, apalagi hidupnya mewah, doyan makan enak, senang mengenakan pakalan kebesaran dengan lencana dan bintang-bintang kehormatan. Belanda juga menganggapnya percaya pada takhayul sebagaimana kawulanya percaya bahwa ia punya kekuatan gaib guna menyembuhkan orang sakit, memiliki keris dan senjata yang serba sakti. Nyatanya, dalam perkembangan selanjutnya, gambaran Susuhunan berbeda. Belanda sempat terkecoh oleh kesehatan Susuhunan.
Raja yang lahir tahun 1867 itu, dalam usia 32 tahun, menderita batu ginjal dan tidak dapat membatasi kemauannya. Belanda sudah memperhitungkan usianya dan menyiapkan pengganti yang sesuai dengan politik Hindia Belanda. Tapi ternyata ia baru wafat setelah 72 tahun. Sejalan dengan usianya, sikap dan wataknya semakin tegas. Patihnya yang amat berkuasa diganti atas perintahnya, sehingga kekuasaannya meningkat. Belanda menganggap ia kurang cakap dalam keuangan dan administrasi. Perhatiannya direbut upacara-upacara kebesaran dan politik.
Selama masa takhtanya yang panjang itu, dalam menghadapi 10 orang gubernur jenderal dan 13 residen/gubernur secara silih berganti, ia mampu menjauhkan pertentangan yang serius, bahkan tampil sebagai “teman” pemerintah Hindia Belanda. Tetapi kewibawaannya sebagai raja Jawa di mata rakyat tetap kukuh. Jelas, ini kelihaian membawa diri. “Loyatitasnya” kepada Hindia Belanda memang meragukan Kontrak politik yang ditandatanganinya ketika naik takhta sebagai Susuhunan di tahun 1893 mencantumkan syarat, ia di copot jika ingkar pada persetujuan itu. Dalam pada itu, ia pun sadar sebagai cucu Pakubuwono VI yang di tahun 1831 dibuang Belanda ke Ambon. “Ia memang setia pada pemerintah Belanda. Tapi bahkan dalan tidurnya pun hidup naluri leluhurnya, naluri nenek-moyangnya naluri raja dan prajurit Timur,” kata seorang gubernur. Petunjuk bahwa Susuhunan mempunyai kecenderungan politik dilaporkan oleh Residen Sollewijn Gelpke (1914-1918) padi atasannya. Secara teratur ia memerlukan terjemahan berita-berita penting dari De Locomotief – surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Semarang. Khususnya berita mengenai Perang Dunia I Gelpke memperoleh kesan, Susuhunan bersimpati pada Jerman sebagaimana banyak orang Indonesia, termasuk orang-orang SI.
Sementara itu, Residen L.Th. Schneider (1905-1908) berpendapat bahwa potensi subversif Susuhunan kurang diperhitungkan Schneider merupakan salah seorang yang pertama-tama memperhitungkan pengaruh perjalanan Pakubuwono X ke luar daerah Walaupun perjalanan itu secara teoretis incognito, kunjungannya ke Semarang, Surabaya, Ambarawa, dan Salatiga (antara tahu 1903 dan 1906) benar-benar dapat disebut resmi. Kunjungan itu dapat dianggap sebagai pencerminan politik Pakubuwono X, yang hendak memperluas pengaruhnya sebagai raja Jawa. Ia juga melawat ke Bali dan Lombok, serta Lampung. Peranan Susuhunan sebagai imam bagi masyarakat muslim di Surakarta, dengan gelar Panatagama – sehingga dapat dimengerti hubungannya dengan SI – diperhitungkan Belanda.
Penolakannya terhadap aktivitas misi-misi Kristen disebut-sebut sebagai fakto pesatnya perkembangan SI. Jika peranan Pakubuwono X itu dihubungkan dengan fajar nasionalisme di Asia dan semangat Pan Islamisme, Susuhunan tak boleh diremehkan. Di Surakarta, misi Kristen sulit memperoleh tanah, sekalipun untuk mendirikan rumah sakit. Akhirnya, Belanda meminta kepada Mangkunegoro, dan mendirikan rumah sakit di Jebres Golongan Islam di Laweyan, pusat orang-orang SI, sangat menentang kegiatan misi. Ketika golongan misi menerbitkan berkala dalam bahasa Jawa, Mardi Rahardjo, golongan Islam menerbitkan tandingannya, Medan Muslimin. Suasana agak memanas ketika pada tahun 1912 Pangeran Kusumodiningrat. kakak Pakubuwono X, menghadiri rapat komite anti kegiatan misi Kristen. Residen campur tangan, dan akhirnya sang pangeran menolak permintaan menjadi anggota komite. Memang tidak ada bukti keraton terlibat dalam pembentukan SI. Hubungan itu baru ada setelah terbentuknya sebuah perkumpulan saudagar batik setempat oleh R.M. Tirtoadisuryo, redaktw Medan Priyayi. Tirto telah mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia (Jakarta) tahun 1909, dan selanjutnya membentuk Sarekat Dagang Islam di Bogor tahun 1911. Di tahun 1912 ia mendirikan Sarekat Dagang Islam di Surakarta sebagai cabang perkumpulannya di Bogor. Tak lama kemudian ia mundur dari panggung, dan Haji Samanhudi, saudagar batik terkemuka di Laweyan, tampil sebagai pemimpin yang sesungguhnya.
Beberapa sarjana pengamat mengatakan, perkumpulan pribumi itu berdiri karena timbulnya persaingan dengan para pedagang Cina yang mendirikan industri batik. J.S. Furnivall, misalnya, menulis bahwa penggantian bahan kain batik buatan lokal (tenun) dengan kain impor (cambtics) sehingga para produsen batik pribumi harus membeli kain impor dari pedagang-pedagang Cina sangat menguntungkan pedagang Cina. Menurut Robert van Niel, H. Samanhudi-lah yang menundang R.M. Tirtoadisuryo, agar datang ke Surakarta untuk mendirikan perkumpulan dagang Indonesia di antara para saudagar batik setempat. Dan menurut Blumberger (asisten residen di Surakarta antara tahun 1913 dan 1916) penyebab pertama didirikannya Sarekat Islam ialah munculnya perasaan nasionalisme Jawa. Nasionalisme Jawa inilah yang meletupkan reaksi terhadap dominasi dan meningkatnya campur tangan asing dalam peri kehidupan orang Jawa. Maka, wajarlah bila SI Solo berharap bahwa Susuhunan dan pejabat-pejabat tinggi keraton membantu menentang pejabat-pejabat yang terpengaruh oleh pemerintah Hindia Belanda. Skors pelarangan kegiatan organisasi SI Solo salah satu sebab utamanya keributan Krapyak. Penduduk merasa dirugikan oleh peraturan baru di bidang agraria 70 orang anggota SI marah terhadap asisten residen Belanda dan pejabat kepatihan R.T. Joyonagoro, putra patih, yang ketika itu menjabat sebagai bupati nayoko dan bendaharawan keraton. Koran Bintang Surabaya mewartakan, penduduk Krapyak–anggota-anggota SI – menolak peraturan gubernemen. Karena sikap dan tindakan anti Cina dipandang dapat mengganggu keamanan, pada tanggal 10 Agustus 1912 Residen Van Wijk melarang SI mengadakan rapat dan menerima anggota baru. Rumah-rumah pimpinan SI digeledah. Tapi Van Wijk mencabut larangan itu di bulan September, dengan syarat tidak boleh menerima anggota baru dari luar Surakarta.
Sejarah kemudian mencatat peristiwa lain. Beberapa hari sebelum larangan itu dicabut, gerakan para saudagar Islam memperoleh dorongan baru dari Umar Said Cokroaminoto, pedagang dari Surabaya yang membentuk Sarekat Islam di Surabaya dengan memakai model SI Solo. Jelas, SI telah menusuk rusuk Jawa. Dalam kongres pertamanya di Surabaya tanggal 26 Januari 1913, hadir wakil-wakil dari sepuluh cabang, didukung oleh 8.000–10.000 pengunjung. Jumlah anggota SI waktu itu kira-kira 80.000 orang, 64.000 orang di antaranya di Surakarta. Dalam kongres itu ditetapkan kedudukan komite sentral tetap di Solo, dengan tiga departemen yang bertugas melebarkan sayap organisasi ke pelosok-pelosok Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Pada 23 Maret 1913 berlangsung kongres kedua di Surakarta. Setelah kongres itu, SI benarbenar mencuat. Tahun 1916 jumlah cabangnya di dan luar Jawa mencapai 180 buah, yang mengayomi 700.000 anggota.
“Main mata” SI dengan keraton Pakubuwono X boleh dikata berawal di bulan September 1912. Dari sebelas orang pimpinan SI Solo, empat orang di antaranya pejabat tinggi keraton. Kongresnya yang kedua diselenggarakan di Sriwedari, sebuah taman dan tempat pertemuan milik Pakubuwono X. Beberapa hari sebelum kongres dibuka, patih Sosrodiningrat memberi tahu Van Wijk bahwa SI setempat meminta kepada putranya, R.M. Wuryaningrat, agar menjadi anggota kehormatan. Selanjutnya, atas perintah ayahnya, Wuryaningrat menolak permintaan itu dengan pura-pura membuat alasan karena anggaran dasar SI belum mendapat persetujuan dari pemerintah Hindia Belanda. Van Wijk lagi-lagi terkejut ketika pada malam menjelang pembukaan kongres mendengar Pangeran Hangabehi terpilih sebagai pelindung SI. Ketika ditanya oleh residen Belanda, Hangabehi mengatakan bahwa keanggotaannya di SI baru dua hari, ia juga telah diundang hadir pada rapat pendahuluan kongres. Ketika tiba-tiba diminta jadi pelindung, permintaan itu langsung diterimanya, tanpa meminta nasihat dulu dari Susuhunan atau patih. Kehadiran Pangeran Hangabehi memang mendapat sambutan hangat dari kongres. Secara resmi pangeran itu terpilih sebagai pelindung. H. Samanhudi terpilih sebagai ketua, dan Cokroaminoto sebagai wakil ketua. R.M.A. Puspodiningrat – putra R.T. Wiryodiningrat, penasihat Susuhunan yang paling terpercaya jadi ketua cabang Jawa Tengah. Puspodiningrat waktu itu berpangkat bupati nayoko di keraton, ia dikenal sebagai pemeluk agama Islam yang taat, yang antipati pada orang Eropa. Ia pun jengkel pada Van Wijk, yang selalu mencampuri urusan keraton. Apalagi residen Belanda itu sudah melaporkan kepada atasannya, betapa banyak orang keraton yang menjadi anggota SI.
Ada juga yang menganggap kedudukan P. Hangabehi sebagai pelindung SI itu hanya tituler–bupati Madiun, misalnya. Karena itu, dalam kongres ST tanggal 23 Maret 1913, dua orang utusan SI Madiun ditanya sendiri oleh P. Hangabehi dengan tiga pertanyaan tajam. Mengapa ketua SI Madiun tidak hadir? Mengapa SI Madiun berani mengangkat bupati Madiun sebagai ketua kehormatan tanpa meminta pertimbangan lebih dahulu dari pimpinan pusat SI di Solo? Apakah bupati itu dapat dipercaya dan dapat memberikan bantuan kepada SI? Konon, bupati Madiun – serta kebanyakan bupati lain – sangat hati-hati dan waspada terhadap pengaruh Solo dan keratonnya. Mereka merasa, bila pengaruh Surakarta meningkat terus di mata rakyat Jawa, kedudukan para bupati pemerintah Hindia Belanda akan melemah. Kenyataannya, P. Hangabehi memang tidak boleh lama-lama duduk sebagai pelindung SI. Dalam surat tanggal 24 Mei 1913 Van Wijk melaporkan ke Batavia bahwa pangeran itu telah melepaskan kedudukannya atas perintah ayahandanya, Pakubuwono X. Dan atas anjuran Van Wijk pula, tak lama kemudian pangeran itu dikirimkan ke Eropa, untuk meredam pengaruhnya di kalangan tinggi keraton. Tapi di Negeri Belanda ada yang memperkenalkannya sebagai pelindung SI. Belanda pusing lagi, karena pangeran itu merupakan salah satu calon terkuat untuk menggantikan ayahnya.
Pengundurannya dari SI ternyata tidak mengurangi pamor Hangabehi di SI Solo. Reserse yang memata-matai kegiatan SI melaporkan pada tanggal 18 Agustus 1913, P. langebehi dianggap oleh orang-orang SI sebagai calon ratu adil, juru penyelamat tanah Jawa. Anggota-anggota SI setempat mengatakan kepada temantemannya bahwa pada saatnya nanti akan ada raja adil yang memerintah tanah Jawa. P. Hangabehi-lah orangnya. Ternyata, hanyak anggota SI yang ingin menjadi anggota pasukan Pangeran Hangabehi, sehingga ketua SI Solo menulis surat kepada pangeran itu supaya pulang ke Solo, karena kelak akan menjadi raja tanah. Pengaruh P. Hangabehi juga amat besar di Yogyakarta. Dalam laporan rahasia reserse pada bulan Februari 1914, anggota SI Yogya masih tetap menganggapnya sebagai ketua SI. Mereka mendukung pencalonannya sebagai pewaris takhta Surakarta. Mereka siap membantunya jika sampai terjadi perkara yang serius. Konon, SI Yogya sudah terbentuk dalam bulan Maret 1913 atas prakarsa Pangeran Notodirjo, putra Pakualam V. Sebulan setelah pembentukannya, SI Yogya mempunyai 657 anggota, termasuk kira-kira 100 orang pejabat keraton Sultan dan 50 pejabat Pakualaman.
SI cepat berkembang ke seluruh pelosok Jawa, bahkan sampai Madura sisten residen Belanda di Banyuwangi melaporkan ke Batavia bahwa penduduk setempat merasa resah di bawah pemerintahan Hindia Belanda, dan mengalihkan pandangan ke SI Solo. Saya kira, bukannya tidak mungkin bahwa gerakan itu berasal dari kelompok atau orang-orang dari kalangan istana Solo, tulisnya. Residen Madura meminta perhatian yang serius terhadap desas-desus yang tersebar di karesidenannya, bahwa Susuhunan pun adalah anggota SI. Dan residen Surabaya melaporkan hanyak orang di Surabaya menyatakan SI dibentuk atas pemltah Susuhunan dan Mangkunegoro. Seorang anggota SI yang diinterogasi mengatakan, tujuan SI ialah membentuk pemerintahan baru yang akan melancarkan peperangan guna mengusir orang-orang Belanda dan Cina dari Jawa. Sedang seorang bekas anggota SI di Surabaya mengaku, SI bertujuan mengambil alih tanah Jawa dari Belanda melalui revolusi, dan menyerahkan kembali Jawa kerja dan Susuhunan. Asisten residen Nganjuk memperkuat bahwa anggota-anggota baru SI, setelah mengucapkan sumpah, lantas diingatkan, “Jangan lupa, di tanah Jawa hanya ada seorang raja yang sah.”
Desas-desus yang beredar selagi kongres SI berlangsung di Solo tanggal 23 Maret 1913 dilaporkan oleh bupati Bojonegoro sebagai berikut: “Di Solo SI pertama-tama didirikan sehubungan dengan kenyataan bahwa Suuhunan X tidak mempunyai putra lelaki dari permaisuri, pun belum punya putra yang diberinya gelar Pangeran Adipati sebagai pewaris takhta, padahal Baginda semakin berusia juga. Orang-orang mengatakan, Baginda berniat mengawini seorang putri Sulfan Yogya. Tapi, jika ini terlaksana dan permaisuri baru itu melahirkan putra mahkota, tentunya sang putra itu masih terlalu muda untuk menggantikan ayahandanya. Orang-orang mengutip kata Joyoboyo, bahwa sepeninggal Susuhunan X, takhta kerajaan akan diduduki oleh raja yang dipilih oleh rakyat, yaitu Susuhunan XI.” Lebih lanjut dikatakan bahwa pendiri SI yang sebenarnya ialah Pangeran Hangabehi, putra Susuhunan sekarang. Ia sengaja mendirikannya dengan harapan, kelak, melalui kerja sama dengan perkumpulan itu, ia terpilih menjadi Susuhunan. Salah seorang asisten residen di Batavia melaporkan bahwa anggota-anggota SI di Bekasi dianjurkan agar tidak menghormati pemerintah Hindia Belanda lagi, dan, jika sampai terjadi sesuatu, akan ada seseorang yapg menolong. Siapa orangnya tidak disebutkan. Tapi, setelah diketahui bahwa orang-orang Bekasi yakin iuran masing-masing sebesar 50 sen akan dikirimkan kepada Susuhunan di Solo, dapat ditebak siapa yang dimaksudkan. Memasuki tahun 1915 SI mengalami kemunduran. Terjadi pergantian pimpinan, dan pusatnya pun pindah dari Solo. Hubungan antara keraton dan SI menipis.
Budi Utomo
Lalu di Surakarta bertiup angin politik yang penting. Pada tahun 1914 terjadi perpindahan pimpinan Budi Utomo dari Yogya ke Solo. Mula-mula ketertiban Keraton Surakarta dalam kegiatan Budi Utomo masih samar-samar dan dlakukan dengan hati-hati sekali. Pada akhir tahun 1921, setelah Pakubuwono X melakukan kunjungan lagi ke daerah-daerah lain, dua orang putra raja itu masuk dalam pimpinan Budi Utomo. Belanda pun resah, lalu berusaha membatasi kegiatan politik keraton. Dalam catatan sejarah, Budi Utomo didirikan oleh sekelompok mahasiswa kedokteran di Batavia Dada Mei 1908. dan merupakan organisasi nasionalis yang pertama kali dibentuk di Hindia Belanda. Dalam sejarah Indonesia, lahirnya Budi Utomo merupakan awal kebangkitan nasional. Kongres pertamanya, yang dipimpin oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo, berlangsung pada bulan Oktober 1908. Kongres itu dilangsungkan di Yogyakarta, antara lain karena simpati Pangeran Notodirjo dan keraton Pakualaman. Kira-kira 300 orang hadir baik dari Jawa Tengah, Jawa Timur, maupun Jawa Barat. Karena Dr. Wahidin sakit, pada hari kedua Panji Brotoatmodjo – pegawai tingkat menengah (kliwon) dari keraton Pakualaman – memimpin kongres.
Pembentukan Budi Utomo cabang Solo mungkin terjadi pada akhir tahun 1908, dan selanjutnya cabang ini berkembang pesat. Pada tahun 1912 ia mampu mengambil alih koran Darmo Kondo. Koran itu terbit sejak tahun 1904 di bawah manajemen orang-orang Cina. Seorang bangsawan, R.M.A. Suryosuparto, yang kemudian menjadi Mangkunegoro VII, memainkan peranan penting pada tahun-tahun awal Budi Utomo Solo. Tahun 1916, Pangeran Hadiwijoyo, salah seorang putra terkemuka Pakubuwono X, menjadi ketua cabang. Dan bulan Juni 1919, dua orang pangeran yang disebut-sebut sebagai calon pengganti Susuhunan Pangeran Hangabehi dan Pangeran Kusumoyudo – ikut ambil bagian dalam armada itu. P. Hangabehi putra tertua Pakubuwono X, sedangkan P. Kusumoyudo putra tertua kedua, yang konon merupakan putra kesayangan ayahanda.
Mula-mula Budi Utomo hanya bergerak dalam bidang sosial dan kebudayaan. Tapi sejak September 1914, setelah organisasi ini dipimpin oleh dr. Radjiman Wedjodiningrat, seorang dokter keraton Susuhunan, bidang politik dikebut. Dalam rapat pimpinan di Bandung tanggal 5 dan 6 Agustus 1915, tampillah mosi M. Sutedjo, utusan dari Surakarta, yang menyerukan dibentuknya parlemen sebagai pengganti milisi.
Dalam kongres Budi Utomo di Surabaya, 8 dan 9 Juli 1919, R.M.A. Wuryaningrat terpilih sebagai ketua. Pejabat tinggi dan bangsawan Keraton Surakarta yang sangat anti Belanda ini kelak menjadi seorang pemimpin gerakan nasional yang terkemuka. Wuryaningrat adalah putra patih Surakarta R.A.A. Sosrodiningrat, yang menjabat patih sejak tahun 1889, semasa Pakubuwono IX bertakhta. Pakubuwono IX memberi Sosrodiningrat cukup batasan kekuasaan, sedangkan Pakubuwono X beberapa tahun bersikap longgar. Tapi karena cukup tua, dan menurut pandangan Belanda amat konservatif, Gubernur Jenderal Idenburg dalam tahun 1915 memensiunkannya. Sekaligus menggantinya dengan putra sulung patih dari selir R.A. Joyonagoro. Sosrodiningrat menyangka rajalah yang mencopotnya.
Joyonagoro cakap sebagai administrator. Ia kawin dengan putri raja, kakak Kusumoyudo. Tapi pengangkatan Joyonagoro kurang menyenangkan sementara kalangan keraton, yang menginginkan Wuryaningrat. Alasannya, Wuryaningrat adalah putra tertua dari istri pertama, bukan anak selir. Dan istri pertama itu adalah kakak Susuhunan. Pakubuwono X sudah mengajukan permintaan resmi kepada pemerintah – Hindia Belanda agar Wuryaningrat yang diangkat. Pangkatnya pun waktu itu sudah bupati nayoko. Apalagi patih lama sudah memberinya kedudukan sebagai “sekjen” di kepatihan. Sebenarnya, ia tokoh pejabat tinggi yang penting. Tapi Belanda memang mencari calon yang lebih pasif dan tenang sikapnya. Wuryaningrat dengan kekuasaan yang besar, bersama-sama dengan tokoh-tokoh keraton yang anti Belanda dapat menggelisahkan Batavia. Ia pun dipindahkan dari kepatihan, sehingga kedudukannya hanya di keraton. Akibatnya, Wuryaningrat semakin benci kepada Belanda, sehingga gubernur Belanda menyebutnya “setan jahat” keraton.
Setelah kedudukan pimpinan pusat pindah dari Yogya ke Solo di tahun 1914, Budi Utomo lebih mantap geraknya. Cabang Surakarta maju, didukung 315 anggota. Cabang Weltevreden 601 orang. Gltatan anggota tahun 1918 sebagai berikut: Surabaya 139, Batavia 94, Yogya 70. Klaten, Boyolali, Sragen, dan Wonogiri juga mencatat jumlah cukup. Pada tahun 1909 ada 40 buah cabang, pada tahun 1918 menjadi 51. Kenyataan ini mengesankan bahwa meskipun sebagai organisasi tidak besar, ia berpengaruh. Wuryaningrat berusaha memperluas cabang. Hasilnya, pada tahun 1920 naik jadi 63 cabang, setahun kemudian meningkat jadi 90. Motif utama keraton melibatkan diri dalam gerakan politik tentu saja karena makin tajamnya cakar Belanda mengganggu urusan dalam kerajaan. Tujuan utamanya otonomi politik. Itu juga dilakukannya pada berbagai kerajaan di daerah lain. Dalam pemilihan anggota Volksraad, Januari 1918, empat di antara 10 orang pribumi yang terpilih adalah anggota Budi Utomo. Termasuk Dr. Radjiman dan R. Sastrowidjono. Untuk mengimbangi anggota yang konservatif, pada bulan Maret 1918 diangkat lagi lima orang pribumi yang progresif: Cipto Mangunkusumo dari Insulinde, Cokroaminoto dari SI, Dwidjosewojo dari Budi Utomo, Prangwedono (Mangkunegoro VII), dan T.T. Mohamad Thayeb dari Aceh. Budi Utomo merupakan partai terbesar kedua dalam Volksraad, setelah NIVB (Nederlandsch Indische Vrijzinnige Bond).
Batavia terus mengendalikan keraton-keraton di Jawa Tengah. Pada pertengahan tahun 1920 Sultan Hamengkubuwono VII (1877-1921) menyatakan ingin turun dari takhta – terlaksana pada tahun berikutnya. Alasan resminya: sudah uzur (lahir tahun 1839). Tapi sebuah artikel dalam koran Sumatra Post yang ditulis oleh salah seorang yang sangat paham persoalan keraton membeberkan, Sultan mundur karena tidak dapat mengikuti reformasi sosial nihak Yubernemen. Di Surakarta, seorang bangsawan yang anti Belanda, P. Hadiwijoyo, terpilih menjadi ketua cabang Budi Utomo. Di bawah kepemimpinannya muncullah mosi dalam tahun 1920 yang menuntut otonomi bagi kerajaan Surakarta.
Pada bulan Desember 1921 Susuhunan melakukan perjalanan ke daerah Priangan, diiringi oleh 52 bangsawan dan abdi. Setelah singgah di Semarang, Pekalongan, dan Cirebon, ia tinggal agak lama di Garut dan Tasikmalaya. Di Garut ratusan orang berkumpul, sehingga polisi repot. Orang-orang itu ingin membeli air bekas mandi Pangkubuwono X termasuk sisa makanannya, karena dianggap mendatangkan berkah. Pada bulan Februari 1922 Pakubuwono X mengadakan perjalanan lagi ke Madiun, disertai oleh 58 bangsawan dan abdi. Perjalanan itu resminya disebut incognito, tapi benar-benar membuatnya populer. Ia mengobral banyak hadiah tanda mata dengan lambang PB X. Bupati-bupati menerima keris dengan hiasan permata, wedana dan asisten wedana memperoleh arloji anan itu “memberikan kesan mendalam pada rakya akan prestise, kekayaan, dan kesaktian raja Jawa, sebuah aspiras dengan tendensi nasionalistis yang kuat,” tulis Residen Harloff.
Dalam musyawarah nasional Budi Utomo di Surakarta tangga 24-26 Desember 1921, sasarannya politik. Wuryaningrat berpida to mengulas berbagai kejadian setelah Perang Dunia I. Pergola kan yang terjadi di berbagai bagian dunia serta gerakan-gerakan kemerdekaan di Arab, Irlandia, dan India. Budi Utomo, katanya sekarang mengemban tiga program: meningkatkan pendidikan membangkitkan rasa cinta tanah air, dan memajukan perekonomian rakyat. Dalam mosi yang diumumkan, diserukan aga dalam badan-badan perwakilan kaum pribumi memperoleh keanggotaan paling sedikit lima puluh persen. Keterlibatan keraton dalam Budi Utomo berlangsung terus Wuryaningrat, yang mundur dari jabatan ketua, digantikan olel P. Hadiwijoyo, juga putra Pakubuwono X. Dalam babak kepeng urusan selanjutnya Dr. Radjiman Wedjodiningrat, dokter Keraton Surakarta, tampil lagi sebagai ketua.
***
Antara pertengahan 1918 dan pertengahan tahu ada topan inflasi, sementa tidak berubah. Pada bulan Agustus 1919 harga makanan dan pakaian naik 50 persen. Harga gula di pasar dunia merosot, sehingga petani tebu keok. Ketidakpuasan muncul di daerah. Kebun tebu dibakar tentara dikerahkan untuk mengatasi kekacauan Kediri dan di Jawa Barat, serangkaian insiden akibat pengumpulan beras secara paksa. Pada bulan Juli 1919, dalam insiden yang paling parah – Peristiwa Garut – seorang anggota SI, Hasan, dan beberapa orang anggota keluarganya tewas ditembak. Cipto Mangunkusumo berpidato di depan sidang Volksrat tanggal 20 Februari 1919: menyalahkan gubernemen dan industri gula. Kata dia, menjelang tahun 1915 sebenarnya dapat dibayangkan akan terjadi kekurangan pangan, dan gambaran buruk itu makin parah di tahun 1917.
Pada bulan Agustus dalam masa perang di Eropa, Inggris memerlukan bantuan banyak kapal Belanda. Selanjutnya Inggris melarang ekspor ke India ke Hindia Belanda, bahkan ekspor beras ke Singapura pun dicegah. Akibatnya, harga beras naik lima kali lipat. Namun gubernemen tetap tidak mau mendesak pemilik-pemilik gula mengurangi luas kebun-kebun tebu agar dapat ditanam dengan padi. Kata Cipto, gubernemen tidak berbicara demi rakyatnya, tapi demi kapitalis-kapitalis pabrik gula. Penderitaan rakyat Surakarta semakin menggalakkan pemuka-pemuka. Dalam rapat istimewa Budi Utomo di Yogya ta dan 5 November 1922, dr. Radjiman memperingatkan gubermen dengan berkobar-kobar, “Ingat, sekaranglah saatnya meluluskan tuntutan kami. Sekarang memang kamu memimpin kami, tapi tunggu, tidak lama lagi saatnya akan bila kesabaran rakyat sudah habis!” Selanjutnya Budi Utomo juga mengadakan pertemuan-pertemuan. Dalam manifesto, yang diumumkan pada pertemuan November 1922, diajukan protes atas larangan yang dikenakan gubernemen terhadap pemimpin-pemimpin politik, peng polisi, dan “penyedotan” oleh kaum kapitalis dari bumi Hindia. Pada tahun 1923 dr. Radjiman digantikan oleh Wuryaningrat sebagai ketua pimpinan pusat Budi Utomo. Ia meneruskan moderat, tapi tetap mengecam gubernemen. Pernah Budi tertarik oleh politik non-kooperasi-nya Gandhi. R. Wonoboyo, seorang anggota pimpinan pusat, mengusulkan mengirimkan utusan ke India untuk memperoleh keterangan tangan pertama tentang gerakan itu.
Menuju Nasionalisme Indonesia Pakubuwono X terus mengadakan perjalanan ke daerah-daerah di luar Surakarta. Belanda keberatan, dengan alasan biaya. Padahal, benarnya hendak membatasi popularitas Susuhunan. Sekalipun perjalanan itu bersifat incognito, tapi Susuhunan selalu mengesankan sebagai Kaisar Tanah Jawa”. Setelah perjalanannya ke Jawa Barat dan Jawa Timur pada tahun 1922, yang bersamaan dengan meningkatnya semangat radikalisme Budi Utomo, Pakubuwono X tidak mengadakan perjalanan lagi di tahun 1923. Tapi tahun berikutnya, ia berangkat ke Malang. Penampilannya di sana menyebabkan Gubernur Jenderal Fock menyuruh Residen Nieuwenhuys mempersilakan suhunan pulang. Alasannya, persyaratan “incognito” dilanggar. Setelah Nieuwenhuys pindah dari Surakarta, Pakubuwono mengadakan perjalanan lagi di tahun 1927. Diiring 44 orang bangsawan dan abdi, ia memasuki Gresik, Surabaya, dan Bangkalan lama seminggu. Jumlah pengiringnya tiga kali lipat persyaratan yang dibuat oleh Belanda. Pada tahun 1929, selama dua minggu, ia ke Bali dan Lombok. Juga dengan 44 orang pengiring. Tahun berikutnya ke Bandung. Tahun 1933 ke Cepu dan tahun 1935 ke Bogor, Batavia, dan Lampung, dengan 51 orang. Susuhunan terus lakukan kunjungan di Jawa sampai wafatnya tahun 1939.
Pada tahun-tahun itulah, di Surakarta muncul R.T. Djaksodipujo, tokoh baru dari kalangan keraton. Tamatan sekolah hukum tinggi di Batavia. Bergelar R.T. Mr. Wongsonegoro, yang di kemudian hari menjadi Menteri Dalam Negeri RI. Ia salah satu tangan kanan Wuryaningrat. Pada tahun 1920-an, ia memegang berapa jabatan dalam keraton dan kepatihan. Ia menjadi ketua di Utomo cabang Solo, dan juga ketua pimpinan pusat Jong Java. Selama belajar di Rechls Hoge School di Batavia, ia dikenal sebagai mahasiswa yang pandai. Pada tahun 1924, dr. Sutomo membentuk Indonesische Studie Club di Surabaya. Dua tahun kemudian, di Solo terbentuk kumpulan serupa. Keanggotaannya tidak besar, tapi Wuryaningrat, dr. Radjiman, dan beberapa politisi yang berpengaruh ikut kudeta. Salah satu kegiatannya yang terpenting ialah menerbitkan Majalah Timbul, yang pro keraton dan nasionalis. Terbit dua bulan sekali sejak Januari 1927. Redaksinya dr. Radjiman dan R.P. Mr. Singgih. Majalah ini menerima subsidi 200 gulden setiap bulan dari , keraton dan dompet pribadi Pangeran Kusumoyudo. Enam tahun lamanya Timbul berkampanye menyerang politik yang dijalankan Belanda terhadap kerajaan-kerajaan Jawa, dan terus-menerus menuntut otonomi yang lebih longgar. Mr. Singgih merupakan tokoh baru yang memperkuat suara Keraton. Sebenarnya, ia berasal dari Pasuruan. Ketika belajar ilmu Hukum di Negeri Belanda, ia menjadi anggota Perhimpunan Indonesia, perkumpulan mahasiswa-mahasiswa nasionalis. Sekembalinya di Indonesia, banyak di antara anggota perhimpunan ini menjadi pemuka gerakan nasionalis. Setelah mengantungi ijazah sebagai ahli hukum dengan gelar Meester in de Rechten Mr. Singgih kembali ke Jawa. Selama setahun ia bekerja di kantor pengadilan Hindia Belanda di Ambon. Tahun 1924 ia mengundurkan diri, lalu pindah ke Surabaya, menjadi pengacara dan propagandis bagi Indonesische Studie Club-nya dr. Sutomo. Namanya berkibar sebagai pemuka nasionalis dan gerakan non-kooperasi. Ia pun aktif sekali di dalam Budi Utomo, dan terpilih sebagai sekretaris pertama pimpinan pusat dalam kongres bulan April 1928. Sebelum pindah ke Solo pada akhir 1926, ia berkeliling ke pelosok-pelosok Jawa, menyerukan pembentukan front persatuan semua golongan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia juga menjadi anggota PNI-nya Sukarno, yang dibentuk di Bandung bulan Juli 1927.
Keraton akrab kembali dengan Budi Utomo setelah kongres bulan April 1928 di Solo. Pimpinan pusat organisasi nasional yang tertua itu kembali menetap di Solo. Dari susunan pimpinan pusat tampak menonjolnya tokoh-tokoh dari pihak keraton: R.M.A.A. Kusumo Utoyo (ketua), R. M.H. Wuryaningrat (wakil ketua), R.P. Mr Singgih (sekretaris pertama), R.M . Sudaryo (sekretaris kedua) S. Martodihardjo (sekretaris kedua), dr. Radjiman Wedjodiningrat (komisaris), R.Mr.dr. Supomo (komisaris), dan R. Slamet (komisaris). Tak lama kemudian, setelah kongres itu, Kusumo Utoyo pindah ke Batavia karena terpilih sebagai anggota Volksraad. Wuryaningrat, yang bertugas memimpin sehari-hari, secara defacto menjadi pemimpin utama. Akhirnya, kepemimpinannya mendapatkan pengakuan, seperti yang terjadi pada bulan Desember 1934 ketika ia dan Kusumo Utoyo bertukar kedudukan dalam pimpinan pusat.
Dalam memimpin Budi Utomo, Wuryaningrat menyalurkan kehendak Pakubuwono X yang memang menaruh perhatian besar dalam politik. Pada bulan Mei 1928, pimpinan pusat Budi Utomo mengeluarkan manifesto yang mengecam perbedaan perlakuan yang diumumkan oleh Gubernur Jenderal De Graef. Perbedaan perlakuan terhadap kaum nasionalis yang evolusioner dan revolusioner. Manifesto itu diakhiri dengan semboyan: “Dengan persatuan yang tak terpecahkan menuju kemerdekaan Indonesia.” Banyak yang mengatakan bahwa perencana manifesto itu adalah Mr. Singgih.
Dalam kongresnya di Yogya, 31 Desember 1927 hingga 1 Januari 1928, Budi Utomo memutuskan ikut serta dalam Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) – federasi partai-partai politik Indonesia. Federasi itu baru terbentuk dua minggu sebelumnya, terutama atas prakarsa PNI Sukarno. Menginjak awal tahun 1930, langkah Budi Utomo makin jelas menuju nasionalisme Indonesia. Dalam kongres awal April 1931 di Batavia, secara tegas dibuka keanggotaan untuk “semua orang Indonesia.” Ejaannya pun diganti dari Budi Utomo menjadi Budi Utama. Dan dalam konperensi pimpinan pusat di Solo bulan Desember 1932, perubahan radikal terjadi dalam anggaran dasarnya. Tujuannya demi “perkembangan harmonis negeri dan rakyat Jawa dan Madura”, berubah jadi demi “Indonesia Merdeka.” Budi Utomo juga ikut serta melakukan protes terhadap rencana gubernemen untuk mengekang pendidikan pada sekolah-sekolah swasta – Wilde Scholen Ordonnantie – terutama pengekangan terhadap Taman Siswa. Sejak pendirian Taman Siswa di tahun 1922 oleh Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), gubernemen telah melakukan berbagai pengawasan. Padahal, sekolah swasta tidak menerima subsidi dari Belanda. Tapi, peraturan baru yang hendak dikenakan pada sekolah swasta yang disebutnya “sekolah liar” itu lebih menjerat lagi, yaitu bahwa gubernemen dapat melarang dan mencabut izin sekolah itu jika dicurigai telh mengajarkan hal-hal yang dapat menimbulkan bahaya bagi tata tertib masyarakat. Suwardi Suryaningrat segera mengirimkan kawat protes kepada Gubernur Jenderal B.C. de Jonge yang terkenal kolot. Pers nasional dan hampir semua organisasi nasional ikut berkoar. Budi Utomo pun mengadakan rapat, lalu menyampaikan ultimatum kepada pemerintah Hindia Belanda. Jika ordonansi itu tidak ditarik kembali, Budi Utomo akan menarik pula semua anggotanya dari badan-badan perwakilan di seluruh Hindia Belanda, menutup sekolah-sekolahnya, dan memberikan bantuan keuangan kepada “korban” peraturan itu. Setelah diserbu protes, baru Belanda menarik ordonansi tersebut. Pada tahun 1933 Budi Utomo berkonfrontasi lagi dengan gubernemen, yang berlangsung dua tahun lamanya.
Konon, pada akhir bulan April 1933, PPPKI yang mengadakan rapat di Solo bersepakat hendak mendirikan tugu di Solo, guna memperingati 25 tahun kebangkitan nasional. Organisasi-organisasi yang tergabung dalam PPPKI mengumpulkan iuran, lalu membentuk panitia yang terdiri atas tujuh orang. Panitia itu diberi nama Comite Tugu Kebangsaan, diketuai oleh Mr. Singgih. Tempat untuk mendirikan tugu disediakan oleh sebuah sekolah dasar swasta di Kampung Penumping, Laweyan, sedangkan pemilik tanah adalah Susuhunan. Izin pendirian diberikan oleh bupati kota pada akhir bulan November tahuh itu, tapi tidak diberitakan kepada residen Belanda M.J.J. Treur. Menurut rencana, peletakan batu pertama tugu itu akan dilakukan bersamaan dengan kongres PPPKI bulan Desember 1933 di Solo. Ternyata, pada saat-saat terakhir, penyelenggaraan kongres tidak diizinkan oleh Treur. Akibatnya, beberapa bulan lamanya rencana pendirian tugu itu terbengkalai. Tapi akhirnya rencana itu secara diam-diam dilanjutkan, diharapkan tugu itu sudah selesai sebelum gubernemen tahu. Tapi pada pertengahan bulan Oktober ketika pembuatan tugu itu hampir selesai hidung Treur menciumnya. Bulan berikutnya Budi Utomo menyampaikan permintaan izin resmi kepada residen, bahwa tugu itu akan diresmikan dalam kongres yang akan diadakan tanggal 24-26 Desember 1934 di Solo, dengan prasasti: “Toegoe peringatan pergerakan Kebangsaan 1908- 1933″. Permintaan izin ditolak, Batavia menyuruh Treur melakukan penyelidiki Setelah Treur menyampaikan laporan ke Batavia pertengahan Januari 19 keputusan baru menyebutkan tugu boleh tetap berdiri, asal dalam rangka peringatan berdirinya Budi Utomo, bukan sebagai peringatan kebangkitan nasional. Akhirnya Januari 1935 kebetulan Pakubuwono X ada di Batavia dalam rangka perjalanannya ke Lampung. Gubernur Jenderal menggunakan kesempatan untuk memberitahukan hal itu, dan Pakubuwono X pun berjanji akan membicarakan hal itu dengan Budi Utomo sekem- balinya di Solo nanti. Tapi usahanya tidak berhasil, sebab dalam pertengahan Maret 1935 Budi Utomo menyampaikan usul balasan kepada Belanda, yang menyatakan tetap menggunakan tahun “1908-1933″ atau tanpa prasasti sama sekali. Belanda makin jengkel, apalagi Budi Utomo tanpa izin telah mengubah bunyi tujuan dan anggaran dasarnya yang tera terangan demi Indonesia Merdeka. Pada awal April 1935 Bata memberi instruksi pada Treur agar mengultimatum Budi Utor tugu itu akan dibongkar dalam waktu sebulan jika menolak bu prasasti “Toegoe peringatan kemajoean ra’yat 1908-1933″. Pe tujuan akhirnya tercapai seperti tersebut di atas. Tugu den bentuk lilin menyala itu sampai sekarang masih berdiri, dan dike dengan nama Tugu Lilin.
Pada bulan Oktober 1930 di Surabaya terbentuk organisasi baru yang didirikan oleh Dr. Sutomo: Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Dan perjalanan sejarah menunjukkan bahwa dalam tahun-tahun terakhir penjajahan Belanda di Indonesia, Keraton Surakarta mulai melibatkan diri lebih jelas dalam gerakan nasional, yaitu setelah bergabungnya Budi Utomo dan PBI dalam bulan Desember 1935. Gabungan kedua organisasi ini ditambah dengan beberapa organisasi kebangsaan lain yang lebih ke akhirnya melahirkan partai yang paling besar dan paling penting dalam dekade itu, yaitu Partai Indonesia Raya (Parindra). Dr. Sutomo menjadi ketuanya, dan Wuryaningrat wakilnya Tujuan partai itu “Indonesia Mulia” tapi Belanda tahu benar bahwa maksudnya adalah kemerdekaan. Semua organisasi yang masih bergabung dalam PPPKI, kecuali Pasundan, masuk dalam Parindra. Pada bulan Februari 1936, Parindra telah mempunyai 54 cabang, dengan jumlah anggota 3.445. Pendukungnya yang terbesar dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, tapi selanjutnya pulau-pulau lain pun segera berdiri cabang-cabangnya, sehin pada akhir masa penjajahan Belanda cabang Parindra tercatat sebanyak 121 buah, dan anggotanya kira-kira 20.000 orang. Inti Parindra, paling tidak pada permulaannya, adalah gabungan para pengikut Dr. Sutomo di Surabaya dan kaum politisi Keraton Surakarta. Pucuk pimpinan Parindra resminya di Surabaya. Tapi Solo, yang pada umumnya oleh orang-orang Jawa masih dipandang sebagai pusat politik yang terutama di Jawa, berfungsi sebagai pembantu pusat yang berada di Surabaya.
Persekutuan antara Surakarta dan Surabaya dapat mengingatkan pada tahun-tahun pertama Sarekat Islam, sekalipun persekutuan semacam itu dalam perjalanan waktu juga dapat menimbulkan ketegangan. Dalam kongres fusinya tujuh dari tiga puluh orang yang terpilih menjadi pengurus pimpinan pusat berasal dari Solo. Tapi dalam kongresnya yang diadakan tahun 1937, di antara sebelas anggota pengurus pusat yang terpilih hanya Wuryaningrat yang masih tinggal. Setelah Dr. Sutomo meninggal tahun 1938, Wuryaningrat yang mengganti jadi ketua, tapi badan pekerja harian tetap berada di’ Surabaya di bawah pimpinan R. Sudirman. Dalam kongres berikutnya pada bulan Desember 1938, Wuryaningrat kembali terpilih sebagai Ketua Parindra, dan M. Sutedjo dari Solo terpilih pula sebagai salah seorang anggota pengurus pusat. Kedudukan pengurus pusat pindah ke Solo, tapi lima dari tujuh di antaranya berasal dari Surabaya, dan pimpinan harian tetap di Surabaya di bawah R. Sudirman yang terpilih sebagai wakil ketua baru.
Dalam pada itu, nama dan peranan Jepang mulai muncul. Akibat devaluasi yen di Jepang pada tahun 1931, Hindia Belanda dibanjiri barang-barang Jepang, yang mendapat sambutan baik sekali karena harganya yang murah dan lebih baik dari saingannya. Selanjutnya orang-orang Jepang pun membuka toko di kota-kota Hindia serta mempekerjakan tenaga-tenaga pribumi. Furnivall, seorang pengamat sejarah Indonesia, mengatakan, jika kaum pribumi “tidak memperoleh ruang gerak dalam perdagangan modern, orang-orang Jepang memberinya kesempatan awal.” Sejak akhir tahun 1932 Belanda mulai benar-benar memperhitungkan ekspansi Jepang dalam segala bidang. Dalam bulan Juni 1933 Dr. H. Colijn, menteri urusan jajahan Belanda, memberi nstruksi kepada gubernur jenderal Hindia De Jonge agar nelakukan “cara yang lengkap, sistematis, dan sangat rahasia” dalam laporan intelijennya mengenai kehadiran orang-orang Jepang di Hindia. Belanda mengkhawatirkan bukan saja penetrasi ekonomi, tapi juga spionase dan pengaruh dan pers pribumi, gerakan nasional, dan raja-raja pribumi. Kekhawatiran Belanda itu memang beralasan setelah melihat keadaan di Surakarta. Tampaknya, Jepang menaruh perhatian kepada dua kerajaan di sana. Pada bulan Februari 1936, penasihat dan kepala biro urusan Asia Timur, A.H.J. Lovink, membuat laporan bahwa banyak orang Jepang mengunjungi Surakarta. Di Wonogiri perusahaan Jepang Ishihara Mining Company memperoleh hak eksplorasi tembaga dari Mangkunegoro pada tahun 1932. Di Wonogiri Selatan sebelumnya memang pernah diselidiki kemungkinan adanya kandungan tembaga, tapi tidak dilanjutkan karena diperhitungkan kurang menguntungkan. Tapi kenyataannya orang Jepang berani melakukannya. Dengan demikian, Belanda patut menaruh curiga akan kemungkinan adanya aspek politik. Dan karena perusahaan Jepang itu merencanakan mengapalkan hasil galiannya dari pantai dekat Teluk Pacitan, mungkin sekali juga sekalian mengumpulkan data topografis yang strategis. Sampai bulan September 1936 di Surakarta terdapat 57 orang Jepang, belum termasuk perempuan dan anak-anak Jepang. Kebanyakan tinggal di Solo, lainnya di Klaten, Boyolali, Sragen, Wonogiri, dan Tawangsari. Pada umumnya mereka pemilik dan pegawai toko dan bisnis kecil. Sampai Februari 1940 di Surakarta terdapat 27 toko dan perdagangan kecil Jepang lainnya. Di daerah Wonogiri selain mengusahakan tembaga, Jepang juga menangkarkan ulat sutera, mengusahakan pembuatan katun, pabrik karet, dan pabrik gula. Mereka memiliki perkumpulan bisnis tidak begitu aktif tapi mempunyai hubungan dengan beberapa orang terpelajar dan bangsawan setempat. Mereka sering ikut bermain tenis di lapangan tenis milik Pangeran Suryohamijoyo, seorang putra Pakubuwono X yang juga menjadi anggota Parindra.
Pada bulan Juli 1939 Gubernur Orie melaporkan ke Batavia bahwa di antara kunjungan yang paling sering dilakukan oleh orang-orang Jepang pada para bangsawan ialah kunjungan pada Pangeran Hadiwijoyo, salah seorang politisi keraton yang terkemuka. Dan di antara orang Jepang penduduk Solo yang paling rajin membina hubungan dengan pihak keraton ialah Sawabe, pemilik toko Fujiyoko, yang sering menyampaikan hadiah kepada Pakubuwono maupun Mangkunegoro. Laporan ke Batavia menyebutkan bahwa Pangeran Purbonagoro, komandan pasukan Keraton Surakarta, sering berkunjung ke toko Fujiyoko, dan diterima di kantor pribadi Sawabe. Pada bulan Februari 1941, dilaporkan Sawabe menerima kunjungan P. Kusumoyudo dan putra tertuanya, keduanya anggota Parindra, dan bulan berikutnya menerima priayi-priayi luhur Keraton Surakarta. Sawabe juga menerima kunjungan Mangkunegoro beserta istri dan anak-anaknya. Semula penyelidikan yang dilakukan oleh Belanda mengenai hubungan itu sebagian besar mengenai soal uang dan utang. Tapi pada bulan Juni 1939 dalam suatu penggeledahan yang dilakukan terhadap seorang wartawan Jepang yang tinggal di Batavia, ditemukan laporan yang dibuat oleh seorang Jepang mengenai gerakan nasional di Indonesia. Ada juga disebut-sebut adanya pertemuan rahasia para pemimpin, yang menghendaki P. Suryohamijoyo menjadi “raja Indonesia” di kemudian hari.
Pada bulan Juli 1939, untuk memenuhi undangan pihak Jepang Narpowandowo (organisasi kerabat dan pejabat Keraton Surakarta) mengirimkan utusan ke kapal penumpang Jepang Nichiran Maru yang lagi berlabuh di Semarang. Utusan yang berkunjung ke kapal selama dua jam itu terdiri dari priayi-priayi kelas menengah diketuai oleh R.M.N. Wiroatmojo, pegawai keraton berpangkat mantri dan juga wartawan. Sejak berdirinya Parindra, Belanda memang memperhatikan partai ini dalam hubungannya dengan gerakan kebangsaan di Surakarta. Tiga orang bangsawan tinggi semua pangeran putra Pakubuwono X, giat dalam partai itu: Hadiwijoyo, Kusumoyudo, dan Suryohamijoyo. Pada hari kedua kongresnya yang berlangsung di Solo, semua peserta diundang ke keraton. Pasukan Susuhunan berbaris di depan keraton memberikan penghormatan.
*********
Masalah suksesi dan pergantian raja di Surakarta hangat. Siapa yang bakal naik takhta bila Pakubuwono X wafat? Pangeran Hangabehi, atau Pangeran Kusumoyudo yang disayangi oleh ayahandanya? Konon, P. Kusumoyudo mempunyai seorang putra (sulung) bernama R.M.H. Mr. Kartodipuro (kemudian bernama B.P.H. Mr. Sumodiningraf), ahli hukum lulusan Universitas Leiden tahun 1935. Sekembalinya di Surakarta ia diangkat menjadi bupati anom di kepatihan, dan tak lama kemudian menceburkan diri dalam kegiatan politik. Ia bergabung dalam Parindra, dan menjadi wakil ketua cabang Solo sejak Agustus 1939. Ia juga menjadi pemimpin redaksi Sara Murti (Panah Wisnu), pengganti Timbul, yang terbit sejak Juli 1936. Setahun kemudian nama majalah itu diganti menjadi Bangun. Kritik-kritik pedas yang dilancarkan oleh Sumodiningrat dalam majalah itu menimbulkan kemarahan Belanda. Gubernur Orie pernah memanggilnya dan menumpahkan kemarahannya selama tiga jam.
Pakubuwono X merupakan raja yang paling lama duduk di singgasana dinasti Mataram (1893-1939). Putranya kira-kira 70 orang, yang masih hidup 44 orang – 20 putra, 24 putri. Masalah yang mengganjal ialah bahwa Pakubuwono tidak memperoleh putra dari kedua permaisurinya. Dua putra yang tertua, Hangabehi dan Kusumoyudo, yang memiliki kemungkinan besar menjadi penggantinya, lahir dari selir. Menurut keinginannya, Kusumoyudo-lah yang hendak dijadikan putra mahkota, meski usianya 40 hari lebih muda dari Hangabehi. Pada tahun 1898 ia sudah berniat mengangkat Kusumoyudo sebagai putra mahkota, tapi diurungkannya karena sebagian besar kalangan keraton termasuk patih lebih memilih Hangabehi. Belanda pun menilainya cukup dapat dipercaya dan “loyal”. Ia mendapatkan dukungan kuat dari Gubernur Orie.
Pada akhir bulan November 1938 Pakubuwono X sakit keras, dan akhirnya wafat pada tanggal 20 Februari 1939. Atas nasihat Den Haag, Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborg Stachouwer memilih P. Hangabehi mengganti ayahandanya sebagai Pakubuwono XI. Pengangkatan P. Hangabehi disertai dengan kontrak politik yang menurunkan kewibawaan raja. Dalam kontrak politik itu disebutkan bahwa Hangabehi bisa diturunkan dari kedudukan Susuhunan jika ternyata tidak dapat memenuhi kewajibannya sebagaimana ditentukan plus motongan anggar belanja keraton secara drastis.
Seperti Benedict Andersa pengamat sejarah modern Indonesia, yang mengutip kata khlayak Jawa. Pakuwono X dianggap sebagai “Susuhunan yang terakhir. ” Sebagaimana juga kata seorang penduduk Surakarta, “Rasa hormat dan patuh rasa kagum dan pengabdian kepada raja yang bertakhta, mulai padam. Orang mulai mengucapkan hal-hal yang sumbang, terutama bila raja baru itu pergi ke gubernuran untuk rapat! Kata orang-orang keraton: Beliau bukan lagi raja yang sesungguhnya Seperti Mangkunegoro saja. Setiap hari beliau pergi mengunjungi gubernur. Pada zaman Pakubuwono X, raja Surakarta hendak pernah pergi ke gubernuran gubernur Belandalah yang menemui beliau dan harus mengajukan permohonan dulu. Orang mulai berbisik-bisik, bahwa keraton koncatan wahyu – keraton telah kehilangan wahyu. Dapat dikatakan, tamatnya keraton Solo bukan dalam zaman revolusi tapi di tahun 1939.
Dalam zaman pendudukan Jepang Keraton Surakarta makin kehilangan cahayanya. Inflasi mengakibatkan keuangan keraton dan bangsawan amat menderita. Pakubuwono XI meninggal tahun 1944, sedangkan putra penggantinya masih amat muda. Pada tahun itu juga Mangkunegoro pun meninggal, dan putra penggantinya pun masih muda.
Sekalipun pamor keraton semakin mundur, politisi keraton tetap memikirkan masa depan. Bahkan sebelum proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, pertemuan-pertemuan diadakan tempat kediaman Suryohamijoyo, Hadiwijoyo, atau Kusumoyu membicarakan bentuk negara Indonesia setelah merdeka nanti. Pada suatu hari di akhir bulan Juli 1945, pertemuan semacam diadakan di rumah Kusumoyudo, yang dihadiri pula oleh pemuka- pemuka berbagai golongan, termasuk kalangan Islam.
Pada awal zaman kemerdekaan para bangsawan yang pada zaman Belanda dulu dikenal sebagai kaum politisi keraton segera menjadi “bangsawan revolusioner” yang menggunakan rumah-rumahnya untuk pertemuan politik dan dengan komandan-komandan gerilya. Di antara para bangsawan revolusioner termasuk Mr. Sumodiningrat, orang yang mungkin menjadi putra mahkota seandainya ayahnya, yaitu P. Kusumoyudo, yang diangkat menjadi pengganti Pakubuwono X. Komite Nasional Indonesia (KNI) daerah Surakarta pun di bentuk (setelah KNI Pusat terbentuk di Jakarta), diketuai Wuryaningrat, yang dulu dikenal sebagai politisi keraton yang Belanda. Tapi karena usia dan kesehatannya yang terganggu ia hanya sebentar memegang kedudukan itu, selanjutnya diganti Mr. Sumodiningrat. Rapat pertama KNI di bawah pimpinan Sumodiningrat diadakan pada bulan September 1945 di pendapat rumah Wuryaningrat. Pada bulan September itu juga Sumodiningrat memimpin KNI dan pemuda-pemuda melucuti senjata tentara Jepang, mengambil alih kekuasaan, dan mulai menjalankan gerakan anti kerajaan.

Sumber : Majalah Tempo Edisi 19 Agustus 1989