Translate

Tampilkan postingan dengan label Soe Hok Gie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Soe Hok Gie. Tampilkan semua postingan

Puisi

Sebuah Kerinduan Kepada Mereka Yang Begitu Arif Akan Idelisme-idealismenya

Untuk mengenang mereka para idealis yang telah hilang, atau mati terbuang.. seperti tragedi seorang loyalis yang tersingkirkan..walau mereka tidak minta dikenang tapi paling tidak jika kisah mereka kelak bisa mengilhami orang lain sesudah mereka maka itu adalah kabar gembira buat mereka.. karena perjuangan untuk mewujudkan tentang tatanan yang bagaimana seharusnya, tidak bisa berhenti atau dihentikan sampai gambar ideal itu menjadi nyata..

***********************************************

Mandalawangi - Pangrango


Sendja ini, ketika matahari turun kedalam djurang2mu
Aku datang kembali
Kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu.
Walaupun setiap orang berbitjara tentang manfaat dan guna
Aku bitjara padamu tentang tjinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku.
Aku tjinta padamu, Pangrango jang dingin dan sepi
Sungaimu adalah njanjian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Tjintamu dan tjintaku adalah kebisuan semesta.
Malam itu ketika dingin dan kebisuan menjelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bitjara padaku tentang kehampaan semua.
“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi jang tanda tanja
“Tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
“Terimalah dan hadapilah.”
Dan antara ransel2 kosong dan api unggun jang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 djurangmu
Aku tjinta padamu Pangrango
Karena aku tjinta pada keberanian hidup

Djakarta, 19 Djoeli 1966
( Posted By : Charade ; Author : Soe Hok Gie )

**********************************************

Cahaya Bulan

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelan pelan di Lembah Kasih
Lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap
Kau dekaplah lebih mesra
Lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata
Kudengar detak jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta
Cahaya bulan menusukku
Dengan ribuan pertanyaan
Yang takkan pernah kutahu dimana jawaban itu
Bagaikan letusan berapi
Membangunkanku dari mimpi
Sudah waktunya berdiri
Mencari jawaban kegelisahan hati
~ Ost Soe Hok Gie ~


=====================================


~ Cahaya Bulan ~


perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang

cahaya kota kelam mesra menyambut sang petang

di sini ku berdiskusi dengan alam yg lirih

kenapa matahari terbit menghangatkan bumi
aku orang malam yg membicarakan terang

aku orang tenang yg menentang kemenangan oleh pedang
perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang

cahaya nyali besar mencuat runtuhkan bahaya

di sini ku berdiskusi dengan alam yg lirih

kenapa indah pelangi tak berujung sampai di bumi
aku orang malam yg membicarakan terang

aku orang tenang yg menentang kemenangan oleh pedang
reff: cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan

yg takkan pernah aku tau dimana jawaban itu

bagai letusan berapi bangunkan dari mimpi

sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati
terangi dengan cinta di gelapku

ketakutan melumpukanku

terangi dengan cinta di sesatku

dimana jawaban itu
repeat reff



Soe Hok Gie


“Memang lebih dari 50% kemajuan masyarakat kita ditebus oleh jiwa yang bersemangat adventure itu, dalam semua lapangan hidup, politik, ekonomi, militer, bahkan semua cabang ilmu.” (Tan Malaka; pengantar Thesis. 10 Juni 1946).

“Manusia adalah mahluk yang secara esensial berkehendak. Dalam perbuatan berkehendaknya keakuan manusia hadir dalam dirinya dan menguasainya. Karena itu pada dasarnya manusia tidak dapat tidak berkehendak.” (Louis Leahy, Manusia Sebuah Misteri; Sintesa Filosofis Tentang Makhluk Paradoksal)

Soe Hok Gie (lahir di Jakarta, 17 Desember 1942 – meninggal di Gunung Semeru, 16 Desember 1969 pada umur 26 tahun) adalah salah seorang aktifis Indonesia dan Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962-1969.
Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa mandarin (Hanzi). Leluhur Soe HokGie sendiri adalah berasal dari propinsi Hainan, RRC.

Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demontran (1983).

Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Dia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia.

Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).

Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Dibawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang dipersimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997).

Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama.

Hok Gie meninggal di Gunung Semeru tahun 1969 tepat tiga hari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis.


Dari sejarah pergolakan Mahasiswa menentang rezim totaliter Orde Lama (ORLA) pada dekade 1960-an, bangsa Indonesia patut mencatat dan mengenang satu nama. Ia patut dikenang tidak semata-mata karena andil dan keterlibatannya dalam menyukseskan perjuangan mahasiswa menghancurkan otoritarianisme kekuasaan ORLA, tetapi lebih dari itu, ia pantas mendapatkan tempat terhormat di hati dan ingatan warga bangsa karena totalitas perjuangan dan sikap hidupnya yang luar biasa dan mengagumkan dalam upaya menegakkan kebenaran, keadilan dan kemanusiaan.

Sebagai seorang aktivis mahasiswa, ia adalah pribadi yang istimewa. Hal itu tampak melalui cakrawala pemikirannya yang visioner, militansinya yang nyaris tanpa batas, serta komitmennya yang kukuh pada prinsip-prinsip demokrasi dan humanisme universal.

Karakter demikianlah yang selanjutnya menghadirkan sosoknya sebagai intelektual dan humanis sejati. Dialah Soe Hok Gie, sosok intelektual muda pendobrak tirani ORLA yang dibahas oleh John Maxwell dalam bukunya, "Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani".

Soe Hok Gie bukanlah nama yang populer. Bahkan, sebagai aktivis mahasiswa, sosoknya hanya dikenal oleh komunitas masyarakat terbatas. Pikiran dan sepak terjang perjuangannya tidak banyak diketahui publik di Tanah Air. Menurut penulisnya, hal itu karena kendati pernah terlibat secara aktif dalam politik, ia berbeda dengan para tokoh politik dari generasinya. Ia tidak mencurahkan seluruh hidupnya untuk politik.

Dia (Gie) adalah sosok intelektual “idealis” yang menyerukan kepada generasinya untuk berkata “tidak” terhadap kondisi yang inconsistent terhadap cita-cita revolusi ’45. Menggelorakan api perjuangan membela kaum proletar yang tersisih secara ekonomi dan politik. Manusia baru adalah generasi yang berani mengatakan “tidak” generasi yang sangat bangga dan sangat sadar akan “sense of mission dan sense of commitment.” (Artikel; Manusia Baru, Agustus 1969).

Dalam perenungannya Gie, menetapkan dengan konsisten sebuah Quote “nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, Yang kedua di lahirkan tetapi mati muda, dan Yang tersial adalah umur tua, rasa-rasanya memang begitu, bahagialah mereka yang mati muda!”.

Kecaman yang dilontarkan oleh Soe Hok Gie dilandaskan atas pemikiran yang jujur, tentu atas dasar itikad yang baik. Ia tidak selalu benar, tapi Ia selalu jujur dalam bertutur, Ia pun tidak melontarkan kritikan-kritikan dan kecaman-kecamannya tanpa merasa prihatin atas kondisi yang terjadi pada saat itu. Sayang sekali kehidupannya tergolong singkat, yakni hanya 27 tahun, juga tidak banyak memberikan peluang padanya untuk mengukir prestasi gemilang, baik secara individual maupun politis. Walau demikian, menyimak kegigihan perjuangannya, sukar untuk membantah bahwa anak muda ceking keturunan Tionghoa itu adalah seorang intelektual dan pejuang yang luar biasa.

Kita cermati perbedaannya dengan sekarang…!!

Romantika Soe Hok Gie yang seorang aktivis mahasiswa revolusioner serta memori indah penggulingan rezim Soeharto 1998 lalu, nampaknya masih menghinggapi rekan-rekan mahasiswa sampai saat ini. Mereka yang pada tahun tersebut masih memakai seragam putih-abu2, atau bahkan putih biru, pastilah segera menemukan sosok heroik mereka yang baru, dan pahlawan itu disebut mahasiswa. Segera setelah mereka masuk menjadi mahasiswa, maka mereka akan mewujudkan sosok yang heroik tersebut dalam dirinya sendiri. Ikut turun ke jalan(meski gak tau apa2 dan cuma kebagian megang poster berisi tuntutan), rela meninggalkan ruang perkuliahan, mengorbankan rupiah demi rupiah yang telah dibayarkan orang tua mereka untuk biaya kuliah, dan mengorbankan hal-hal lain demi memperjuangkan nasib rakyat, yang bahkan rakyat itu sendiri kadang tidak meminta untuk diperjuangkan dengan cara seperti itu.

Sekarang kita cermati aksi-aksi para “pahlawan” jalanan tersebut, sangat tipikal sekali dan homogen. Modal pengeras suara, poster tuntutan, dan kadang aksi teatrikal, mereka berbondong-bondong turun ke jalan, menuju ke depan kantor pemerintah(apapun itu), kemudian berteriak2 sampe tenggorokan kering menuntut perubahan-perubahan yang sesuai dengan idealisme mereka, yang mungkin mereka kira melakukan perubahan yang seperti mereka inginkan tersebut semudah memencet remote TV untuk mengganti chanel. Kalo udah capek dan kadang kalah bentrok sama aparat, ya mereka bubar. Perubahan yang dituntut sampe tenggorokan kering pun hanya tinggal wacana. Lain hari mereka turun ke jalan lagi dengan mengemas isu dan tuntutan yang berbeda, ya cuma kayak gitu terus.

Kemanakah Arah Perjuangan Mereka.???

Akhir-akhir ini saya sering ngenes sendiri melihat aksi rekan-rekan mahasiswa yang kebetulan masuk TV, tuntutan yang paling aktuil saat ini apalagi kalo bukan turunkan harga BBM. Yang bikin tambah seru ada acara bakar-bakar ban di jalan segala, yang bikin sedih adalah tindakan anarkis para demonstran yang merugikan rakyat yang saat itu sedang mereka perjuangkan nasibnya, yang bikin konyol ada sesi mencegat mobil-mobil plat merah. Lha apa setiap yang menumpang mobil plat merah itu bisa menurunkan BBM?

Menurut pandangan saya, untuk saat ini kita gak akan bisa merubah apapun hanya dengan berteriak2 di pinggir jalan menuntut ini itu, bakar ban bekas, menantang aparat, atau menyandera mobil plat merah. Kalo memang paham betul kesalahan pemerintah itu dimana, dan bagaimana cara meluruskannya yang pada akhirnya mampu untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia, mari lakukan itu dengan cara yang intelek. Sebagai kaum intelektual, kita seharusnya paham betul kalo revolusi tidak harus dengan aksi fisik. Kalo ingin merubah sebuah sistem masuklah ke dalam sistem itu, perbaiki dari dalam. Kalo dari beratus-ratus aktivis demonstrasi sekarang mempunyai pemikiran seperti itu, saya sangat yakin anak cucu saya kelak bisa merasakan keadaan Indonesia yang jauh lebih baik dari sekarang ini. Gak perlulah demo-demo anarkis kayak gitu lagi, terlalu banyak yang dikorbankan dengan hasil yang tidak jelas juga.

Ada sebuah film dokumenter mengenai kisah mantan aktivis demonstrasi 1998, yang pada intinya dia sampe sekarang tetap harus berjuang mati-matian untuk dapat menghidupi anak istrinya, meski mungkin dia telah turut berperan menyelamatkan bangsa ini dari rezim otoritarian. Pesannya yang sangat mengena adalah, berjuanglah dengan konsep yang jelas, jangan asal turun ke jalan teriak2 tanpa paham apa yang sedang diteriakkan.
 
Berbagai sumber

Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan - Soe Hok Gie

Judul Buku : Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan
Penulis : Soe Hok Gie
Penerbit : Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta
Tahun Terbit : September 1997 (cetakan ke-2)
Tebal : 312 Hal.

Buku ini adalah skripsi Soe Hok Gie untuk mendapat gelar sarjana dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta, pada tahun 1969. Judul asli dari buku ini adalah Simpang Kiri dari Sebuah Jalan: Kisah Pemberontakan PKI Madiun September 1948. Skripsinya ini benar-benar menarik, karena membuat kita seakan-akan membaca sebuah novel sejarah. Tapi penulisnya cukup hati-hati untuk tetap bersikap objektif dalam analisisnya sehingga fakta dalam suatu peristiwa sejarah tetap ditempatkan pada posisi yang terhormat. Buku ini banyak bercerita mengenai awal mula pemberontakan PKI tahun 1948. Banyak hal yang ditulis mengenai latar belakang peristiwa pemberontakan PKI 1948 hingga penumpasannya. Soe Hok Gie menulis mulai dari perpecahan antar-grup dalam PKI 1926, tokoh-tokoh PKI 1948, kejadian-kejadian sebelum Peristiwa Madiun, kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di Solo, saat-saat pemberontakan FDR, dan penumpasan FDR/PKI di Madiun. Informasi akan pemberontakan PKI di Madiun yang didapat dari buku ini cukup banyak dan memuaskan pembaca yang ingin mengetahui lebih dalam apa yang terjadi di Madiun pada September 1948.

BAB I : TOKOH DAN PANGGUNG
Pada bab pertama ini Soe Hok Gie menjelaskan akan tokoh dan latar belakang peristiwa pemberontakan PKI di Madiun. Soe Hok Gie menulis bahwa peristiwa PKI Madiun 1948 memiliki kaitan erat dengan pemberontakan PKI pada 1926. Menurut Soe Hok Gie, pada awal abad ke-20 kebanyakan pemuda mengalami krisis pemikiran, sehingga kebanyakan pemuda saat itu menjadi revolusioner dan radikal. Hal ini ia buktikan dengan tokoh Musso, tokoh penting peristiwa pemberontakan PKI Madiun. Musso yang dilahirkan di desa Pagu, Kediri, adalah seorang yang terpelajar. Bahkan ia menjadi murid kesayangan Dr. Hazeu (penasihat Belanda urusan Bumiputera). Pada masa pendidikannya ia bersahabat dengan Alimin, yang kelak juga menjadi pemimpin PKI. Musso juga pernah berguru pada H.O.S. Tjokroaminoto, sehingga ia juga dekat dengan Soekarno.

Tokoh lain adalah Alimin Prawirodirdjo, dilahirkan di Surakarta dalam sebuah keluarga yang miskin. Ia lalu dipungut anak oleh Dr. Hazeu dan diberikan kesempatan bersekolah agar kelak dapat menjadi pegawai pemerintah. Tapi sayangnya dunia jurnalistik dan politik lebih menarik minat Alimin muda. Alimin tergabung dalam Boedi Oetomo dan Central Sarekat Islam. Ia juga berguru pada H.O.S. Tjokroaminoto dan bersahabat dengan Musso, Soekarno, dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo.

Tokoh yang juga tak kalah penting adalah Sardjono. Ia adalah tokoh kecil pada masa awal PKI. Sardjono adalah pemimpin SI di Sukabumi yang kemudian memihak ke PKI. Dalam kongres PKI di Kotagede, Yogyakarta, banyak pemimpin PKI dalam bahaya penangkapan. Darsono yang diminta menjadi ketua menolak karena akan ditangkap. Sementara Ali Archam, salah deorang tokoh terkemuka PKI juga menolak dengan alasan yang sama. Akhirnya pilihan jatuh pada Sardjono yang memimpin PKI sampai ajalnya.

Soe Hok Gie menulis pada masa awal PKI pemerintah Belanda bertindak tegas terhadap aksi-aksi yang dilakukan oleh PKI. Tokoh-tokoh kunci PKI ditangkap oleh pemerintah Hindia Belanda. Hal ini membuat Alimin, Musso, dan Tan Malaka lari ke luar negeri. Dalam situasi ini Sardjono membuat rencana pemberontakan, tapi rencana itu ditolak oleh Tan Malaka selaku wakil Komintern wilayah Asia. Sardjono dan Musso tidak menyerah begitu saja, rencana itu pun mereka ajukan ke Moskow. Tapi sayangnya Moskow juga menolak rencana mereka. Tapi Musso tetap nekad dan memerintahkan Sardjono untuk melakukan pemberontakan. Sayangnya pemberontakan itu gagal, sehingga pemerintah Hindia Belanda semakin bertindak keras dalam menghadapi PKI.

Pada 1935 Musso sempat kembali ke Surabaya dan mengkader beberapa pemuda. Dia juga mendirikan kembali CC PKI yang dia pimpin sendiri. Karena PKI merupakan partai ilegal, PKI menyusupkan kadernya dalam Partai Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia). Para kader PKI yang menjadi anggota Gerindo antara lain Wikana, D.N. Aidit, Sidik Kertapati, dan Sudisman. Mahasiswa Indonesia yang belajar di Belanda pun juga tak lepas dari sasaran PKI. PKI sempat mengkader beberapa tokoh mahasiswa macam Abdulmadjid (ketua Perhimpunan Indonesia setelah Hatta), Setiadjid, Rustam Effendi, Maruto Darusman, Sumitro Djojohadikusumo, dan Mr. Jusuf.

Menurut Soe Hok Gie, seusai kegagalan pemberontakan di tahun 1926, muncul suasana saling menyalahkan dalam pimpinan PKI. Karena tekanan yang kuat, Sardjono selaku ketua umum PKI memberikan pertanggungjawabannya. Dan perpecahan antar pimpinan PKI pun timbul di Digul. Hingga Jepang menyerah telah tumbuh bermacam-macam grup dalam PKI. Grup Alimin dan Musso yang hijrah ke Rusia, grup PKI 35 yang merupakan kader-kader Musso, grup Digul dibawah pimpinan Sardjono, grup mahasiswa di negeri Belanda, dan grup-grup yang tidak tertangkap selama pendudukan Belanda dan Jepang. Mereka mempunyai cara kerja, pengalaman, dan emosi yang berbeda. Semua mengaku tunduk pada Komintern dan berkiblat ke Moskow. Mereka merasa di bahu mereka terletak tugas untuk menyelamatkan kaum yang terhina dan tertindas.

BAB II : DI BAWAH BAYONET JEPANG DAN DESINGAN PELURU SEKUTU

Pada bagian ini Soe Hok Gie menjelaskan tentang usaha-usaha para komunis dalam perjuangannya mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Sebelum Belanda menyerah kepada Jepang, Belanda sempat membentuk kelompok gerakan bawah tanah. Dan Belanda menunjuk Amir Sjarifuddin sebagai pemimpin gerakan bawah tanah tersebut. Amir Sjarifuddin sempat mengajak Soetan Sjahrir dan Hatta untuk bergabung, tapi ditolak oleh dua tokoh besar nasional itu.

Tetapi Amir Sjarifuddin sempat menjadikan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo sebagai sekutunya. Ia bersama Dr. Tjipto membentuk GERAF (Gerakan Rakyat Anti-Fasis). Tapi Jepang dapat mencium pergerakan GERAF dan menangkapai para pemimpin GERAF. Amir sendiri sempat dijatuhi hukuman mati oleh Jepang, tapi atas intervensi Soekarno dan Hatta putusan itu dapat dibatalkan dan diganti dengan hukuman seumur hidup. GERAF sendiri setelah para pemimpinnya ditangkapi tidak bisa berbuat apa-apa lagi, mereka hanya bisa menyebarkan propaganda anti-Jepang layaknya kelompok-kelompok kecil lainnya.

BAB III : PEMERINTAHAN SAYAP KIRI
Bab ini menjelaskan tentang kondisi para marxis pada awal kemerdekaan Indonesia. Disini diterangkan mengenai perkembangan ideologi sosialis-komunis setelah era penjajahan berakhir. Indonesia yang baru saja merdeka membuat para pemimpin pergerakan berusaha mengisinya dengan ideologi yang diemban. Dan ideologi yang dimiliki oleh para pemimpin pergerakan ini kebanyakan memiliki konsepsi ke arah kiri / sosialis-komunis. Indonesia tercatat memiliki tiga tokoh besar dalam perkembangan ideologi marxisme, mereka adalah Soetan Sjahrir, Tan Malaka, dan Amir Sjarifuddin.

Pandangan Sjahrir adalah sosialis-demokratis. Ia menjunjung tinggi demokrasi dalam membentuk masyarakat yang sosialis. Pandangan-pandangannya ia terapkan ketika menjadi perdana menteri. KNIP ia ubah dari sebuah badan penasihat menjadi badan legislatif yang ditambahkan kekuatan-kekuatan demokratis. Ia juga membentuk dewan kerakyatan di tiap daerah. Partai-partai diizinkan berdiri agar dapat menampung aspirasi rakyat. Tapi idenya mendapat tentangan kuat ia menerapkannya dalam bersikap menghadapi Belanda. Karena ia mengulur waktu untuk berdiplomasi dengan Belanda demi penyempurnaan Republik Indonesia.
Bila Sjahrir bersedia berdiplomasi untuk penyempurnaan Republik Indonesia, maka Tan Malaka tidak bersedia untuk berunding. Bagi Tan Malaka kemerdekaan politis tanpa kemerdekaan ekonomi benar-benar tidak ada artinya. Dia tidak setuju dengan perundingan apapun tanpa dasar pengakuan kemerdekaan Indonesia 100%. Dan sebagai jaminan pengakuan pihak lawan adalah penyitaan aset milik asing.

Selain dua tokoh tadi, Soe Hok Gie juga menjelaskan tentang pendirian PKI secara legal. Mr. Jusuf memanfaatkan maklumat pemerintah yang menganjurkan untuk pembentukan partai-partai. Mr. Jusuf menggunakan maklumat tersebut untuk melegalkan adanya PKI. Selain itu Soetan Sjahrir juga memanfaatkan maklumat tersebut untuk mendirikan Partai Rakyat Sosialis (PARAS). Amir Sjarifuddin juga mendirikan Partai Sosialis (PARSI). PARAS dan PARSI akhirnya bergabung dengan nama Partai Sosialis dan Amir Sjarifuddin bertindak sebagai pemimpinnya, hal ini dikarenakan Soetan Sjahrir sudah terlalu sibuk dengan jabatannya sebagai perdana menteri. Tak lama kemudian Partai Buruh Indonesia (PBI) yang berhaluan kiri juga lahir. Ketiga partai ini tergabung dalam kelompok Sayap Kiri yang menganut politik komunis garis-lunak (moskow-oriented communist). Sementara itu Tan Malaka yang berhaluan komunis garis-keras (home-grown communist) membentuk Persatuan Perjuangan yang berfungsi sebagai oposisi dari kelompok Sayap Kiri (PKI, PS, dan PBI).

Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, PKI terdapat clash dengan TRI. Hal ini karena perbedaan pendapat antara golongan PKI dan militer. PKI menganggap TRI hanya alat partai/negara. Selain itu PKI memang memiliki rasa tidak suka terhadap para pemimpin-pemimpin TRI macam Nasution dan Soedirman yang dianggapnya fasis. Hal ini karena mereka adalah bekas tentara didikan Belanda dan Jepang. PKI sendiri juga mendapat oposisi dari kelompok Persatuan Perjuangan bentukan Tan Malaka yang merupakan kelompok-kelompok anti-PKI. Persatuan Perjuangan terdiri dari Pesindo, Masjumi, Dewan Pusat Perjuangan Jawa Tengah, Serindo, Partai Sosialis, Markas Besar TRI, TLRI, dan Perwari.

Pemerintahan kiri Indonesia diawali oleh Soetan Sjahrir yang menjabat sebagai perdana menteri pada kabinet pertama Republik Indonesia. Segala pemikirannya ia tuangkan dalam pemerintahannya yang berlangsung dari November 1945 hingga Juni 1947. Tetapi karena Perundingan Linggajati menuai banyak kecaman termasuk dari kawan politiknya, ia akhirnya mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri. Marxisme masih menguasai Indonesia ketika Amir Sjarifuddin menggantikan Soetan Sjahrir sebagai perdana menteri. Dan Amir Sjarifuddin juga jatuh dari jabatannya setelah mengalami kegagalan dalam persetujuan Renville yang berakibat semakin menyempitnya wilayah NKRI. Amir Sjarifuddin pun mengalami hal yang sama seperti Soetan Sjahrir.

BAB IV : SITUASI SOSIAL DI BAWAH
Pada bagian ini dijelaskan bagaimana pandangan masyarakat Indonesia terhadap “revolusi”. Terdapat perbedaan pandangan antar para pemimpin revolusi. Penulis menganggap makna revolusi Sjahrir lebih logis dibanding pemaknaan revolusi oleh pemimpin tertinggi republik. Sjahrir beranggapan bahwa revolusi adalah soal perjuangan yang mengenai kehidupan dan nasib rakyat kita yang berjuta-juta yang tak boleh diperlakukan sebagai diri sendiri, soal menunjukkan jalan pada rakyat adalah semata-mata soal perhitungan dan bukan soal kehendak diri kita sendiri.

Dalam revolusi semua hal harus baru, sehingga nilai-nilai lama ditolak dan diganti dengan nilai-nilai baru. Nilai-nilai baru, yang juga tidak jelas artinya adalah suatu harapan, suatu mimpi indah yang diatasnya dibangun harapan akan terbentuknya masyarakat baru. Revolusi sendiri kala itu menjadi sebuah tren yang menjangkiti pemuda-pemuda Indonesia. Sehingga para pemuda mengalami frustasi-frustasi dalam pencarian nilai baru ini.

Ketika tokoh kiri yang dipuja oleh pemuda sebagai revolusioner yang akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dengan nilai-nilai baru, tokoh tersebut malah masih berkutat dengan nilai-nilai lama. Soetan Sjahrir ketika menjabat sebagai perdana menteri pada kabinet pertama Republik Indonesia diharapkan bersikap anti-Belanda, tapi sayangnya Perundingan Linggajati malah menghancurkan image dia sebagai revolusioner. Begitu kawan politiknya menghujat kebijakannya dan masyarakat (utamanya golongan pemuda) tidak mendukung ide-idenya tentang ”politik diplomasi”, ia pun akhirnya menyerahkan mandat dan mengundurkan diri dari jabatan Perdana Menteri.

Ditengah rasa frustasi itu, para pemuda kembali menjagokan tokoh kiri Indonesia. Amir Sjarifuddin di dukung dengan segenap harapan-harapan rakyat Indonesia. Tapi Amir sendiri merasa kesulitan untuk melaksanakan ide revolusioner-nya di lingkungan pemerintahan. Dan akhirnya Perundingan Renville pun menjatuhkannya dari posisi perdana menteri setelah PNI dan Masjumi menarik diri dari kabinetnya. Rakyat pun kembali frustasi dan kebingungan tanpa tahu kemana arah revolusi Indonesia yang sebenarnya.


BAB V : MIMPI-MIMPI INDAH YANG TELAH BERAKHIR
Bab ini menerangkan tentang keadaan Indonesia usai mundurnya para pemimpin-pemimpin Sayap Kiri dari kabinet Indonesia. Seperti yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa selama dua periode awal pemerintahan Republik Indonesia dipimpin oleh golongan Sayap Kiri, yaitu Soetan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin. Soetan Sjahrir yang mengundurkan diri dari kabinet karena tekanan dari golongan Sayap Kiri yang merupakan kawan politiknya membuat dirinya keluar dari golongan Sayap Kiri. Soetan Sjahrir pun menjadi oposisi dari kabinet Amir Sjarifuddin dan memisahkan diri dari Partai Sosialis dengan mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Gagalnya kelompok Sayap Kiri membuat rakyat kebingungan dalam mencari tokoh yang tepat untuk memimpin Republik. Hatta pun akhirnya ditunjuk sebagai perdana menteri menggantikan Amir Sjarifuddin. Pengangkatan Hatta sebagai perdana menteri membuahkan dilema bagi kelompok Sayap Kiri. Hal ini berakibat pecahnya kelompok Sayap Kiri dan kelompok ini pun mengundurkan diri dari kabinet. Kabinet Indonesia tanpa kelompok Sayap Kiri pun dimulai di era Hatta.

Bekas kelompok Sayap Kiri seperti Soetan Sjahrir dkk. yang mendukung kabinet Hatta tergabung dalam panitia Program Nasional. Amir Sjarifuddin sendiri melalui Partai Sosialis sebenarnya tergabung dalam kepanitian ini, karena Program Nasional dapat dijadikan oleh Sayap Kiri sebagai alat politiknya. Tetapi kemudian ia mundur dari Program Nasional dan merubah nama Sayap Kiri menjadi Front Demokrasi Rakyat. Hal ini dikarenakan Program Nasional Hatta dirasakan sebagai tekanan terhadap Front Demokrasi Rakyat. Front Demokrasi Rakyat sendiri akhirnya menjadi oposisi di pemerintahan Hatta.

Tetapi FDR sendiri memiliki pengaruh yang kuat di kalangan rakyat. Bahkan Divisi IV (Batalyon Panembahan Senopati) berada dibawah pengaruh FDR. Apalagi setelah Soeripno yang kembali dari Praha bersama sekretarisnya yang bernama Soerapto. Propaganda-propaganda Soeripno dan Soerapto mampu menumbuhkan sikap revolusioner dan merubah garis-lunak Koalisi Sayap Kiri menjadi garis-keras Front Demokrasi Rakyat. Soerapto sendiri akhirnya diketahui bahwa ia sebenarnya adalah Musso, seorang agitator dan ahli propaganda yang merupakan senior Soekarno ketika ia berguru kepada H.O.S. Tjokroaminoto.

Situasi di dalam negeri pun makin panas. Apalagi setelah Tan Malaka dibebaskan oleh Hatta, tuduh-menuduh pun terjadi antar kubu pro-FDR dan anti-FDR. Di Solo yang terdapat banyak simpatisan pro-FDR dan anti-FDR terjadi culik-menculik antar pasukan TNI dengan laskar-laskar. Hal ini dikarenakan sikap kurang simpatik pasukan Siliwangi ketika ditegur oleh pasukan divisi Senopati. Pertempuran pun terjadi antar pasukan TNI. Tetapi laskar rakyat dan pasukan divisi Senopati dapat dipukul mundur hingga Madiun. Akhirnya Solo menjadi basis kelompok anti-FDR dan Madiun pun menjadi basis pro-FDR. Perang saudara pun tak terelakkan lagi di Madiun setelah Hatta mengumumkan darurat perang.

BAB VI : AWAL DAN AKHIRNYA
Bagian pembuka bab ini sungguh menarik, Soe Hok Gie mengambil kata-kata dari Mayjend. T.B. Simatupang yang diambil dari Laporan dari Banaran hlm. 98. ”Saya sendiri yakin bahwa anak-anak biasa, yakni prajurit-prajurit dan pemuda-pemuda yang telah gugur pada kedua pihak selama peristiwa Madiun ini umumnya tidak tahu-menahu tentang persoalan-persoalan yang berada di belakang tragedi nasional ini. Saya yakin bahwa doa yang terakhir dari anak-anak itu semua adalah untuk kebahagiaan dan kebesaran tanah air yang satu juga”.

Ini menunjukkan bahwa pemberontakan yang dilakukan FDR/PKI di Madiun ini muncul akibat ketidakpuasan rakyat kepada pemerintah. Para pemuda dan rakyat yang menginginkan suatu perubahan dalam sistem dan nilai-nilai di Indonesia untuk kehidupan yang lebih baik menggunakan cara kekerasan setelah pemerintah tidak merespon segala aspirasi mereka. Pada perang saudara yang terjadi di Madiun ini kedua-belah pihak sama-sama menginginkan kemajuan bagi Republik Indonesia, hanya saja perbedaan ideologi dan cara membuat peristiwa berdarah ini terjadi.

Pada bagian ini dijelaskan mengenai peristiwa Madiun secara lebih mendetail. Dimulai dengan serbuan pasukan divisi Senopati ke Solo pada 17 September 1948 dan deklarasi Front Demokrasi Rakyat / Front Nasional pada 18 September 1948. Dalam waktu singkat pun Madiun, Pati, Ponorogo, dan Cepu dikuasai oleh Pemerintah Front Nasional. Di daerah yang dikuasai, FDR melucuti persenjataan milik polisi dan TNI yang masih setia terhadap Republik dan menangkapi lawan-lawan politiknya dari Masjumi dan PNI. Amir Sjarifuddin dan Musso sendiri sibuk memanas-manasi rakyat dan orasi-orasi nya pun semakin anti-pemerintah Republik. Soekarno sendiri ikut memanaskan suasana dengan memerintahkan masyarakat untuk memilih bergabung dengan dirinya (Soekarno-Hatta/Pemerintah) atau bergabung dengan gerombolan Musso (FDR/PKI).

TNI sendiri dibawah Jenderal Soedirman menghadapi dilema. Di satu sisi mereka tidak menyetujui ide demobilisasi tentara yang dilontarkan Hatta. Tapi di sisi yang lain ia juga tak setuju dengan PKI yang menggunakan militer hanya untuk kepentingan partai. Sebenarnya TNI sendiri bersimpati dengan gerakan revolusioner FDR ini. Hanya saja kesetiaan terhadap NKRI membuat TNI harus bersikap tegas terhadap kudeta FDR di Madiun ini.

Pasukan TNI pun dipersiapkan untuk mengepung Madiun dari segala arah. Hal ini dikarenakan Madiun adalah pusat dari FDR, sehingga apabila pemerintah FDR pusat mampu ditumpas, maka daerah-daerah FDR yang lain akan mudah untuk dibasmi. Pendukung FDR yang terdesak pun kebingungan dan melakukan tindak pembunuhan secara membabi-buta terhadap tawanan-tawanan yang mereka sekap. Begitu Pasukan TNI berhasil merebut Madiun, tindakan balasan dari masyarakat terhadap pendukung FDR terjadi. Banjir darah pun tak terelakkan lagi, karena yang berperang bukan lagi tentara melawan tentara, melainkan rakyat melawan rakyat.

Perlawanan sengit sempat terjadi di Ponorogo, tetapi dapat ditumpas dengan baik oleh pasukan TNI. Musso sendiri tertembak mati ketika dalam pengejaran TNI. Amir Sjarifuddin dapat ditangkap dan akhirnya dijatuhi hukuman mati. Sementara itu Aidit melarikan diri ke China. FDR sendiri akhirnya kehilangan dukungan dan PKI hilang untuk sementara waktu di Indonesia.
Beberapa teori tentang latar belakang Peristiwa Madiun dimunculkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Dari dalam PKI sendiri menyebut Peristiwa Madiun adalah provokasi yang sudah dilakukan oleh Amerika Serikat. PKI menuduh pemerintah sedang mencari simpati dari Amerika Serikat supaya membantu dalam sengketa Indonesia-Belanda. Amerika sendiri sedang berupaya menghapus komunisme di dunia mengingat saat itu perang dingin sedang marak-maraknya.

Teori ini ditolak oleh kalangan TNI. Karena apabila teori provokasi ini benar, maka Soekarno-Hatta akan tenang karena rencana provokasi mereka berjalan dengan baik. Tapi kenyataannya Soekarno-Hatta sendiri kebingungan dan bertanya-tanya apa maksud dari sikap Musso yang menantang Republik Indonesia. Sementara itu dari golongan yang anti-FDR menyebutkan bahwa Peristiwa Madiun memang sudah direncanakan oleh PKI, hal ini mereka hubungkan dengan garis keras Zhdanov yang dipakai oleh Komintern sejak tahun 1947 dan gerakan-gerakan komunis yang terjadi di Burma, Malaya, serta Filipina.