Translate

Tampilkan postingan dengan label Kesimpulan dan Analisis Buku ”Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara”. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesimpulan dan Analisis Buku ”Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara”. Tampilkan semua postingan

Sekilas Tentang Kerajaan Samudera Pasai

Serba Sejarah - Kerajaan Samudera Pasai terletak di Aceh, dan merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh Meurah Silu pada tahun 1267 M. Bukti-bukti arkeologis keberadaan kerajaan ini adalah ditemukannya makam raja-raja Pasai di kampung Geudong, Aceh Utara. Makam ini terletak di dekat reruntuhan bangunan pusat kerajaan Samudera di desa Beuringin, kecamatan Samudera, sekitar 17 km sebelah timur Lhokseumawe. Di antara makam raja-raja tersebut, terdapat nama Sultan Malik al-Saleh, Raja Pasai pertama. Malik al-Saleh adalah nama baru Meurah Silu setelah ia masuk Islam, dan merupakan sultan Islam pertama di Indonesia. Berkuasa lebih kurang 29 tahun (1297-1326 M). Kerajaan Samudera Pasai merupakan gabungan dari Kerajaan Pase dan Peurlak, dengan raja pertama Malik al-Saleh.

Kapan sebenarnya Kerajaan Islam Samudera Pasai berdiri tidak ada suatu kepastian tahun yang didapat. Para peminat dan ahli sejarah masih belum bisa memperoleh suatu kesepakatan mengenai hal ini. Menurut tradisi dan berdasarkan penyelidikan atas beberapa sumber sementara , terutama yang dilakukan oleh sarjana-sarjana Barat khususnya para sarjana Belanda sebelum perang seperti Snouck Hurgronye, J.P. Moquette, J.L. Moens, J. Hushoff Poll, G.P. Rouffaer, H.K.J. Cowan, dan lain-lain, menyebutkan, bahwa Kerajaan Islam Samudera Pasai baru berdiri pada pertengahan abad ke XIII. Dan sebagai pendiri kerajaan ini adalah Sultan Malik As Salih yang meninggal pada tahun 1297.

Selain pendapat yang dikemukakan oleh para sarjana Belanda itu, baik dalam seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia yang berlangsung di Medan sejak tanggal 17 s/d 20 Maret 1963, maupun dalam seminar Masuk dan Berkembangnya Islam di Daerah Istimewa Aceh yang berlangsung di Banda Aceh pada tanggal 10 s/d 16 Juli 1978, oleh beberapa sejarawan dan cendikiawan Indonesia (diantaranya Prof. Hamka, Prof. A.Hasjmy, Prof. H.Aboe Bakar Atjeh, H. Mohammad Said dan M.D. Mansoer) yang ikut serta dalam kedua seminar tersebut telah pula melontarkan beberapa pendapat dan dalil-dalil baru yang berbeda dengan yang lazim dikemukakan oleh para sarjana Belanda seperti tersebut di atas.

Berdasarkan beberapa petunjuk dan sumber-sumber baru yang mereka kemukakan diantaranya keterangan-keterangan para musafir Arab tentang Asia Tenggara dan dua buah naskah lokal yang diketemukan di Aceh yaitu, “Idhahul Hak Fi Mamlakatil Peureula” karya Abu Ishak Al Makarany dan Tawarich Raja-raja Kerajaan Aceh ,mereka berkesimpulan bahwa Kerajaan Islam Samudera Pasai sudah berdiri sejak abad ke XI M, atau tepatnya pada tahun 433 H (1042 M). Dan sebagai pendiri serta sultan yang pertama dari kerajaan ini adalah Maharaja Mahmud Syah, yang memerintah pada tahun 433-470 H atau bertepatan dengan tahun 1042-1078 M.

Atas dasar peninggalan-peninggalan dan penemuan-penemuan dari hasil penggalian dan yang dilakukan oleh Dinas Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dapat diketahui bahwa lokasi kerajaan ini di daerah yang dewasa ini dikenal dengan nama Pasai. Yaitu suatu daerah di pantai Timur Laut Pulau Sumatera yang terletak antara dearah Peusangan dengan Sungai Jambo Aye di kabupaten Aceh Utara, Propinsi Daerah Istimewa Aceh. G.P. Rouffaer, salah seorang sarjana Belanda yang menyelidiki tentang kerajaan ini menyatakan bahwa Pasai mula-mula terletak di sebelah kanan Sungai Pasai, sedangkan Samudera berada di sebelah kirinya, tetapi lama kelamaan Samudera dan Pasai ini menjadi satu dan disebut Kerajaan Samudera Pasai

Menurut berita-berita luar yang juga diceritakan dalam Hikayat Raja-raja Pasai kerajaan ini letaknya di kawasan Selat Melaka pada jalur hubungan laut yang ramai antara dunia Arab, India dan Cina. Disebutkan pula bahwa kerajaan ini pada abad ke XIII sudah terkenal sebagai pusat perdagangan di kawasan itu.

Nama Samudera dan Pasai sudah populer disebut-sebut baik oleh sumber-sumber Cina, Arab dan Barat maupun oleh sumber-sumber dalam negeri seperti Negara Kertagama (karya Mpu Prapanca, 1365) pada abad ke XIII dan ke XIV M. Dan tentang asal usul nama kerajaan ini ada berbagai pendapat. Menurut J.L. Moens, kata Pasai berasal dari istilah Parsi yang diucapkan menurut logat setempat sebagai Pa’Se. Dengan catatan bahwa sudah semenjak abad ke VII M, saudagar-saudagar bangsa Arab dan Parsi sudah datang berdagang dan berkediaman di daerah yang kemudian terkenal sebagai Kerajaan Islam Samudera Pasai . Pendapat ini adalah sesuai dengan apa yang telah dikemukakan oleh Prof. Gabriel Ferrand dalam karyanya (L’Empire, 1922, hal.52-162), dan pendapat Prof. Paul Wheatley dalam (The Golden Khersonese, 1961, hal.216), yang didasarkan pada keterangan para musafir Arab tentang Asia Tenggara. Kedua sarjana ini menyebutkan bahwa sudah sejak abad ke VII M, pelabuhan-pelabuhan yang terkenal di Asia Tenggara pada masa itu, telah ramai dikunjungi oleh para pedagang dan musafir-musafir Arab. Bahkan pada setiap kota-kota dagang itu telah terdapat fondachi-fondachi atau permukiman-permukiman dari pedagang-pedagang yang beragama Islam. Mohammad Said, salah seorang wartawan dan cendikiawan Indonesia yang berkecimpung dengan penelitiannya tentang kerajaan ini dan kerajaan Aceh, dalam prasarannya yang berjudul “Mentjari Kepastian Tentang Daerah Mula dan Cara Masuknya Agama Islam ke Indonesia, berkesimpulan bahwa istilah PO SE yang populer digunakan pada pertengahan abad ke VIII M seperti terdapat dalam laporan-laporan Cina, adalah identik atau mirip sekali dengan Pase atau Pasai.

Sehubungan dengan asal nama kerajaan Samudera Pasai ini, Hikayat Raja-raja Pasai salah sebuah Historiografi Melayu yang banyak mengandung unsur-unsur Mythe, Legende, Geneologi dan Sejarah di dalamnya , memberi suatu keterangan yang berkaitan dengan totemisme, yaitu disebutkan antara lain:
“…pada suatu hari merah Silu pergi berburu. Maka ada seekor anjing dibawanya akan perburuan Merah Silu itu bernama si Pasai. Maka dilepaskannya anjing itu lalu menjalak di atas tanah tinggi itu. Maka dilihatnya ada seekor semut besarnya seperti kucing maka ditangkapnya oleh erah Silu itu lalu dimakannya. Maka tanah tinggi itupun disuruh Merah Silu tebas pada segala orang yang sertanya itu. Maka setelah itu diperbuatnya akan istananya. Setelah sudah maka Merah Silupun duduklah ia di sana dengan segala hulubalangnya dan segala rakyatnya diam ia di sana maka dinamai oleh Merah Silu negeri Samudera, artinya semut yang amat besar.

Selanjutnya tentang asal nama Pasai, baik Hikayat Melayu maupun Hikayat Raja-raja Pasai menyebutkan sebagai berikut:
“…setelah sudah jadi negeri itu maka anjing perburuan yang bernama si Pasai itupun matilah pada tempat itu. Maka disuruh sultan tanamkan dia di sana juga. Maka dinamai baginda akan nama anjing nama negeri itu”.
Kalau kita berpegang dari keterangan kedua hikayat yang mithologis tersebut, maka nama Samudera berasal dari nama seekor semut besar dan nama Pasai berasal dari nama anjingpiaraan Raja merah Silu, yaitu si Pasai. Hal ini sangat menarik untuk diselidiki lebih lanjut, sejauh mana terdapat hubungan antara totemisme dengan usaha pemberian keterangan tentang asal dan arti kerajaan Islam Samudera Pasai itu. Karena lazimnya untuk nama kerajaan-kerajaan di Nusantara ini sebelum tahun 1500, diambil dari nama pohon, buah-buahan dan lain sebagainya.

Seperti juga disebutkan dalam kedua hikayat tersebut di atas, bahwa raja Samudera Pasai yang pertama sekali menganut agama Islam adalah Malik As Salih. Pada nisan sultan ini yang dibuat dari batu graniet dapat diketahui bahwa ia mangkat pada bulan Ramadhan tahun 696 H, yang diperkirakan bertepatan dengan tahun 1297 M.Tentang bagaimana dan siapa yang mengembangkan agama Islam buat pertama kali di kerajaan ini, Hikayat Raja-raja Pasai antara lain meyebutkan sebagai berikut:
“…pada zaman Nabi Muhammad Rasul Allah salla’llahu ‘alaihi wassalama tatkala lagi hajat hadhrat jang maha mulja itu, maka sabda ia pada sahabat baginda di Mekkah, demikian sabda baginda: “Bahwa ada sepeninggalku itu ada sebuah negeri di atas angin samudera namanja. Apabila ada didengar kabar negeri itu maka kami suruh kamu sebuah kapal membawa perkakas dan kamu bawa ia orang dalam negeri masuk agama Islam serta mengutjapkan dua kalimah sjahadat. Sjahdan lagi akan didjadikan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam negeri itu terbanjak daripada segala wali Allah djadi dalam negeri itu”.

Dan tentang pengislaman serta penggantian nama Raja Merah Silu dengan nama yang baru Malikul Salih, hikayat itu juga memberi keterangan:
“Sebermula maka bermimpi Merah Silu dilihatnja dalam mimpinja itu ada seorang-orang menumpang dagunya dengan segala djarinja dan matanja ditutupnja dengan empat djarinja, demikian katanja: “Hai Merah Silu, udjar olehmu dua kalimah Sjahadat”.

Maka sahut Merah Silu “Tiada hamba tahu mengutjap akan dia”.

Maka Udjarnya: “Bukakan mulutmu”. Maka dibukanja mulut Merah Silu, maka diludahinja mulut merah silu itu rasanya lemak manis. Maka udjarnja akan merah silu “Hai Merah Silu engkaulah Sultan Malikul’-Saleh namamu sekarang Islamlah engkau dengan mengutjap dua kalimah itu…”

Hikayat itu juga menyebutkan bahwa orang yang menyebarkan/mengislamkan Sultan Samudera Pasai itu adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad Rasul Allah Salla’llahu’alaihi wasallam, yaitu seorang Syarif berasal dari Mekah yang bernama Syarif Syaih Ismail .

Selain menurut hikayat tersebut, tradisi setempat juga menyebutkan bahwa raja pertama yang memeluk agama Islam di wilayah itu adalah Sultan Malik Al Salih. Tetapi menurut catatan atau suatu sumber yang dimiliki oleh M. Junus Jamil, menyebutkan bahwa pada awal bulan Zulkaidah 610 Hijrah (1213 M), telah meninggal di kerajaan itu (Samudera Pasai) seorang Wazir Sultan Al Kamil yang bernama Maulana Quthubulma’ali Abdurrahman Al Pasi. Kalau sumber ini benar maka keterangan tersebut bermakna bahwa jauh sebelum Malik As Salih sudah terdapat sultan yang memeluk agama Islam di kerajaan itu. Seperti telah disebutkan bahwa raja Samudera Pasai yang pertama berdasarkan sumber sejarah yang konkrit ialah Malik As Salih yang meninggal tahun 1297. Kalau dalam tahun 1297, kita kenal sebagai tahun kematian raja itu, tentunya masyarakat Islam di kerajaan itu telah terdapat jauh sebelumnya. Karena pertumbuhan sesuatu biasanya menghendaki suatu proses, suatu tempo yang lama. Demikian juga dari keterangan yang diberikan Hikayat Raja-raja PasaiI seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa Nabi Muhammad telah menyebutkan nama kerajaan Samudera dan juga agar penduduk kerajaan itu diislamkan oleh salah seorang sahabat beliau, maka bukan tidak mungkin Islam sudah masuk ke kerajaan itu tidak lama sesudah Nabi Muhammad wafat. Jadi pada sekitar abad pertama Hijrah atau bertepatan dengan abad ketujuh/kedelapan tahun Masehi. Dan dapat pula diperkirakan bahwa Islam yang masuk itu langsung datang dari Mekah.

Bukanlah maksud penulis di sini untuk membuat suatu uraian panjang lebar tentang masalah proses masuknya Islam ke Kerajaan Samudera Pasai. Sebagaimana telah penulis singgung pada awal tulisan ini, adalah masih sangat sukar untuk merekonstruksikan sejarah kerajaan-kerajaan di wilayah Indonesia pada periode sebelum tahun 1500, oleh karena bukti sejarah tentang hal itu masih belum memadai. Di sini penulis hanya mencoba merangkaikan suatu gambaran sejarah berdasarkan tulisan-tulisan yang telah ada tentang kerajaan itu. Maka untuk mendapat suatu gambaran historis dari perkembangan Kerajaan Islam Samudera Pasai, berikut ini akan ditinjau beberapa aspek, terutama tentang sistem sosio kulturil yang penulis perkirakan berlaku di kerajan itu.

Seperti diketahui, Samudera Pasai adalah sebuah kerajaan yang bercorak Islam dan sebagai pimpinan tertinggi kerajaan berada di tangan sultan yang biasanya memerintah secara turun temurun. Lazimnya kerajaan-kerajaan pantai atau kerajaan yang berdasarkan pada kehidupan/kejayaan maritim yang termasuk dalam struktur kerajaan tradisionil kerajaan-kerajaan Melayu, seperti kerajaan Islam Samudera Pasai, disamping terdapat seorang sultan sebagai pimpinan kerajaan, terdapat pula beberapa jabatan lain, seperti Menteri Besar (Perdana Menteri atau Orang Kaya Besar), seorang Bendahara, seorang Komandan Militer atau Panglima Angkatan laut yang lebih dikenal dengan gelar Laksamana, seorang Sekretaris Kerajaan, seorang Kepala Mahkamah Agama yang dinamakan Qadi, dan beberapa orang Syahbandar yang mengepalai dan mengawasi pedagang-pedagang asing di kota-kota pelabuhan yang berada di bawah pengaruh kerajaan itu. Biasanya para Syahbandar ini juga menjabat sebagai penghubung antara sultan dan pedagang-pedagang asing.

Sebagaimana lazimnya sebuah kerajaan maritim, Kerajaan Islam Samudera Pasai dapat berkembang karena mempunyai suatu kekuatan angkatan laut yang cukup besar menurut ukuran masa itu dan mutlak diperlukan untuk mengawasi perdagangan di wilayah kekuasaannya. Dan karena sebagai kerajaan maritim, kerajaan ini sedikit sekali mempunyai basis agraris yang hanya diperkirakan berada sekitar sebelah –menyebelah sungai Pasai dan sungai Peusangan saja, dimana terdapat sejumlah kampung-kampung (meunasah-meunasah) yang merupakan unit daripada bentuk masyarakat terkecil di wilayah Samudera Pasai pada waktu itu. Dan selain itu meunasah-meunasah ini merupakan lembaga-lembaga pemerintahan terkecil pula dari Kerajaan Samudera Pasai pada waktu itu.

Pengawasan terhadap perdagangan dan pelayaran di kota-kota pantai yang berada di bawah pengaruh Kerajaan Samudera Pasai merupakan sendi-sendi kerajaan yang memungkinkan kerajaan memperoleh penghasilan dan pajak yang besar selain upeti-upeti yang dipersembahkan oleh kerajaan-kerajaan di bawah pengaruhnya. Perdagangan yang menjadi basis hubungan-hubungan yang tetap dengan kerajaan-kerajaan luar seperti dengan Malaka, Cina, India dan sebagainya, telah menjadikan Kerajaan Islam Samudera Pasai sebagai sebuah Kerajaan Islam yang sangat terkenal dan berpengaruh di kawasan Asia Tenggara terutama pada abd ke XIV dan XV. Karena kebesarannya itu, maka Kerajaan Islam Samudera Pasai telah pula dapat mengembangkan penyiaran agama Islam ke wilayah-wilayah lainnya di Nusantara pada waktu itu.

Diantaranya ke Minangkabau, Palembang, Jambi, Patani, Malaka, Jawa dan beberapa kerajaan pantai di sekitarnya. Pada abad ke XIV Kerajaan Islam Samudera Pasai menjadi pusat studi agama Islam dan juga tempat berkumpul ulama-ulama dari berbagai negara Islam untuk berdiskusi tentang masalah-masalah keduniawian dan keagamaan. Berdasarkan berita dari Ibn.Batutah, seorang pengembara asal Maroko yang mengunjungi Samudera Pasai pada tahun 1345/6, kerajaan ini berada pada puncak kejayaannya. Ibn-Batutah berada dikerajaan ini selama dua minggu dan telah melihat banyak tempat ini(kraton Samudera Pasai), mempunyai benteng di sekelilingnya. Dia telah diterima oleh wakil laksamana di Balairung dan telah diberi persalinan menurut adat setempat. Pada hari ketiga di sana Ibn Batutah mendapat kesempatan untuk menghadap sultan yang memerintah pada ketika itu yaitu Sultan Malikul Zahir yang dianggapnya sebagai sultan yang termasyur dan peramah. Selama di Samudera Pasai Ibn Batutah telah berjumpa dengan tiga orang ulama terkenal, yang masing-masing bernama Amir Dawlasa berasal dari Delhi (India), Kadi Amir Said berasal dari Shiraz dan Tajuddin berasal dari Ispahan. Dan disebutkan bahwa sultan Samudera Pasai sangat suka berdiskusi masalah-masalah agama dengan ulama-ulama itu.

Dengan melihat Samudera Pasai sebagai pusat studi dan pertemuan para ulama seperti tersebut di atas dan sesuai dengan yang telah diutarakan oleh Prof.A.Hasjmy, bahwa banyak sekali tokoh dan para ahli dari berbagai disiplin pengetahuan yang datang dari luar seperti dari Persia (bagian dari Daulah Abbasiyah) untuk membantu kerajaan Islam Samudera Pasai, maka dapat dipastikan bahwa sistem dan organisasi pemerintahan di kerajaan itu, tentunya seirama dengan sistem yang dianut oleh pemerintahan daulah Abbasiyah. Dan menurut catatan Ibn Batutah, diantara pejabat tinggi Kerajaan Islam Samudera Pasai yang ikut melepaskan sultan meninggalkan mesjid di hari Jum’at yaitu Al Wuzara (para menteri) dan Ak Kuttab (para sekretaris) dan para pembesar lainnya . Selain itu menurut catatan M.Yunus Jamil, bahwa pejabat-pejabat Kerajaan Islam Samudera Pasai terdiri dari orang-orang alim dan bijaksana. Adapun nama-nama dan jabatan-jabatan mereka adalah sebagai berikut:
1. Seri Kaya Saiyid Ghiyasyuddin, sebagai Perdana Menteri.
2. Saiyid Ali bin Ali Al Makaarani, sebagai Syaikhul Islam.
3. Bawa Kayu Ali Hisamuddin Al Malabari, sebagai Menteri Luar Negeri.

Dari catatan-catatan, nama-nama dan lembaga-lembaga seperti tersebut di atas, Prof.A.Hasjmy berkesimpulan bahwa, sistem pemerintahan dalam Kerajaan Islam Samudera Pasai sudah teratur baik, dan berpola sama dengan sistem pemerintahan Daulah Abbasiyah di bawah Sultan Jalaluddin Daulah (416-435 H).

Untuk lebih mempererat hubungan antar kerajaan-kerajaan yang berada di bawah pengaruh Samudera Pasai ditempuh pula lewat jalan perkawinan. Dapat disebutkan di sini misalnya, perkawinan antara putri-putri dari Kerajaan Perlak dengan sulthan-sulthan Kerajaan Samudera Pasai. Selain itu juga Raja Malaka yang pertama Parameswara setelah memeluk agama Islam telah mempersunting puteri Kerajaan Pasai sebagai isterinya. Dan dengan adanya perkawinan ini telah meningkatkan pula hubungan perdagangan antara Malaka dengan Kerajaan Samudera Pasai. Juga pada masa kejayaan kerajaan ini seorang ulama Pasai yang bernama Fatahillah, telah melakukan dakwah Islam sampai ke Pulau Jawa. Dan setelah mengislamkan Banten serta memperisteri putri dari kerajaan tersebut, kemudian mendirikan suatu kesultanan di sana.

Berdasarkan beberapa mata uang emas yang disebut deureuham, yang berhasil diketemukan sebagai sebagai salah satu peninggalan dari kerajaan itu, menunjukkan bahwa kerajaan Islam Samudera Pasai cukup makmur pada kurun waktu seperti tersebut di atas. Karena sebuah kerajaan yang dapat menerbitkan mata uang emas sendiri pada masa itu, menandakan bahwa kerajaan itu cukup makmur menurut ukuran masa itu. Mata uang emas Kerajaan Samudera Pasai ini telah diperkenalkan pula oleh orang-orang kerajaan itu ke beberapa bandar perdagangan di Nusantara pada waktu itu, diantaranya ke bandar Malaka.

Atas dasar mata uang emas yang pernah diketemukan itu, dapat diketahui pula beberapa nama-nama raja yang pernah memerintah di Kerajaan Islam Samudera Pasai. Menurut T. Ibrahim Alfian yang mendasarkan atas mata uang emas tersebut, urutan-urutan raja yang memerintah di kerajaan tersebut adalah sebagai berikut: sebagai sulthan yang pertama adalah sulthan Malik As Salih yang memerintah pada tahun 1297. Sulthan ini diganti oleh puteranya yang bernama Sulthan Muhammad Malik Az Zahir (1297-1326); sebagai sulthan yang ketiga yaitu sulthan Mahmud Malik Az-Zahir (1326 ± 1345); sulthan yang keempat adalah Mansur Malik Az-Zahir (?- 1346); sulthan yang kelima adalah Sulthan Ahmad Malik Az-Zahir yang memerintah (ca. 1346-1383); sebagai sulthan yang keenam yaitu Sulthan Zain Al-Abidin Malik Az-Zahir yang memerintah (1383-1405); sulthan yang ketujuh yaitu Sultanah Nahrasiyah, yang memerintah (1405-1412); sebagai sulthan yang kedelapan yaitu Sulthan Sallah Ad-Din yang memerintah (ca.1402-?); sulthan yang kesembilan yaitu Abu Zaid Malik Az-Zahir (?-1455); sebagai sulthan yang kesepuluh yaitu Mahmud Malik Az-Zahir, memerintah (ca.1455-ca. 1477); sulthan yang kesebelas yaitu Zain Al-‘Abidin, memerintah (ca.1477-ca.1500); sebagai sulthan yang sebagai kedua belas yaitu Abdullah Malik Az-Zahir, yang memerintah (ca.1501-1513); dan sebagai sulthan yang terakhir dari Kerajaan Islam samudera Pasai adalah Sulthan Zain Al’Abidin, yang memerintah tahun 1513-1524.

Setelah tahun 1524, Kerajaan Islam Samudera Pasai berada di bawah pengaruh kesultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam.



Kesimpulan dan Analisis Buku ”Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara”

Sejarah telah menugasi dirinya untuk menilai masa lalu dan untuk menyusun catatan demi kemaslahatan masa depan. Menunjukkan hal-hal yang belum ditunjukkan oleh catatan yang sekarang ada; tugas semata-mata untuk menunjukkan apa yang senyatanya terjadi
Frase diatas merupakan tulisan Ranke pada bukunya yang berjudul History of The Latin and Teutonic Nations, dimana dia sangat berharap bahwa sejarah merupakan sebuah catatan kebenaran yang diambil dari hieroglyph suci dan pertarungan antar perspektif dan fakta. Marnie-Hughes Warrington dalam buku 50 Tokoh Penting Dalam Sejarah malah menyebut Ranke sebagai seorang sejarawan tanpa warna, dimana tidak terdapat emosi dalam tulisan-tulisannya serta sangat obyektif, walaupun mengenai obyektifitas Ranke ini masih diperdebatkan oleh para sejarawan.
Sang sejarawan Jerman ini dikenal sebagai bapak penulisan sejarah, karena prinsip kritik sumber yang beliau perkenalkan kepada dunia luar. Selain itu dunia mengenal beliau sebagai ilmuwan sejarah yanng melahirkan karya-karya brilian antara lain Geschite der Romanischen und Germanischen Volker von 1494 bis 1514 (History of The Latin and Teutonic Nations from 1494 to 1514), Die römischen Päpste in den letzen vier Jahrhunderten (The Roman Popes in the Last Four Centuries), Hardenberg und die Geschichte des preussischen Staates von 1793 bis 1813 (Hardenberg and the History of the Prussian State from 1793 to 1813), dan Weltgeschichte - Die Römische Republik und ihre Weltherrschaft (World history: the Roman Republic and its world rule).
Masa Muda
Leopold Ranke dilahirkan di Wiehe pada 21 Desember 1795 dalam sebuah keluarga penganut Lutheran yang taat. Sang ayah, Gottlob Israel Ranke adalah seorang pengacara, sementara apabila ditelusuri lebih jauh, nenek moyang Ranke dikenal sebagai pejabat yang berada di kementrian agama. Leopold mengawali studinya di Dondorf, lalu ia melanjutkan ke sebuah sekolah swasta yang cukup terkenal di Pforta (Gymnasium of Schulpforta). Pada tahun 1814 ia melanjutkan studinya di Universitas Leipzig, dengan fokus pada ilmu sejarah dan teologi Lutheran. Sebagai mahasiswa ia sangat menggemari tulisan-tulisan Tuchydides, Livy, Dionysus, Goethe, dan Kant. Ia juga menunjukkan minatnya pada sejarah modern dimana sebenarnya itu lebih karena ketidakpuasannya akan buku sejarah yang hanya memberikan sumber mentah tanpa ada kajian lebih mendalam terhadap sumber tersebut.

Bapak Sejarah Modern
Kebenciannya terhadap buku teks membuatnya terobsesi untuk segera lulus dan mengembangkan ilmu sejarah modern. Ia segera menamatkan studinya dan mengajar sejarah di Friedrich Gymnasium di Frankfurt. Pada masa inilah ia benar-benar menghabiskan waktunya untuk berkutat dengan pengembangan ilmu sejarah modern yang lebih profesional sekalian mencari makna akan ketuhanan melalui bidang sejarah. Usaha pertamanya ini menghasilkan sebuah buku yang sangat fenomenal, yaitu Geschite der Romanischen und Germanischen Volker von 1494 bis 1514 (History of The Latin and Teutonic Nations from 1494 to 1514) yang terbit pada tahun 1824. Di buku ini ia menuliskan mengenai persatuan enam bangsa dibawah Kerajaan Crolingia melalui tiga periode besar Eropa, yaitu masa migrasi besar-besaran, masa perang salib, dan masa kolonisasi.
Dengan kemampuan sejarah dan filologi-nya, Ranke memperkenalkan sebuah metode kritik sumber dalam penulisan buku sejarah pertamanya. Dalam penulisannya ia mengklaim bahwa ia tidak hanya memasukkan fakta mentah, tetapi juga tulisan-tulisan yang bersifat pribadi seperti catatan harian hingga dokumen resmi pemerintah ia masukkan ke dalam bukunya. Metode kritik sumber ia terapkan sehingga mahakarya Geschite der Romanischen und Germanischen Volker von 1494 bis 1514 dapat lahir dari tangannya.Buku pertamanya ini langsung membuka akses untuk mengembangkan studinya lebih lanjut. Menteri Pendidikan Kerajaan Prussia saat itu, Karl Albert Kamptz, memberikan sebuah jabatan di Universitas Berlin. Jabatan ini memberinya keleluasaan dalam pengembangan studi sejarah klasik dan metode penulisan sejarah modern yang dipakainya. Tetapi, di Universitas Berlin, Ranke terlibat perselisihan intelektual antara pendukung Savigny dan pendukung Hegel. Sebuah pertentangan intelektual mengenai perspektif sejarah, dimana Savigny menekankan bahwa sejarah terbagi menjadi beberapa jenis pengalaman individu (beberapa jenis periode), sementara Hegel menganggap bahwa sejarah adalah kisah yang universal (satu jenis periode). Dalam hal ini Ranke mendukung ide Savigny dan mengkritisi para Hegelian (pengikut Hegel).
Selain itu, pekerjaannya sebagai editor dalam jurnal Historisch-Politische Zeitschrift membawanya lebih dalam untuk menuangkan pemikiran-pemikiran dan gagasannya dalam pengembangan penulisan sejarah modern. Ranke adalah seorang konservatif, sehingga ia menyerang pemikiran kaum liberalis melalui jurnal-jurnal tersebut. Hal yang paling ia tekankan adalah tidak perlunya sebuah revolusi terjadi di Prussia, karena Prussia bukan Perancis. Ia mengemukakan bahwa Tuhan telah menciptakan karakter khusus bagi sebuah negara beserta masyarakatnya, dan rakyat harus berusaha sekuat tenaga untuk mentradisikan karakter khas negaranya. Dalam hal ini ia sepakat dengan Hegel mengenai sebuah negara haruslah memiliki ideologi sendiri dan tidak tunduk terhadap pemikiran (ideologi) eksternal. Negara haruslah membentengi diri dari pengaruh-pengaruh luar.
Tahun 1834 ia melahirkan sebuah karya yang berjudul Die römischen Päpste, ihre kirche und ihr Staat im sechzehnten und siebzehnten Jahrhundert (History of the Popes, their Church and State). Ia tidak memakai sumber arsip-arsip di Vatikan (karena sebagai seorang Protestan ia dilarang menggunakan arsip-arsip tersebut), melainkan dengan surat menyurat dan tulisan-tulisan pribadi mengenai Vatikan. Ia menggunakan kembali metode kritik sumber dan mampu dengan baik menjelaskan sejarah kepausan tersebut. Pihak Gereja Vatikan menganggap bukunya tersebut sebagai buku yang anti-katolik, sementara orang-orang Protestan menganggapnya terlalu netral. Tetapi buku ini mendapat apresiasi positif dari berbagai kalangan. Sejarawan dunia langsung mengakui kecanggihan metode Ranke dan ia mendapat banyak pujian karenanya. Seorang ahli sejarah abad ke-16 dari Inggris, Lord Acton, memberikan apresiasi dimana karya Ranke adalah karya yang paling seimbang dalam penulisan sejarah gereja abad ke-16.
Kenetralan dan usaha-usaha untuk menyerang kaum reformis, liberalis, dan demokratis ia tuangkan kembali dalam bukunya yang berjudul Deutsche Geschichte im Zeitalter der Reformation (History of the Reformation in Germany). Disini ia menjelaskan bahwa reformasi Jerman adalah akibat dari pertentangan antar kelompok politik dan agama.
Lalu pada tahun 1841 ia diangkat sebagai historiografer istana, dimana ia mendedikasikannya dengan sebuah buku mengenai sejarah Prussia yang berjudul Neun Bücher Preussischer Geschichte (Memoirs of the House of Brandenburg and History of Prussia, During the Seventeenth and Eighteenth Centuries). Buku yang ditulisnya dalam periode 1847 hingga 1848 ini menyeretnya dalam sebuah masalah, dimana ia digugat oleh para sejarawan kerajaan ke pengadilan. Dalam buku ini ia ditekan oleh kaum nasionalis-Prussia karena menulis mengenai Kerajaan Prussia hanya sebagai sebuah negara-provinsial biasa dalam Kekaisaran Jerman, bukan sebagai kerajaan penting dalam Kekaisaran.
Tahun 1865 nama Leopold Ranke dibersihkan dan dibebaskan dari segala tuntutan. Ia sebelumnya juga sempat memberikan kuliah kepada pangeran Maximilian, dimana ia menjelaskan hubungan kenetralan sejarah dengan pencarian makna Tuhan. Pada tahun tersebut ia juga memperoleh gelar kebangsawanan dari kerajaan berupa penyematan nama “von” di dalam namanya. Lalu pada tahun 1884 ia menjadi anggota kehormatan American Historical Association.
Leopold von Ranke pensiun sebagai pengajar pada tahun 1871, tetapi pada masa tuanya ia masih tetap saja menulis dan berkarya. Banyak buku yang ia hasilkan setelah pensiun, dimana buku yang cukup fenomenal berjudul Weltgeschichte - Die Römische Republik und ihre Weltherrschaft (World history: the Roman Republic and its world rule) ia terbitkan pada tahun 1886. Buku yang ia tulis sejak tahun 1880 ini mengenai sejarah dunia yang ia mulai dari zaman Mesir Kuno dan Israel, tetapi hingga kematiannya pada tahun 1886 ia hanya sanggup sampai abad ke-12. Akhirnya buku ini dilanjutkan oleh mahasiswanya, Alfred Dove, dengan menggunakan catatan-catatan Ranke sehingga mampu menyentuh tahun 1453 sebagai akhir penulisan sejarah dunia dalam buku tersebut. Meskipun seharusnya ke-universal-an sejarah menuntut Ranke untuk menulis mengenai zaman pra-sejarah, tetapi Ranke meminggirkannya karena ketiadaan bukti dan fakta.

Kritik Sumber
Metode yang digunakan oleh Ranke ialah kritik sumber, hal ini berdasar pada prinsipnya akan wie es eigentlich gewesen (sejarah yang sesungguhnya terjadi). Ia sangat membenci buku-buku teks yang dianggapnya hanya merupakan kisah belaka dan pemaparan fakta tunggal. Sebagai sejarawan, ia sangat berhati-hati dalam pemilihan sumber dan membuang jauh-jauh segala pemikiran subyektifnya. Ia juga memperkenalkan metode seminar sebagai metode pengajaran sejarah yang efektif.
Sejarah tanpa warna yang dihadirkan Ranke menuai berbagai tanggapan. Bagi beberapa sejarawan yang tidak sependapat dengan Ranke mengemukakan bahwa sejarah dapat hidup ketika hanya menghadirkan fakta (data) saja tanpa ada pembandingan sumber dan perspektif, sementara bagi Ranke sejarah adalah sebuah kebenaran yang harus mampu menunjukkan kehadiran peran Tuhan di muka bumi. Oleh karena itu baginya sejarah itu lebih dari sekedar fakta dan data. Sementara bagi generasi sejarawan sesudah Ranke, kebanyakan sejarawan abad XIX menganggap bahwa prinsip Ranke adalah prinsip yang naif dan membosankan dalam menghadirkan sejarah.
Ranke dalam penulisan buku-buku sejarahnya berusaha mencari sumber dari berbagai golongan yang terlibat dalam objek peristiwa sejarah yang ia tulis. Seperti dalam buku Die römischen Päpste in den letzen vier Jahrhunderten (The Roman Popes in the Last Four Centuries), dimana ia dilarang mengambil sumber dari arsip Vatikan lalu ia mengambil dari surat-surat pribadi, jurnal, dan buku-buku yang sebelumnya menuliskan mengenai Vatikan. Lalu sumber-sumber tadi ia benturkan dengan sumber-sumber lain dari golongan Protestan. Sehingga buku ini mendapat apreisasi yang positif dari berbagai kalangan akan kenetralannya.

Kenetralan atau ketidak-berpihakan sejarawan menjadi alasan sebuah penulisan akan sebuah peristiwa sejarah itu dianggap “benar”. Prinsip netralitas yang dianut Ranke ini menjadi semangat para sejarawan untuk mengungkap sebuah kebenaran peristiwa. Sehingga prinsip sejarah sebagai “pengadilan masa lalu dan dipelajari di masa kini untuk kepentingan di masa depan” dapat berjalan dengan baik.

Daftar Pustaka
Hughes-Warrington, Marnie. 50 Tokoh Penting Dalam Sejarah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2008.

Wacana Nusantara: Penelitian Sejarah, Sumber Langka, dan Kelangkaan Sumber.
http://www.wacana-nusantara.org
Waktu akses: 19 Maret 2009, 01:22.

Age of The Sage: Leopold Von Ranke Historicism.
http://www.age-of-the-sage.org/history/historian/leopold_von_ranke
Waktu akses: 09 April 2009, 03:29.

Wikipedia, The Free Encyclopedia: Leopold Von Ranke.
http://en.wikipedia.org/wiki/leopold_von_ranke
Waktu Akses: 19 Maret 2009, 00:19

Dunia Esai: Dekolonisasi Historiografi.
http://www.duniaesai.com/sejarah
Waktu Akses: 19 Maret 2009, 00:32