Translate

Tampilkan postingan dengan label Pedagogik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pedagogik. Tampilkan semua postingan

Ciri-ciri Anak yang Dominan Menggunakan Otak Kanan

Serba Sejarah - Ciri-ciri umum:
Terlambat bicara dibandingkan anak seusianya
Sulit Membaca terutama membaca bersuara
Sulit mengeja suku kata
Sulit mengerjakan soal-soal matematika logika/rumus-rumus terkadang lebih mudah soal cerita
Sering memandang ke atas dan terlihat seperti melamun
Kurang suka mencatat (karena proses mencatat menghambat proses visualisasi)
Sering membaca terbalik-balik
Sering membaca melompat dan beberapa kata tertinggal atau terlompati
Bisa membaca dari belakang atau dengan urutan terbalik
Jika berbicara tidak runtut dan sistematis
Sulit mengungkapkan keinginannya dalam bentuk kata/kalimat
Sering bicara tidak nyambung dengan pertanyaan
Cepat hafal tempat/lokasi dan rute perjalanan
Kadang suka berkhayal dan menceritakan fantasinya
Konsentrasi rendah pada pekerjaan yang kurang disukainya
Konsentrasi tinggi dan lama pada hal-hal yang menarik minatnya.

Cara Bekerja otak kanan:
Kreatif --> ingin mengetahui hal-hal baru dan menemukan cara-cara baru yang tidak konvensional, melihat alternatif solusi dari berbagai permasalahan.
Spasial Tiga Dimensi, mampu melihat dan membayangkan sesuatu secara tiga dimensi; bisa melihat dari kanan ke kiri, atas ke bawah dan sebaliknya. serta membolak balik huruf, angka dan gambar.
Memori Fotografi, mampu merekam informasi dalam bentuk gambar-gambar baik dalam bentuk diam atau seperti film yang bergerak. Memiliki papan layar di otaknya.
Art --> melihat sebuah pekerjaan sebagai proses seni yang mengandalkan rasa dan estetika yang sering kali tidak bisa dibatasi oleh waktu dan bekerja berdasarkan inspirasi dan mood.
Deduktif --> terlebih dahulu harus melihat gambaran besarnya atau hasil akhirnya baru bergerak menyusun langkah demi langkah dan tahapan prosesnya.
Random --> Menyusun dan mengolah informasi secara acak, sehingga penyampaian informasinyapun cenderung tidak sistematis.
Visual --> Bekerja dalam bentuk gambar; sering kali sulit menuangkan ide gambarnya tersebut kedalam kalimat atau kata-kata yang dipahami.
Global --> Lebih menyukai gambaran umum dan kurang menyukai hal-hal detail.
Konklusif --> Menarik kesimpulan umum dari kepingan-kepingan informasi.
Eksekusi 2 langkah --> Merekam informasi baru memaknainya.
Inspirational --> bekerja berdasarkan datangnya inspirasi bersifat dadakan dan tidak terencana.

Perbandingan Kerja Otak Kiri dan Kanan:
a. Simbol vs Gambar
b. Runtut/Sekuen vs Acak/Random
c. Logika vs Kreatif/Seni
d. Detail ke Global vs Global ke detail.
e. Setahap demi setahap vs Langsung
f. Proses then memori vs memori then proses
g. Duplikasi vs imaginasi
h. Teratur vs acak dan melompat-lompat
i. Analisis mengurai vs Analisis Kesimpulan
j. Tenggat Waktu vs Bebas Waktu
k. Rencana vs Inspirasi
l. Objek Hitam Putih vs Objek yang berwarna warni

Sumber: http://forum.kompas.com/ 

Heboh Uji Kompetensi Guru

Serba Sejarah - Kompetensi Guru merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh Guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru, dinyatakan bahwasanya kompetensi yang harus dimiliki oleh Guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

1. Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik yang dimaksud dalam tulisan ini yakni antara lain kemampuan pemahaman tentang peserta didik secara mendalam dan penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik. Pemahaman tentang peserta didik meliputi pemahaman tentang psikologi perkembangan anak. Sedangkan Pembelajaran yang mendidik meliputi kemampuan merancang pembelajaran, mengimplementasikan pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran, dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.

Menurut Peraturan Pemerintah tentang Guru, bahwasanya kompetensi pedagogic Guru merupakan kemampuan Guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi:

1. Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan.
Guru memiliki latar belakang pendidikan keilmuan sehingga memiliki keahlian secara akademik dan intelektual. Merujuk pada sistem pengelolaan pembelajaran yang berbasis subjek (mata pelajaran), guru seharusnya memiliki kesesuaian antara latar belakang keilmuan dengan subjek yang dibina. Selain itu, guru memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam penyelenggaraan pembelajaran di kelas. Secara otentik kedua hal tersebut dapat dibuktikan dengan ijazah akademik dan ijazah keahlian mengajar (akta mengajar) dari lembaga pendidikan yang diakreditasi pemerintah.

2. Pemahaman terhadap peserta didik.
Guru memiliki pemahaman akan psikologi perkembangan anak, sehingga mengetahui dengan benar pendekatan yang tepat yang dilakukan pada anak didiknya. Guru dapat membimbing anak melewati masa-masa sulit dalam usia yang dialami anak. Selain itu, Guru memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap latar belakang pribadi anak, sehingga dapat mengidentifikasi problem-problem yang dihadapi anak serta menentukan solusi dan pendekatan yang tepat.

3. pengembangan kurikulum/silabus.
Guru memiliki kemampuan mengembangkan kurikulum pendidikan nasional yang disesuaikan dengan kondisi spesifik lingkungan sekolah.

4. Perancangan pembelajaran.
Guru memiliki merencanakan sistem pembelajaran yang memamfaatkan sumber daya yang ada. Semua aktivitas pembelajaran dari awal sampai akhir telah dapat direncanakan secara strategis, termasuk antisipasi masalah yang kemungkinan dapat timbul dari skenario yang direncanakan.

5. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis.
Guru menciptakan situasi belajar bagi anak yang kreatif, aktif dan menyenangkan. Memberikan ruang yang luas bagi anak untuk dapat mengeksplor potensi dan kemampuannya sehingga dapat dilatih dan dikembangkan.

6. Pemanfaatan teknologi pembelajaran.

Dalam menyelenggarakan pembelajaran, guru menggunakan teknologi sebagai media. Menyediakan bahan belajar dan mengadministrasikan dengan menggunakan teknologi informasi. Membiasakan anak berinteraksi dengan menggunakan teknologi.

7. Evaluasi hasil belajar.
Guru memiliki kemampuan untuk mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan meliputi perencanaan, respon anak, hasil belajar anak, metode dan pendekatan. Untuk dapat mengevaluasi, guru harus dapat merencanakan penilaian yang tepat, melakukan pengukuran dengan benar, dan membuat kesimpulan dan solusi secara akurat.

8. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Guru memiliki kemampuan untuk membimbing anak, menciptakan wadah bagi anak untuk mengenali potensinya dan melatih untuk mengaktualisasikan potensi yang dimiliki.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan ini adalah dengan melaksanakan penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas, berbasis pada perencanaan dan solusi atas masalah yang dihadapi anak dalam belajar. Sehingga hasil belajar anak dapat meningkat dan target perencanaan guru dapat tercapai. Pada prinsipnya, Kesemua aspek kompetensi paedagogik di atas senantiasa dapat ditingkatkan melalui pengembangan kajian masalah dan alternatife solusi.

2. Kompetensi Kepribadian
Pelaksanaan tugas sebagai guru harus didukung oleh suatu perasaan bangga akan tugas yang dipercayakan kepadanya untuk mempersiapkan generasi kualitas masa depan bangsa. Walaupun berat tantangan dan rintangan yang dihadapi dalam pelaksanaan tugasnya harus tetap tegar dalam melaksakan tugas sebagai seorang guru.

Pendidikan adalah proses yang direncanakan agar semua berkembang melalui proses pembelajaran. Guru sebagai pendidik harus dapat mempengaruhi ke arah proses itu sesuai dengan tata nilai yang dianggap baik dan berlaku dalam masyarakat. Tata nilai termasuk norma, moral, estetika, dan ilmu pengetahuan, mempengaruhi perilaku etik siswa sebagai pribadi dan sebagai anggota masyarakat. Penerapan disiplin yang baik dalam proses pendidikan akan menghasilkan sikap mental, watak dan kepribadian siswa yang kuat. Guru dituntut harus mampu membelajarkan siswanya tentang disiplin diri, belajar membaca, mencintai buku, menghargai waktu, belajar bagaimana cara belajar, mematuhi aturan/tata tertib, dan belajar bagaimana harus berbuat. Semuanya itu akan berhasil apabila guru juga disiplin dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.

Guru harus mempunyai kemampuan yang berkaitan dengan kemantapan dan integritas kepribadian seorang guru.
Aspek-aspek yang diamati adalah:
  1. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.
  2. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat.
  3. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.
  4. Menunjukan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri.
  5. Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.
3. Kompetensi Sosial
Guru di mata masyarakat dan siswa merupakan panutan yang perlu dicontoh dan merupkan suritauladan dalam kehidupanya sehari-hari. Guru perlu memiliki kemampuan sosial dengan masyakat, dalam rangka pelaksanaan proses pembelajaran yang efektif. Dengan dimilikinnya kemampuan tersebut, otomatis hubungan sekolah dengan masyarakat akan berjalan dengan lancar, sehingga jika ada keperluan dengan orang tua siswa, para guru tidak akan mendapat kesulitan.

Kemampuan sosial meliputi kemampuan guru dalam berkomunikasi, bekerja sama, bergaul simpatik, dan mempunyai jiwa yang menyenangkan.

Kriteria kinerja guru yang harus dilakukan adalah:
  1. Bertindak objektif serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.
  2. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
  3. Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya.
  4. Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.

4. Kompetensi Profesional
Kompetensi Profesional Guru yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru dalam perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran. Guru mempunyai tugas untuk mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran, untuk itu guru dituntut mampu menyampaikan bahan pelajaran.

Guru harus selalu meng-update, dan menguasai materi pelajaran yang disajikan. Persiapan diri tentang materi diusahakan dengan jalan mencari informasi melalui berbagai sumber seperti membaca buku-buku terbaru, mengakses dari internet, selalu mengikuti perkembangan dan kemajuan terakhir tentang materi yang disajikan.

Kompetensi atau kemampuan kepribadian yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan dengan aspek:
  1. Dalam menyampaikan pembelajaran, guru mempunyai peranan dan tugas sebagai sumber materi yang tidak pernah kering dalam mengelola proses pembelajaran. Kegiatan mengajarnya harus disambut oleh siswa sebagai suatu seni pengelolaan proses pembelajaran yang diperoleh melalui latihan, pengalaman, dan kemauan belajar yang tidak pernah putus.
  2. Dalam melaksakan proses pembelajaran, keaktifan siswa harus selalu diciptakan dan berjalan terus dengan menggunakan metode dan strategi mengajar yang tepat. Guru menciptakan suasana yang dapat mendorong siswa untuk bertanya, mengamati, mengadakan eksperimen, serta menemukan fakta dan konsep yang benar. Karena itu guru harus melakukan kegiatan pembelajaran menggunakan multimedia, sehingga terjadi suasana belajar sambil bekerja, belajar sambil mendengar, dan belajar sambil bermain,br sesuai kontek materinya.
  3. Di dalam pelaksanaan proses pembelajaran, guru harus memperhatikan prinsip-prinsip didaktik metodik sebagai ilmu keguruan. Misalnya bagaimana menerapkan prinsip apersepsi, perhatian, kerja kelompok, korelasi dan prinsip-prinsip lainnya.
  4. Dalam hal evaluasi, secara teori dan praktik, guru harus dapat melaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin diukurnya. Jenis tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar harus benar dan tepat. Diharapkan pula guru dapat menyusun butir secara benar, agar tes yang digunakan dapat memotivasi siswa belajar.

Kemampuan yang harus dimiliki guru dalam proses pembelajaran dapat diamati dari aspek-aspek:
  • Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.
  • Menguasai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran/ bidang pengembangan yang diampu.
  • Mengembangkan materi pelajaran yang diampu secara kreatif.
  • Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif
  • Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri

Tips Menjadi Guru yang Menyenangkan

Serba Sejarah - Seorang guru tentunya ingin membangun iklim komunikasi yang baik dengan siswanya, agar para siswa mengerti apa yang disampaikan, dan membuat aktivitas belajar mengajar menjadi menyenangkan.

Bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan itu? Para guru, di antaranya, dituntut untuk cekatan merespons kebutuhan siswa, selalu siap untuk berdiskusi, dab menjadi pendengar yang baik atas persoalan belajar siswa. Tetapi, untuk melaksanakan itu semua, yang tak kalah penting adalah memberikan “aturan main” yang jelas, dan berikan kesempatan bagi siswa untuk memberikan umpan balik.

Kedengarannya memang mudah. Bagaimana mempraktikkannya? Ada beberapa cara yang mungkin bisa membantu Anda untuk menciptakan komunikasi yang efektif antara pengajar dan anak didik:

1. Mulailah pada hari pertama sekolah
Pada setiap awal tahun ajaran, atau semester, carilah waktu yang tepat untuk membuat semua aturan, dan kesempatan bagi siswa untuk berkomunikasi tentang berbagai situasi, termasuk pada siswa yang ‘bermasalah’. Seorang guru harus memastikan bahwa siswa merasa didekati sejak hari pertama sekolah.

2. Jadilah proaktif
Seorang guru harus berjuang ke arah gaya mendidik yang proaktif. Selain ada keuntungan dari momen yang spontan, tapi dapat juga digunakan untuk berkomunikasi dengan siswa, misalnya mengatur jadwal berdiskusi di luar jam mengajar.

3. Menjadi pendengar yang aktif
Mendengarkan secara aktif menunjukkan bahwa guru benar-benar mencoba untuk memahami secara verbal dan nonverbal pesan yang disampaikan, merasakan perasaan, dan pikiran. Menjadikan siswa yakin dan merasa dihargai bahwa apa yang mereka sampaikan mendapatkan perhatian.

4. Pastikan Anda mengatakan, Saya mendengar Anda
Seorang guru harus memvalidasi apa yang dikatakan oleh semua siswanya. Namun, validasi tidak berarti bahwa guru setuju atau percaya dengan segala hal yang dikatakan siswa, tetapi lebih untuk mengakui sudut pandang para siswa. Validasi membantu siswa percaya bahwa guru mendengarkan dan menghormati pendapat mereka. Misalnya, sebuah komentar seperti, Aku senang kamu bisa berbagi pemikiran. Saya tentu tidak langsung setuju dengan perspektif Anda, tapi saya ingin mendengar lebih banyak.

5. Lakukan seperti Anda ingin diperlakukan
Seorang guru tentu ingin dan mengharapkan orang lain memperlakukan kita dengan hormat, berkomunikasi dengan jelas, dan memberikan tanggapan yang sesuai. Sikap empati dan melibatkan diri berdiskusi dengan siswa akan mengurangi sikap defensif dan memungkinkan para siswa merasa nyaman.

6. Jangan menghakimi dan menuduh
Seorang guru tentu ingin siswanya mengerti apa yang diajarkan tanpa membenci guru atau mata pelajarannyanya. Untuk itu, seorang guru sebaiknya tidak menghakimi, dan menuduh, tetapi harus memberikan pesan yang mudah ditafsirkan. Itu akan meningkatkan probabilitas siswa mendengarkan apa yang guru katakan.

7. Berkomunikasi secara jelas dan singkat
Banyak guru berusaha untuk menyampaikan banyak informasi pada satu waktu, tetapi itu akan membuat siswa kelebihan beban informasi, kewalahan, dan sulit mencerna. Maka itu, seorang guru selaiknya melakukan komunikasi yang rutin, singkat, dan terfokus dengan siswanya. Sebab, tidak semuanya harus diselesaikan dalam satu diskusi.

8. Menjadi model kejujuran dan martabat
Siswa sangat cerdik dalam memahami kejujuran guru. Seorang guru harus mengakui jika tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan yang diajukan siswanya. Tetapi, guru harus berjanji untuk berupaya menemukan jawaban sebelum kelas berikutnya. Tidak jujur adalah kesalahan dalam mendidik.

9. Menerima pengulangan
Komunikasi adalah proses yang berkelanjutan. Siswa mungkin harus mendengarkan apa yang diajarkan berkali-kali sebelum mereka memahami dan masuk ke dalam pikirannya.

10. Ciptakan humor
Humor adalah bahan penting dalam proses komunikasi. Humor dapat meringankan, dan menjadi fasilitas yang baik................

Sumber: Kompas.Com

Standart Kompetensi Guru

Serba Sejarah - Walaupun bukan faktor utama, namun keberhasilan proses pembelajaran di kelas sangat ditentukan oleh guru. Guru merupakan sumber inifiatif, fasilitator yang dapat menentukan proses belajar siswa di kelas. Harus disadari bahwa saat ini guru bukanlah sumber belajar satu-satunya, kemudahan teknologi membuat siswa tahu lebih awal. Atas dasar tersebut penting bagi guru untuk meningkatkan kompetensi untuk mencapai tujuan pendidikan. Selain kemampuan pedagogik berikut ini beberapa standart yang harud dimiliki oleh guru:

  1. Standar intelektual: guru harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai agar dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik dan profesional.
  2. Standar fisik: guru harus sehat jasmani, berbadan sehat, dan tidak memiliki penyakit menular yang membahayakan diri, peserta didik dan lingkungannya.
  3. Standar psikis: guru harus sehat rohani, artinya tidak mengalami gangguan jiwa ataupun kelainan yang dapat mengganggu pelaksanaan tugas profesionalnya.
  4. Standar mental: guru harus memiliki mental yang sehat, mencintai, mengabdi, dan memiliki dedikasi yang tinggi pada tugas dan jabatannya.
  5. Standar moral: guru harus memiliki budi pekerti luhur dan sikap moral yang tinggi.
  6. Standar sosial: guru harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan bergaul dengan masyarakat lingkungannya.
  7. Standar spiritual: guru harus beriman kepada Allah yang diwujudkan dalam ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

Pilar Pendidikan Indonesia

"Salah satu indikator negara maju adalah sistem pendidikan yang baik"
Serba Sejarah - Khusus Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami pergantian dan menampilkan format baru untuk mencari format yang ideal. Pendidikan saat ini menuntut guru untuk memiliki kompetensi yang memadai. Guru tidak hanya dituntut untuk menguasai bidang ilmu, bahan ajar, metode pembelajaran, memotivasi peserta didik, memiliki keterampilan yang tinggi dan wawasan yang luas terhadap dunia pendidikan, tetapi juga harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang hakikat manusia, dan masyarakat. 

Ada empat pilar pendidikan yang akan membuat manusia semakin maju:
  1. Learning to know (belajar untuk mengetahui), artinya belajar itu harus dapat memahami apa yang dipelajari bukan hanya dihafalkan tetapi harus ada pengertian yang dalam.
  2. Learning to do (belajar, berbuat/melakukan), setelah kita memahami dan mengerti dengan benar apa yang kita pelajari lalu kita melakukannya.
  3. Learning to be (belajar menjadi seseorang). Kita harus mengetahui diri kita sendiri, siapa kita sebenarnya? Untuk apa kita hidup? Dengan demikian kita akan bisa mengendalikan diri dan memiliki kepribadian untuk mau dibentuk lebih baik lagi dan maju dalam bidang pengetahuan.
  4. Learning to live together (belajar hidup bersama). Sejak Tuhan Allah menciptakan manusia, harus disadari bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri tetapi saling membutuhkan seorang dengan yang lainnya, harus ada penolong. Karena itu manusia harus hidup bersama, saling membantu, saling menguatkan, saling menasehati dan saling mengasihi, tentunya saling menghargai dan saling menghormati satu dengan yang lain.

Penjelasan tentang 4 pilar pendidikan:

  1. Lerning to know : Artinya siswa memiliki pemahaman dan penalaran yang bermakna terhadap produk dan proses pendidikan (apa,bagaimana, dan
    mengapa) yang memadai. Dalam pembelajaran misalnya, siswa diharapkan memahami secara bermakna fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, model, idea , dan hubungan antar idea tersebut; dan alasan yang mendasarinya, serta menggunakan idea itu untuk menjelaskan dan memprediksi proses-proses berikutnya.
  2. Lerning to do : Artinya siswa memiliki keterampilan dan dapat melaksanakan proses pembelajaran yang memadai untuk memacu peningkatan  perkembangan intelektualnya. Beberapa hal yang mendukung penerapan “learning to do” dalam pembelajaran adalah :  (1) Pembelajaran berorientasi pada pendekatan konstruktivisme. (2) Belajar merupakan proses yang aktif, dinamik, dan generatif
  3. Lerning to be : Artinya siswa dapat menghargai atau mempunyai apresiasi terhadap nilai-nilai dan keindahan akan produk dan proses pendidikan , yang ditunjukkan dengan sikap senang belajar, bekerja keras, ulet, sabar, disiplin, jujur, serta mempunyai motif berprestasi yang tinggi dan rasa percaya diri. Aspek-aspek di atas mendukung usaha siswa meningkatkan kecerdasan dan mengembangkan keterampilan intelektual dirinya secara berkelanjutan.
  4. Lerning to live together in peace and harmony : Artinya siswa dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dalam proses pendidikan , melalui bekerja atau belajar bersama atau dalam kelas, saling menghargai pendapat orang lain, menerima pendapat yang berbeda, belajar mengemukakan pendapat dan atau bersedia “sharing ideas” dengan orang lain dalam kegiatan pembelajaran atau bidang lainnya.

Teori Perkembangan Kognitif Anak Menurut Piaget

Peneliti Swiss Jean Piaget (kacang polong-ah-ZHAY) adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam psikologi perkembangan. Piaget meninggal pada tahun 1980 pada usia 84, ia menerbitkan artikel pertamanya pada tahun 1904 pada usia 8. Menurut Kaye (1980), sebuah novel lama diabaikan diterbitkan oleh Piaget pada tahun 1918 menunjukkan bahwa, pada usia 20 (karena ia sedang menulis novel) Piaget sudah melihat dirinya melakukan sesuatu seperti misi ilahi untuk mempelajari asal-usul manusia pengetahuan.

Ironisnya, mengingat dampaknya pada psikologi, Piaget tidak menganggap dirinya psikolog. Beliau memulai karirnya sebagai seorang ahli biologi, dan akhir karirnya lebih suka menyebut dirinya sebuah epistemologist. Epistemologi adalah ilmu yang mempelajari pengetahuan. Hal ini jauh lebih tua daripada psikologi, dan itu adalah bagian dari filsafat, bukan ilmu eksperimental. Piaget mengatakan ia adalah seorang epistemologist genetik, berarti dia tertarik dalam asal-usul knowledge.

Piaget tidak melakukan penelitian eksperimental dalam pengertian modern, menggunakan kelompok kontrol dan analisis statistik. Dia bekerja apa yang ia sebut metode klinis, improvisasi percakapan dengan anak-anak untuk memahami dunia yang unik mental. Eksperimen Piaget adalah apa yang kebanyakan psikolog akan memanggil demonstrasi di mana seorang anak mengajukan beberapa pertanyaan atau diberi tugas sederhana untuk melakukan. Meskipun sifat informal mereka, banyak dari demonstrasi cukup mengungkapkan.

Periode Sensory-Motor (0-18 bulan)
Piaget menyebut tahap pertama perkembangan kognitif, bahwa bayi yang baru lahir, periode sensorik-motorik. Hal ini berlangsung dari lahir sampai sekitar usia 18 bulan. Pada awalnya (Piaget percaya) bayi tidak dapat membedakan dirinya dari lingkungan. Pada bulan-bulan pertama kehidupan datang untuk mengakui keberadaan orang dan hal yang terpisah dari dirinya sendiri. Bayi dikembangkan intensionalitas (perilaku goal-directed) selama tahap sensori-motor. Mereka belajar untuk melaksanakan rencana tujuan-diarahkan sederhana, seperti menjangkau dan memegang dot. 
Piaget menunjukkan fenomena bahwa orang terkejut pada awalnya. Bayi bertindak seolah-olah objek tersembunyi lagi ada. Untuk sangat muda anak-anak-muda dari sekitar 6 bulan-"tak terlihat" tidak hanya "keluar dari pikiran" tetapi juga "dari keberadaan." Jika mainan bersemangat dikejar oleh bulan 4 tahun slip di bawah selimut, tidak lagi dikejar ... bahkan jika itu membuat benjolan jelas. Sebuah anjing kampung sekitar tiga bulan kehilangan minat dalam mainan setelah itu tersembunyi di balik tirai. Piaget mengatakan bahwa anak seperti itu tidak memiliki ketetapan objek, kesadaran bahwa objek tersembunyi terus ada.
Pada usia satu, bayi akan sikat selimut samping dan berusaha untuk menemukan mainan yang tersembunyi di sana. Hal ini menunjukkan bayi mengetahui objek tersembunyi terus ada. Bayi itu kini memiliki representasi mental dari objek: struktur mental atau skema. Urutan perkembangan ini adalah dasar dan primitif, dan tidak ada alasan untuk mengharapkan hal itu akan terbatas pada manusia. Memang, Wise, Wise dan Zimmerman (1974) menunjukkan bahwa monyet rhesus bayi berjalan melalui serangkaian tahapan yang sangat mirip.

Tahap Pra-Operasional (18 bulan-5 tahun)
Dari sekitar usia satu setengah sampai usia lima atau enam, seorang anak dalam tahap Piaget kedua perkembangan mental: tahap pra-operasional. Seorang anak dari satu setengah mulai menggunakan simbol-simbol. Seorang anak usia ini mungkin berpura-pura chip kentang adalah kupu-kupu atau membuat gerakan mengunyah imajiner pada makanan bermain plastik.
Anak dalam tahap pra-operasional stimulus-terikat dan egosentris. Untuk menjadi stimulus-terikat harus memperhatikan isyarat-isyarat perseptual daripada abstraksi atau konsep. Misalnya, anak usia ini mungkin nilai nikel senilai 5 sen lebih dari uang receh senilai 10 sen karena nikel lebih besar, bahkan jika orang dewasa berpendapat bahwa sepeser pun yang lebih berharga.
Egosentris berarti egois atau tidak untuk mengambil sudut pandang orang lain. Jika Anda menghadapi anak tiga dan minta anak untuk "mengangkat tangan yang sama saya membesarkan" (kemudian mengangkat tangan kanan) anak akan mengangkat tangan kiri. Mengapa? Ternyata anak gagal untuk membalikkan posisi atau mengambil tempat Anda mental. Perubahan ini satu atau dua tahun kemudian, ketika anak-anak mulai menyadari orang lain dapat memiliki perspektif yang berbeda.
Anak-anak usia prasekolah menunjukkan perspektif egosentris dalam perilaku sosial, juga. Mereka tidak memahami sudut pandang yang berbeda orang lain yang melihat atau pengalaman masa lalu yang berbeda. Misalnya, berumur empat tahun akan berbicara semangat tentang game kartun atau video ke kakek atau orang asing di toko kelontong, menyadari kenyataan bahwa orang lain tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Anak-anak kecil akan menyusahkan orang dewasa bahkan setelah diberitahu bahwa orang tua memerlukan waktu untuk berkonsentrasi pada tugas penting seperti belajar. Anak kecil tidak mencoba untuk menjadi egois, ia atau dia hanya gagal untuk menghargai perspektif mental dari orang lain.
     

Percobaan Konservasi
Selama tahap pra-operasional didefinisikan oleh Piaget, seorang anak melakukan dengan cara yang khas pada tes disebut percobaan konservasi. Piaget terkenal dengan demonstrasi. Untuk menghemat dalam terminologi Piaget adalah untuk menjaga internal atau mewakili. Percobaan konservasi semua membutuhkan seorang anak untuk menunjukkan memiliki beberapa konsep, biasanya sebuah konsep yang berkembang di sekitar usia 5 sampai 7.
Salah satu eksperimen konservasi klasik melibatkan kuantitas cair. Seorang anak pertama ditampilkan dua pendek, gelas lemak. Mereka penuh dengan air berwarna sebagai jam tangan anak. Anak diminta untuk mengatakan kapan dua gelas memiliki jumlah air yang sama di dalamnya. Jika perlu, eksperimen menuangkan sedikit cairan dari satu ke yang lain sampai anak setuju bahwa tingkat air berwarna sama di kedua gelas.
Berikutnya dewasa mengambil gelas, tinggi kurus dan menuangkan air berwarna dari salah satu, gelas pendek lemak ke salah satu, gelas tinggi kurus. Si anak diminta untuk membandingkan gelas tipis tinggi ke yang gemuk pendek. Peneliti bertanya, "Yang berisi lebih, atau mereka mengandung jumlah yang sama?" Kebanyakan anak di bawah usia 6 akan mengarah ke gelas tinggi dan berkata, "memiliki satu ini lebih di dalamnya." Anak itu terpengaruh oleh isyarat perseptual tinggi.
Seperti seorang anak tidak memiliki konsepsi kuantitas cairan. Tidak memiliki konsep ini, anak tidak memiliki cara untuk menyadari sesuatu yang tetap sama ketika cair dituang dari satu kapal yang lain. Apa tetap sama? Dewasa menyebutnya kuantitas cair. Kita tahu apa kuantitas cair, kami menerima begitu saja. Tetapi anak yang belum memiliki konsep atau skema.
Beberapa siswa merasa sulit untuk percaya bahwa seorang anak bisa begitu mudah tertipu oleh penampilan pada usia 4 atau 5. Mereka pulang ke rumah dan melakukan percobaan dengan adik atau kakak, hanya untuk memverifikasi menemukan dasar Piaget. Anak-anak kecil biasanya terpengaruh oleh penampilan luar.
 
Piaget menggambarkan eksperimen konservasi banyak. Misalnya, dalam konservasi tentang percobaan massa, sedikit tanah liat (yang disebut Piaget plasticene) yang digulung menjadi bola. Sebuah bola kedua dari tanah liat dengan ukuran yang sama ditampilkan ke anak, yang setuju bahwa mereka adalah sama. Kemudian salah satu bola yang terguling antara telapak tangan orang dewasa, membentuk bentuk sosis. "Sekarang tidak satu memiliki lebih liat di dalamnya dari yang lain, atau apakah mereka masih memiliki jumlah yang sama dari tanah liat di dalamnya?" Anak kecil biasanya poin dengan bentuk sosis, yang lebih panjang, dan mengklaim bahwa mereka telah "lebih liat di dalamnya."
Konservasi kawasan diuji dengan menanyakan anak apakah tanah yang lebih tertutup oleh blok yang tersebar atau blok yang berdekatan. Non-conserving anak-anak cenderung menganggap blok mencakup daerah yang lebih saat menyebar keluar, meskipun ini membuka area di antara mereka.
Menempatkan seperti koin sen di atas meja tes konservasi nomor. Tujuh atau delapan koin ditempatkan berturut-turut, dan serangkaian pencocokan koin ditempatkan langsung di bawah yang pertama. Jadi ada dua baris yang sama koin di atas meja. Sekarang eksperimen menyebar keluar salah satu baris sehingga koin-koin tersebut jauh terpisah. Anak itu bertanya apakah dua baris koin masih memiliki jumlah yang sama koin di dalamnya. Seorang anak kecil yang belum tahu bagaimana cara menghitung biasanya akan mengklaim bahwa baris menyebar keluar memiliki koin lebih di dalamnya.
Semua eksperimen konservasi variasi pada tema. Kata konservasi berarti melestarikan sesuatu dalam menghadapi perubahan. Untuk datang dengan jawaban yang benar dalam percobaan konservasi, anak harus menjaga sesuatu di kepala nya. Bahwa "sesuatu" adalah kesadaran kuantitas, massa, nomor, wilayah, atau beberapa karakteristik lain dari realitas abstrak. Itu adalah titik Piaget. Dia menggambarkan dirinya sebagai mempelajari konstruksi realitas pada anak, yang merupakan subjudul dari salah satu bukunya.

Periode Operasional Beton (5-12)

Tiba-tiba, sekitar usia 5 sampai 7, rata-rata anak menangkap ke percobaan konservasi. Ini menandai transisi ke tahap baru pembangunan: periode operasional konkret. Sekarang anak dapat memahami operasi yang sederhana dilakukan pada realitas yang konkrit: operasi seperti menuang gelas air dari satu kapal yang lain.
Mengapa anak tiba-tiba lulus tes yang sama ia gagal tahun sebelumnya? Piaget merasa anak itu melompat ke tahap baru pembangunan. Anak sekarang memiliki representasi mental atau skema untuk kuantitas cair, massa, jumlah, dan konsep seperti lainnya. Beberapa masalah konservasi lebih mudah daripada yang lain, tetapi dalam satu atau dua tahun mereka semua dikuasai. Bahkan, anak sekarang menemukan masalah ini begitu mudah sehingga ia akan bertanya-tanya mengapa orang dewasa adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan konyol seperti itu. "Tentu saja dua gelas memiliki jumlah yang sama cairan di dalamnya ..."
Piaget dan rekan kerja tidak memanggil seorang anak conserver sampai anak itu bisa menjelaskan percobaan konservasi. Ini dijaga terhadap anak-anak belajar untuk mengatakan, "Ya, mereka sama" dalam percobaan konservasi, tanpa benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Piaget mengidentifikasi tiga jenis penjelasan bahwa ia dianggap sebagai bukti yang baik dari pemahaman yang benar oleh anak:
 
1. Kedapatbalikan ("Anda dapat memasangnya kembali seperti itu.")
2. Kompensasi ("Ini lebih tinggi tapi juga kurus.")
3. Identity ("Kau tidak mengubahnya;. itu masih sama")
 

Tahap Operasional Formal (12-dewasa)
Sekitar usia 12, Piaget mengatakan, anak-anak masuk ke tahap, baru lebih tinggi kognisi. Pikiran remaja yang sudah mampu memanipulasi representasi mental yang kompleks. Orang dewasa muda menjadi mampu berpikir dalam abstraksi-menggunakan ide-ide, bukan hanya beton benda-cara yang sebelumnya menghindari pegang mereka. Mereka dapat alasan tentang situasi hipotetis dengan presisi dan realisme.

Teks asli dalam bahasa inggris klik di sini