Translate

Tampilkan postingan dengan label struktur candi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label struktur candi. Tampilkan semua postingan

Penamaan Candi di Indonesia

Serba Sejarah - Kebanyakan candi-candi yang ditemukan di Indonesia tidak diketahui nama aslinya. Kesepakatan di dunia arkeologi adalah menamai candi itu berdasarkan nama desa tempat ditemukannya candi tersebut. Candi-candi yang sudah diketahui masyarakat sejak dulu, kadang kala juga disertai dengan legenda yang terkait dengannya. Ditambah lagi dengan temuan prasasti atau mungkin disebut dalam naskah kuno yang diduga merujuk kepada candi tersebut. Akibatnya nama candi dapat bermacam-macam, misalnya candi Prambanan, candi Rara Jonggrang, dan candi Siwagrha merujuk kepada kompleks candi yang sama. Prambanan adalah nama desa tempat candi itu berdiri. Rara Jonggrang adalah legenda rakyat setempat yang terkait candi tersebut. Sedangkan Siwagrha (Sanskerta: "rumah Siwa") adalah nama bangunan suci yang dipersembahkan untuk Siwa yang disebut dalam Prasasti Siwagrha dan merujuk kepada candi yang sama. Berikut adalah sebagian kecil candi-candi yang dapat diketahui kemungkinan nama aslinya:
Nama Candi Dusun dan Desa Nama Asli Nama Lain
Gunung Wukir (Jawa: "gunung berukir") Canggal, Kadiluwih Siwalingga (?) (berdasarkan prasasti Canggal)
Borobudur Bumisegoro, Borobudur Bhumisambharabudhara (Sanskerta:"sepuluh tingkatan kebajikan bodhisatwa", berdasarkan prasasti Tri Tepusan) Jinalaya (berdasarkan prasasti Karangtengah), Budur (berdasarkan Nagarakretagama)
Mendut Mendut, Mungkid Venuvana (Sanskerta: "hutan bambu" berdasarkan prasasti Karangtengah)
Pawon (Jawa: "dapur" atau "pa-awu-an", tempat abu) Bajranalan Vajranala (?) (Sanskerta: "api halilintar" berdasarkan nama desa)
Prambanan Prambanan Shivagrha (Sanskerta:"rumah Siwa", berdasarkan prasasti Siwagrha) Rara Jonggrang (legenda setempat)
Sewu (Jawa: "seribu", terkait legenda Rara Jonggrang) Bener, Bugisan Manjusrigrha (Sanskerta:"rumah Manjusri", berdasarkan prasasti Kelurak dan prasasti Manjusrigrha)
Ratu Boko (Jawa: "raja Boko", terkait legenda Rara Jonggrang) Sambirejo Abhayagiri (Sanskerta:"gunung yang aman dari bahaya", prasasti Abhayagiri Wihara)
Kalasan Kalibening, Kalasan Kalaça (nama desa berdasarkan prasasti Kalasan) Tara<grha> (?) (berdasarkan prasasti Kalasan candi ini dipersembahkan untuk dewi Tara)
Penataran Penataran, Nglegok Palah (Nagarakretagama)
Jawi Candi Wates, Prigen Jajawa (Nagarakretagama)
Jago Tumpang Jajaghu (Nagarakretagama)
Bajang Ratu (Jawa:"raja cacat") Temon, Trowulan Çrenggapura atau Sri Ranggapura (Sanskerta:"Istana Sri Rangga", berdasarkan Nagarakretagama, pedharmaan raja Jayanegara)
Jabung Jabung, Paiton Vajrajinaparamitapura (Sanskerta:"Istana Wajra Jina (Buddha) Paramita", berdasarkan Nagarakretagama) Sajabung (Pararaton)
Selebihnya, nama candi-candi lain biasanya dinamakan berdasarkan nama desanya.

Sumber: wikipedia

Pembagian Struktur Candi

Kaki, tubuh, dan atap candi Prambanan.
Serba Sejarah - Kebanyakan bentuk bangunan candi meniru tempat tinggal para dewa yang sesungguhnya, yaitu Gunung Mahameru. Oleh karena itu, seni arsitekturnya dihias dengan berbagai macam ukiran dan pahatan berupa pola yang menggambarkan alam Gunung Mahameru.
Peninggalan-peninggalan purbakala, seperti bangunan-bangunan candi, patung-patung, prasasti-prasasti, dan ukiran-ukiran pada umumnya menunjukkan sifat kebudayaan Indonesia yang dilapisi oleh unsur-unsur Hindu-Budha. Pada hakikatnya, bentuk candi-candi di Indonesia adalah punden berundak, dimana punden berundak sendiri merupakan unsur asli Indonesia.
Berdasarkan bagian-bagiannya, bangunan candi terdiri atas tiga bagian penting, antara lain, kaki, tubuh, dan atap.
  1. Kaki candi merupakan bagian bawah candi. Bagian ini melambangkan dunia bawah atau bhurloka. Pada konsep Buddha disebut kamadhatu. Yaitu menggambarkan dunia hewan, alam makhluk halus seperti iblis, raksasa dan asura, serta tempat manusia biasa yang masih terikat nafsu rendah. Bentuknya berupa bujur sangkar yang dilengkapi dengan jenjang pada salah satu sisinya. Bagian dasar candi ini sekaligus membentuk denahnya, dapat berbentuk persegi empat atau bujur sangkar. Tangga masuk candi terletak pada bagian ini, pada candi kecil tangga masuk hanya terdapat pada bagian depan, pada candi besar tangga masuk terdapat di empat penjuru mata angin. Biasanya pada kiri-kanan tangga masuk dihiasi ukiran makara. Pada dinding kaki candi biasanya dihiasi relief flora dan fauna berupa sulur-sulur tumbuhan, atau pada candi tertentu dihiasi figur penjaga seperti dwarapala. Pada bagian tengah alas candi, tepat di bawah ruang utama biasanya terdapat sumur yang didasarnya terdapat pripih (peti batu). Sumur ini biasanya diisi sisa hewan kurban yang dikremasi, lalu diatasnya diletakkan pripih. Di dalam pripih ini biasanya terdapat abu jenazah raja serta relik benda-benda suci seperti lembaran emas bertuliskan mantra, kepingan uang kuno, permata, kaca, potongan emas, lembaran perak, dan cangkang kerang.
  2. Tubuh candi adalah bagian tengah candi yang berbentuk kubus yang dianggap sebagai dunia antara atau bhuwarloka. Pada konsep Buddha disebut rupadhatu. Yaitu menggambarkan dunia tempat manusia suci yang berupaya mencapai pencerahan dan kesempurnaan batiniah. Pada bagian depan terdapat gawang pintu menuju ruangan dalam candi. Gawang pintu candi ini biasanya dihiasi ukiran kepala kala tepat di atas-tengah pintu dan diapit pola makara di kiri dan kanan pintu. Tubuh candi terdiri dari garbagriha, yaitu sebuah bilik (kamar) yang ditengahnya berisi arca utama, misalnya arca dewa-dewi, bodhisatwa, atau Buddha yang dipuja di candi itu. Di bagian luar dinding di ketiga penjuru lainnya biasanya diberi relung-relung yang berukir relief atau diisi arca. Pada candi besar, relung keliling ini diperluas menjadi ruangan tersendiri selain ruangan utama di tengah. Terdapat jalan selasar keliling untuk menghubungkan ruang-ruang ini sekaligus untuk melakukan ritual yang disebut pradakshina. Pada lorong keliling ini dipasangi pagar langkan, dan pada galeri dinding tubuh candi maupun dinding pagar langkan biasanya dihiasi relief, baik yang bersifat naratif (berkisah) atau pun dekoratif (hiasan).
  3. Atap candi adalah bagian atas candi yang menjadi simbol dunia atas atau swarloka. Pada konsep Buddha disebut arupadhatu. Yaitu menggambarkan ranah surgawi tempat para dewa dan jiwa yang telah mencapai kesempurnaan bersemayam. Pada umumnya, atap candi terdiri dari tiga tingkatan yang semakin atas semakin kecil ukurannya. Sedangkan atap langgam Jawa Timur terdiri atas banyak tingkatan yang membentuk kurva limas yang menimbulkan efek ilusi perspektif yang mengesankan bangunan terlihat lebih tinggi. Pada puncak atap dimahkotai stupa, ratna, wajra, atau lingga semu. Pada candi-candi langgam Jawa Timur, kemuncak atau mastakanya berbentuk kubus atau silinder dagoba. Pada bagian sudut dan tengah atap biasanya dihiasi ornamen antefiks, yaitu ornamen dengan tiga bagian runcing penghias sudut. Kebanyakan dinding bagian atap dibiarkan polos, akan tetapi pada candi-candi besar, atap candi ada yang dihiasi berbagai ukiran, seperti relung berisi kepala dewa-dewa, relief dewa atau bodhisatwa, pola hias berbentuk permata atau kala, atau sulur-sulur untaian roncean bunga.
Sumber: wikipedia 

Candi Sukuh: The Most Exotic Temple in The World

Candi Sukuh merupakan candi yang berlatar belakang agama Hindu. Berdasarkan prasasti yang ada di sekitar candi, Candi Sukuh didirikan antara tahun 1359 - 1378 Saka atau tahun 1437 - 1456 Masehi (sekitar abad XV). Meskipun berlatar belakang agama Hindu, bentuk bangunan candi cenderung kembali ke bentuk bangunan pada jaman pra sejarah yaitu struktur Punden Berundak.

Candi Sukuh terletak di Kabupaten Karanganyar, eks Karisidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini dikategorikan sebagai candi Hindu karena ditemukannya obyek pujaan lingga dan yoni. Candi ini digolongkan kontroversial karena bentuknya yang kurang lazim dan karena banyaknya obyek-obyek lingga dan yoni yang melambangkan seksualitas.

Penemuan
Situs candi Sukuh ditemukan kembali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1615 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson kala itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java. Kemudian setelah masa pemerintahan Britania Raya berlalu, pada tahun 1842, Van der Vlis, yang berwarganegara Belanda melakukan penelitian. Lalu pada tahun 1928, pemugaran dimulai.

Lokasi candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut pada koordinat 07o37, 38’ 85’’ Lintang Selatan dan 111o07,. 52’65’’ Bujur Barat. Candi ini terletak di dukuh Berjo, desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, eks Karisidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta. Kurang lebih 4 kilometer mendaki gunung Lawu lagi, terdapat situs Candi Cetho. 



gbr1
Bangunan utama candi sukuh
Erotisme Sebuah Candi
Yang membuat Candi Sukuh menarik adalah bentuk candi, arca dan lukisan relief yang sungguh unik dan berbeda dengan candi lainnya. Candi ini dipenuhi arca dan relief yang menggambarkan perwujudan kelamin lelaki dan perempuan secara gamblang, telanjang dan naturalis. Hal inilah yang memicu timbulnya julukan "The Most Exotic Temple in The World" bagi Candi Sukuh. Tak jarang mereka melontarkan tuduhan sebagai candi porno yang mengajarkan pendidikan seks secara vulgar. 

Proses penciptaan pastilah manusia mempunyai konteks dengan apa yang kita sebut sebagai hubungan badani atau hubungan seks yang sudah ada sejak awal manusia diciptakan. Namun jarang sekali, di zaman semua itu dianggap tabu, hal ini dibicarakan secara terbuka. Sebuah candi dari zaman Majapahit, di kaki gunung Lawu, ternyata berani bercerita secara terbuka tentang erotisme ini. Candi Sukuh begitulah namanya, sebuah candi kuno yang bentuknya cukup artistik dengan candi-candi lainnya. Banyak cerita relief yang diperkirakan oleh para peneliti sezaman dengan Kerajaan majapahit. Bentuk bangunan Candi Sukuh agak berbeda dengan candi-candi lainnya. Sekilas rupa menyerupai bentuk piramida di Mesir.

Perawan dan Jejaka Wajib Melangkahi Relief Dari kejauhan Candi Sukuh telah tampak karena letaknya di atas puncak bukit. Begitu kita mulai memasuki areal kawasan candi, pintu gerbang yang paling depan seakan-akan mengawasi seluruh lereng gerbang (samping teras teratas) dan anda akan tahu bahwa julukan "Candi Porno" terhadap candi ini bukanlah sensasi semata

Di halaman teras teratas terletak bangunan candi. Candi ini sangatlah istimewa. Bentuknya berteras-teras seperti piramida. Hanya puncaknya saja yang datar. Mungkin di puncak ini dahulu ada bangunan dari kayu yang sekarang sudah musnah. Teras-teras ini sungguh istimewa bentuknya karena candi-candi lain tidaklah demikian dan biasanya candi mempunyai bagian dasar yang bertangga. Bentuk piramida berteras ini bukanlah gaya bangunan Hindu melainkan gaya Indonesia asli. Seperti kebudayaan penduduk Kepulauan Polynesia pun mempunyai adat tempat untuk pemujaan seperti ini. Bila dibandingkan dengan bentuk nisan-nisan kuno di Jawa, sering adapula yang berbentuk piramida berteras. Bentuk piramida ini biasanya digunakan untuk memuja para arwah leluhur.

Lingga dan Yoni
gbr3Relief yang ada di Candi Sukuh seluruhnya mengesankan erotisme. Ada patung seorang lelaki yang memegang tanda jenis (alat kelamin), gajah, dan binatang-binatang lainnya dengan alat kelamin yang serba menonjol. Tentu saja maksudnya bukan untuk merangsang pengunjung, melainkan lambang misteri proses penciptaan. Tapi sangat disayangkan tangan-tangan usil sering kali memberikan komentar-komentar gaya modern pada relief-relief ini dengan berbagai tulisan kotor tanpa mengetahui maknanya. Lingga dan yoni adalah representasi dari alat kelamin laki-laki dan perempuan. Sering pula disepakati sebagai lambang kesuburan, biasanya banyak terdapat pada candi Syiwa. Letaknya persis di pintu masuk ini dan begitu nyatanya membuat masyarakat sering menyebutnya sebagai candi tabu. Padahal, bisa jadi menurut budaya Jawa yang sarat akan lambang, penempatan lingga dan yoni itu sebagai pengusir bala bagi yang ingin masuk ke dalam candi.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, lingga dan yoni di gapura dulunya sering dijadikan sarana untuk menguji kesucian perempuan dengan melangkahi simbol itu. Jika kain kebaya yang digunakannya robek berarti perempuan itu menjaga kesuciannya, namun jika kain kebayanya terlepas, maka perempuan itu dipercayai telah kehilangan kesuciannya. Mengenai julukan erotis, selain perlambangan lingga dan yoni di pagar, juga nampak pada relief-relief yang tersisa. Tapi sepertinya sudah tak banyak lagi. Mungkin karena terlalu vulgar, makanya relief itu tak ada lagi.


Candi Gampingan Bantul

Tak semua candi memiliki relief cantik yang khas sebab umumnya hanya dihias oleh arca dan relief umum yang terdapat hampir di semua candi. Salah satu yang memiliki relief cantik yang khas itu adalah Candi Gampingan, sebuah candi yang ditemukan secara tak sengaja oleh pengrajin batu bata di Dusun Gampingan, Piyungan, Bantul pada tahun 1995. Meski ukurannya kecil dan sudah tak utuh lagi, Candi Gampingan masih kaya akan relief yang mempesona.


Salah satu relief cantik yang bisa dijumpai di candi ini adalah relief hewan yang ada di kaki candi. Relief hewan di Gampingan begitu natural hingga bisa diketahui jenis hewan yang digambarkan. Cukup jarang candi yang memiliki relief demikian, setidaknya hanya Candi Prambanan dan Mendut yang dikenal memiliki relief serupa. Semua relief itu dihias dengan latar sulur-suluran, yaitu padmamula (akar tanaman teratai) yang diyakini sebagai sumber kehidupan.


Saat YogYES berkeliling, tampak jenis hewan yang mendominasi adalah burung. Terdapat relief burung gagak yang tampak memiliki paruh besar, tubuh kokoh, sayap mengembang ke atas dan ekor berbentuk kipas. Ada pula relief burung pelatuk yang digambarkan memiliki jambul di atas kepala, paruh yang agak panjang dan runcing serta sayap yang tidak mengembang. Selain itu, ada juga ayam jantan yang memiliki dada membusung dan sayap mengembang ke bawah.


Relief Kodok pada candi Gampingan
Pembuatan relief burung dalam jumlah banyak di candi ini berkaitan keyakinan masyarakat saat itu terhadap kekuatan transedental burung. Diyakini, burung merupakan perwujudan para dewa sekaligus pembawa pesan dari alam para dewa atau nirwana. Burung juga berkaitan dengan kebebasan absolut manusia yang dicapai setelah berhasil meninggalkan kehidupan duniawi, lambang jiwa manusia yang lepas dari raganya.


Relief hewan lain yang juga banyak digambarkan adalah katak. Masyarakat saat itu percaya bahwa katak memiliki kekuatan gaib yang mampu mendatangkan hujan, sehingga katak juga dipercayai mampu meningkatkan produktivitas, karena air hujan yang didatangkan katak bisa meningkatkan hasil panen. Katak yang sering muncul dari air juga melambangkan pembaharuan kehidupan dan kebangkitan menuju arah yang lebih baik.


Hingga kini, relief itu masih menyisakan pertanyaan, apakah sebuah fabel (cerita hewan yang didongengkan pada anak-anak) seperti di Candi Mendut atau gambaran hewan yang sengaja dibuat untuk menunjukkan maksud tertentu. Pertanyaan itu muncul sebab gambaran hewan seperti di Candi Gampingan tak ditemukan dalam kitab yang memuat fabel, seperti Jataka, Sukasaptati, Pancatantra dan versi turunannya.
Relief burung pada dinding candi Gampingan


Candi Gampingan yang diperkirakan dibangun antara tahun 730 - 850 M diyakini merupakan tempat pemujaan Dewa Jambhala (Dewa Rejeki, anak Dewa Siwa). Hal itu didasari oleh penemuan Arca Jambhala ketika penggalian. Jambhala digambarkan sedang dalam keadaan semedi, tubuhnya duduk bersila sementara matanya terpejam. Bagian tubuhnya dihiasi oleh unsur ikonografis (asana) berupa bunga teratai yang memiliki daun berjumlah 8 helai sebagai lambang cakra dalam tubuh manusia.


Figur Jambhala di candi ini berbeda dengan yang ada di candi lainnya. Umumnya, Jambhala di candi lain digambarkan dengan mata lebar yang menatap ke arah pemujanya disertai dengan beragam hiasan yang melambangkan kemakmuran dan kemewahan. Diyakini, penggambaran berbeda ini didasari oleh motivasi pemujaan, bukan untuk memohon kemakmuran tetapi bimbingan agar dapat mencapai kebahagiaan sejati.


Mengunjungi Candi Gampingan akan membawa kita merenungkan kembali tentang jalan yang sudah kita tempuh untuk menuju kebahagiaan dan kesejahteraan. Relief yang didominasi bentuk hewan yang hidup di alam sekitarnya bisa jadi merupakan wujud kearifan masyarakat setempat pada jaman itu dalam merepresentasikan sebuah pesan dari nirwana: untuk hidup sejahtera dan terhindar dari bencana, manusia seharusnya menjaga keselarasan dengan alam.

Fungsi Candi
Konteks antara arca Jambhala dan Candra-Lokesvara dengan candi Gampingan, dalam dimensi waktu dan landasan konseptualnya sebagai lambang keberadaan dewa pada bangunan candi, menjadikan arca Jambhala dan Candra-Lokesvara sebagai data yang representatif untuk menginterpretasikan fungsi candi Gampingan dan latar belakang pendiriannya.


Hal itu dapat dirunut dari bentuk arca Jambhala yang sesuai dengan konsepsinya dalam ajaran yoga. Keterkaitan antara arca Jambhala di candi Gampingan dengan konsepsinya dalam ajaran yoga, menggambarkan kedudukan Jambhala sebagai dewa utama yang dipuja oleh masyarakat penganutnya. Esensi yang diharapkan melalui pemujaan itu berkaitan, dengan kedudukan Jambhala sebagai dharmapala.

Dalam hal ini, Jambhala berperan sebagai dewa pemberi perlindungan, bimbingan, dan ajaran bagi umat untuk mencapai pencerahan. Pencerahan yang dimaksud dapat dicapai melalui disiplin spiritual yang digambarkan dalam pengarcaannya, yaitu samadhi. Pada arca yang ditemukan,, digambarkan Jambhala sedang dalam keadaan samadhi, tubuhnya duduk bersila sementara matanya terpejam. Bagian tubuhnya dihiasi oleh unsur ikonografis (asana) berupa bunga teratai yang memiliki daun berjumlah 8 helai sebagai lambang cakra dalam tubuh manusia.

Representasi penyampaian ajaran yang terkandung dalam pemujaan Jambhala itu, terdapat pada arca Candra-Lokesvara, berupa penggambaran vyakhyana-mudra dan konsepsi Lokesvara yang berasosiasi dengan prinsip memberi ajaran dan membantu semua makhluk guna mencapai pencerahan.

Figur Jambhala di candi ini berbeda dengan yang ada di candi lainnya. Umumnya, Jambhala di candi lain digambarkan dengan mata lebar yang menatap ke arah pemujanya disertai dengan beragam hiasan yang melambangkan kemakmuran dan kemewahan. Diyakini, penggambaran berbeda ini didasari oleh motivasi pemujaan, bukan untuk memohon kemakmuran tetapi bimbingan agar dapat mencapai kebahagiaan sejati.

Selanjutnya, arca Jambhala dan Candra-Lokesvara yang ditemukan di Situs Candi Gampingan merefleksikan prinsip Buddhisme Mahayana yang beraliran tantrisme. Sifat Tantrisme diketahui dari posisi samadhi yang didasari oleh ajaran yoga. Sifat Buddhisme Candi Gampingan juga ditunjukkan melalui keberadaan fragmen unsur bangunan stupa yang tersisa.

Kesatuan konteks antara Candi Gampingan dengan arca Jambhala dan Candra-Lokesvara, menunjukkan fungsi Candi Gampingan sebagai rumah atau tempat dewa (devagrha, devalaya, atau sthana).
Penempatan arca dewa yang dipuja dalam Candi Gampingan dilatarbelakangi keyakinan bahwa bangunan candi adalah simbol pusat dunia, dunia para dewa, penghubung dunia manusia dengan dunia dewa. Oleh karena itu, candi merupakan tempat yang paling tepat untuk arca yang menjadi lambang kehadiran dewa.

Secara lebih spesifik, fungsi Candi Gampingan dan latar belakang pendiriannya berkaitan dengan makna arca dewa yang menjadi objek pemujaan yang pokok. Candi Gampingan berfungsi sebagai tempat pemujaan (puja-sthana) bagi Jambhala. Berdasarkan hal ini dapat diinterpretasikan bahwa masyarakat pendukung Candi Gampingan terdiri atas individu-individu yang pemahaman keagamaannya tergolong cukup tinggi, sehingga dapat mencapai tahap awal dalam tingkatan disiplin spiritual tertinggi untuk mencapai pencerahan, yaitu samadhi.

Jadi, latar belakang pendirian Candi Gampingan, selaras dengan fungsi Candi Gampingan yaitu sebagai tempat pemujaan bagi dewa utama mereka, Dewa Jambhala. Sedangkan tujuan yang hendak dicapai dalam praktik pemujaan tersebut adalah pencerahan. Pendirian bangunan candi tersebut, dan didukung dengan bukti keberadaan stupa di Situs Candi Gampingan, dilatarbelakangi oleh adanya keinginan untuk mempercepat tercapainya pencerahan melalui pelaksanaan dana-paramita.

Selain itu, dengan mengunjungi Candi Gampingan akan membawa kita merenungkan kembali tentang jalan yang sudah kita tempuh untuk menuju kebahagiaan dan kesejahteraan. Relief yang didominasi bentuk hewan yang hidup di alam sekitarnya, bisa jadi merupakan wujud kearifan masyarakat setempat pada jaman itu dalam merepresentasikan sebuah pesan dari nirwana: untuk hidup sejahtera dan terhindar dari bencana, manusia seharusnya menjaga keselarasan dengan alam.





Sumber : www.yogyes.com

Gaya Arsitektur Candi di Jawa Abad 8 — 15 M

I
Kajian terhadap bangunan candi telah banyak dilakukan oleh para ahli ilmu purbakala (arkeologi) baik para ahli Belanda ataupun ahli Indonesia sendiri. Istilah “candi” umumnya hanya dikenal di Pulau Jawa saja, walaupun demikian di beberapa daerah di luar Jawa yang pernah mendapat pengaruh kebudayaan Jawa istilah “candi” tetap dikenal sebagai nama bangunan kuno dari zaman Hindu-Buddha Nusantara.

Candi sebenarnya adalah salah satu saja dari bangunan keagaamaan yang pernah digunakan dahulu ketika agama Hindu-Buddha merebak dipeluk masyarakat Jawa Kuno. Berdasarkan bukti-buktinya dapat diketahui bahwa perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha di Jawa berlangsung sekitar abad ke-8—15 M. Dalam pembabakan sejarah kebudayaan Jawa, masa itu dinamakan dengan zaman Klasik. Dinamakan dengan zaman Klasik karena adanya 3 parameter, yaitu:
  1. Zaman Hindu-Buddha merupakan periode dikembangkannya tonggak-tonggak kebudayaan penting yang dalam zaman sebelumnya tidak dikenal, seperti aksara, sistem kerajaan, arsitektur monumental, kesenian, penataan wilayah, dan lainnya lagi.
  2. Hasil-hasil pencapaian kebudayaan masa itu terus dikenal hingga sekarang dan tetap dapat dijadikan acuan bagi perkembangan masyarakat masa sekarang. Misalnya penggunaan bahasa Jawa Kuno yang mengacu kepada bahasa Sansekerta, kisah-kisah Mahābharata dan Ramayana, konsep pahlawan, konsep penguasa yang baik, perempuan ideal, masyarakat sejahtera, dan lain-lain.
Melalui penelisikan terhadap bukti-bukti artefaktualnya zaman Hindu-Buddha di Jawa pun terbagi dalam dua periode, yaitu (a) zaman Klasik Tua (abad ke-8—10 M), dan (b) zaman Klasik Muda (abad ke-11—15 M). Zaman Klasik Tua berkembang di wilayah Jawa bagian tengah, bersamaan dengan berkembangnya pusat kerajaan di wilayah tersebut. Kerajaan yang dikenal dalam masa itu adalah Mataram Kuno yang ibu kotanya berpindah-pindah semula di Mdang i Poh Pitu, kemudian pindah ke Mdang i Watu Galuh, dan Mdang i Mamratipura. Adapun zaman Klasik Muda. Kerajaan Mataram Kuno kerapkali dihubungkan dengan dinasti Śailendra yang beragama Buddha Mahayana, namun ada juga kalangan sarjana yang menyatakan bahwa kerajaan itu dikuasai oleh anak keturunan raja Sanjaya (“Sanjayavamsa”) yang menganut agama Hindu. Teori terbaru menyatakan bahwa Mataram Kuno dikuasai oleh anggota Śailendravamsa, di antara anggota-anggotanya ada yang beragama Buddha Mahayana dan ada pula yang memeluk Hindu-śaiva.
Dalam sekitar abad ke-10 M, Wawa raja Mataram Kuno memindahkan kota kedudukan raja ke Jawa bagian timur, alasan pemindahan tersebut masih menjadi perhatian para ahli dan belum ada kata putus yang dapat diterima bersama. Hipotesa telah banyak dikemukakan oleh para ahli, ada yang menyatakan bahwa pemindahan tersebut karena adanya wabah penyakit, rakyat yang melarikan diri ke Jawa bagian timur karena raja-raja masa itu memerintah dengan kejam, perpindahan itu dipicu karena adanya serangan dari Śriwijaya, disebabkan bencana alam letusan Gunung Merapi, serta suatu penjelasan terbaru menyatakan bahwa pemindahan ibu kota itu sebenarnya mencari Mahameru yang lebih ideal di Jawa Timur (Munandar 2004).
Maka selanjutnya berkembanglah kerajaan-kerajaan di Jawa Timur, dimulai dari masa pemerintahan Pu Sindok bersama dinasti Iśananya. Dalam masa pemerintahan Airlangga (1019—1042 M) kerajaan Mataram yang beribukota di Wwatan Mas (abad ke-11 M) itu terpaksa dibagi menjadi dua: Janggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kadiri) yang beribu kota di Daha. Kerajaan Kadiri yang kemudian lebih berperanan dalam sejarah sepanjang abad ke-12 M. Menyusul kerajaan Singhasari yang berkembang antara tahun 1222—1292 M yang dibangun oleh Ken Angrok. Akibat adanya serangan dari Jayakatwang penguasa Glang-glang terhadap raja Singhasari terakhir, yaitu Kŗtanagara (1268—1292), kerajaan itu runtuh, untuk kemudian lewat perjuangan panjang Krtarajaśa Jayawarddhana (Raden Wijaya) berdirilah Wilwatikta. Dalam masa pemerintahan Rajaśanagara (1350—1389 M) Majapahit menjelma menjadi penguasa Nusantara, Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Buddha terakhir di Jawa, berkembang selama lebih kurang 200 tahun lamanya (1293—1521 M).
Kerajaan Hindu-Buddha yang berkembang silih berganti di Jawa melampaui abad demi abad ada yang banyak meninggalkan “jejaknya”, namun ada pula yang sedikit saja mempunyai peninggalan arkeologis. Kerajaan Mataram Kuno, Singhasari dan Majapahit termasuk yang banyak mewariskan berbagai monumen keagamaan Hindu dan Buddha. Demikianlah monumen yang menjadi perhatian dalam kajian ini adalah bangunan candi yang merupakan salah satu monumen keagamaan penting. Bersama dengan candi terdapat monumen lain yang dipandang sakral adalah petirthaan (patirthān), goa pertapaan, dan altar persajian hanya saja jumlahnya terbatas. Oleh karena itu candi tetap menjadi bahan kajian menarik karena jumlahnya banyak dan memiliki arsitektur unikum, candi tidak akan pernah selesai dibahas dari berbagai aspek, salah satu aspeknya adalah gaya arsitekturnya.

II
Borobudur dilihat dari pelataran sudut barat laut

R.Soekmono (1997) seorang ahli percandian Indonesia pernah mengadakan tinjauan ringkas terhadap bangunan candi di Jawa, dinyatakan bahwa bangunan candi di Jawa mempunyai dua langgam, yaitu Langgam Jawa Tengah dan Langgam Jawa Timur. Menurutnya Langgam Jawa Tengah antara lain mempunyai ciri penting sebagai berikut: (a) bentuk bangunan tambun, (b) atapnya berundak-undak, (c) gawang pintu dan relung berhiaskan Kala-Makara, (d) reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya naturalis, dan (e) letak candi di tengah halaman. Adapun ciri candi Langgam Jawa Timur yang penting adalah: (a)
candi brahu
bentuk bangunannya ramping, (b) atapnya merupakan perpaduan tingkatan, (c) Makara tidak ada, dan pintu serta relung hanya ambang atasnya saja yang diberi kepala Kala, (d) reliefnya timbul sedikit saja dan lukisannya simbolis menyerupai wayang kulit, dan (e) letak candi bagian belakang halaman (Soekmono 1997: 86).
Demikian ciri-ciri penting yang dikemukakan oleh Soekmono selain ciri-ciri lainnya yang sangat relatif sifatnya karena berkenaan dengan arah hadap bangunan dan bahan yang digunakan. Sebagai suatu kajian awal pendapat Soekmono tersebut memang penting untuk dijadikan dasar pijakan selanjutnya manakala hendak menelaah tentang langgam arsitektur bangunan candi di Jawa. Sebenarnya setiap butir ciri yang telah dikemukakan oleh Soekmono dapat dijelaskan lebih lanjut sehingga menjadi lebih tajam pengertiannya. Misalnya bentuk bangunan tambun yang dimiliki oleh candi Langgam Jawa Tengah, kesan itu terjadi akibat adanya bagian lantai kaki candi tempat orang berjalan berkeliling memiliki ruang yang lebar, dengan istilah lain mempunyai pradaksinapatha yang lebar. Bentuk bangunan tambun juga terjadi akibat atap candi Langgam Jawa Tengah tidak tinggi, atapnya memang bertingkat-tingkat, dan hanya berjumlah 3 tingkat termasuk kemuncaknya. Dibandingkan dengan candi Langgam Jawa Timur jumlah tingkatan atapnya lebih dari tiga dan berangsur-angsur tiap tingkatan tersebut mengecil hingga puncaknya, begitupun pradaksinapathanya sempit hanya muat untuk satu orang saja, oleh karena itu kesan bangunannya berbentuk ramping.
Penjelasan lebih rinci juga dapat terjadi dalam hal kepala Kala, selain berpasangan dengan makara (hewan mitos gabungan antara gajah dan ikan, [gajamina]), umumnya Kala pada candi-candi Jawa tengah digambarkan tanpa rahang bawah (tidak berdagu), seringkali juga tidak mempunyai sepasang cakar, dan mengesankan wajah seekor singa simbol wajah kemenangan (kirttimukha). Sedangkan Kala di candi-candi dengan Langgam Jawa Timur digambarkan mempunyai rahang bawah (berdagu), jelas mempunyai sepasang cakar di kanan-kiri kepalanya dalam artian mengancam kejahatan yang akan mengganggu kesucian candi, pada beberapa candi zaman Singhasari dan Majapahit kepala Kala dilengkapi sepasang tanduk dan sepasang taring yang mencuat dari pipi kanan-kirinya. Kala tidak lagi dipasangkan dengan bingkai Makara, melainkan dengan ular atau Naga yang diletakkan di samping kanan-kiri Kala. Dalam penggambaran relief Kala disepadankan dengan sepasang kepala kijang (mŗga) yang menghadap ke arah luar. Pada akhirnya kesan yang didapatkan apabila memperhatikan Kala candi-candi Jawa Timur adalah sebagai kepala raksasa, bukannya wajah singa.
Dalam hal pemahatan relief yang menghias dinding candi, jika disimak dengan seksama terdapat perbedaan yang lebih terinci lagi. Memang secara prinsip di candi-candi Langgam Jawa Tengah pemahatan reliefnya tinggi dan bersifat naturalis, namun terdapat sejumlah ciri lainnya lagi yang bersifat spesifik. Dengan demikian jika diuraikan secara lengkap ciri relief di candi-candi Jawa Tengah adalah:
  1. Pemahatan relief tinggi
  2. Penggambaran bersifat naturalis
  3. Ketebalan pahatan ½ sampai ¾ dari media (balok batu)
  4. Terdapat bidang yang dibiarkan kosong pada panil
  5. Figur manusia dan hewan wajahnya diarahkan kepada pengamat (enface)
  6. Cerita acuan berasal dari kesusastraan India
  7. Tema kisah umumnya wiracarita (epos)
  8. Cerita dipahatkan lengkap dari adegan awal hingga akhir.
Mengenai ciri-ciri penggambaran relief pada candi-candi Langgam Jawa Timur adalah:
  1. Pemahatan relief rendah
  2. Penggambaran figur-figur simbolis, tokoh manusia seperti wayang kulit
  3. Dipahatkan hanya pada ¼ ketebalan media (batu/bata)
  4. Seluruh panil diisi penuh dengan berbagai hiasan, seperti terdapat “ketakutan pada bidang yang kosong”.
  5. Figur manusia dan hewan wajahnya diarahkan menghadap ke samping
  6. Cerita acuan dari kepustakaan Jawa Kuno, di samping beberapa saduran dari karya sastra India.
  7. Tema cerita umumnya romantis (perihal percintaan)
  8. Relief cerita bersifat fragmentaris, tidak lengkap hanya episode tertentu saja dari suatu cerita lengkap (Munandar 2003: 28—29).
Dalam hal letak candi induk di suatu kompleks percandian, Soekmono menyatakan bahwa bangunan candi induk pada Langgam Jawa Tengah memang berada di pusat halaman, sedangkan bangunan candi induk di kompleks percandian dengan Langgam Jawa Timur terletak di halaman paling belakang. Soekmono menjelaskan:
“Maka mengenai bangunan candi harus diketengahkan bahwa candi Roro Jonggrang menghendaki ditariknya seluruh perhatian ke pusat menuju langit (lokasi kayangan tempat bersemayam para dewa), sedangkan Candi Panataran menghendaki penggelaran pandangan secara mendatar (yang sebenarnya merupakan proyeksi datar saja dari susunan vertikal) dengan tujuan pengarahan perhatian ke lokasi nenek moyang di gunung-gunung” (Soekmono 1986: 237).
Sebenarnya secara tidak langsung Soekmono telah menjelaskan adanya fungsi yang berbeda antara bangunan candi-candi dalam masa Klasik Tua yang didirikan di Jawa bagian tengah dan candi-candi masa Klasik Muda di Jawa Timur. Bahwa bangunan candi-candi masa Klasik Tua didirikan untuk keperluan ritus pemujaan kepada dewata, sedangkan candi-candi di masa Klasik Muda terutama era Singhasari dan Majapahit bermaksud untuk didedikasikan bagi pemujaan nenek moyang telah diperdewa. Maka bangunan candi jelas merupakan monumen keagamaan yang bersifat sakral karena diperuntuk sebagai media untuk “berkomunikasi” dengan hal Adikodrati (superhuman beings).
Sebagai bangunan sakral candi tidaklah mengikuti kaidah keagamaan secara ketat, artinya tidak setiap bangunan candi harus didirikan secara seragam. Bangunan-bangunan tersebut mempunyai wujud arsitektur yang berbeda-beda, walaupun mempunyai latar belakang keagamaan yang sama. Wujud arsitektur yang berbeda itulah yang menarik untuk diperbincangkan lebih lanjut, karena perbedaan tersebut sebenarnya menunjukkan adanya kekhasan. Oleh karena itu lazim disebut-sebut bahwa bangunan candi memiliki keistimewaan yang tidak didapatkan pada bangunan candi lainnya. Misalnya keistimewaan Candi Bima di Dieng adalah atapnya, atap dihias dengan bentuk-bentuk seperti buah keben (amalaka) yang tertekan dan oeleh karena itu wujudnya pipih. Candi lain mempunyai keistimewaan lain lagi dan seterusnya setiap candi mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri.

III
Berdasarkan bentuk arsitekturnya, sebenarnya candi-candi di wilayah Jawa bagian tengah dapat dibagi ke dalam dua macam gaya yang berlatarbelakangkan nafas keagamaannya, yaitu (1) candi-candi Hindu-śaiva dan (2) candi-candi Bauddha. Walaupun secara prinsip candi-candi itu mempunyai kesamaan, namun terdapat banyak perbedaan pula yang menarik untuk dibicarakan lebih lanjut.
Persamaan antara bangunan candi-candi Hindu-śaiva dan Bauddha di wilayah Jawa Tengah yang didirikan antara abad ke-8—10 M antara lain adalah:
  1. umumnya mempunyai pondasi yang berbentuk sumuran
  2. secara vertikal terdiri dari 3 bagian, yaitu, kaki, tubuh, dan atap bangunan
  3. mempunyai ruang utama di tengah bangunan
  4. dilengkapi dengan sejumlah relung yang kadang-kadang diperbesar menjadi ruang
  5. pipi tangga berbentuk ikal lemah
  6. terdapat gabungan bingkai padma, setengah lingkaran, dan rata
  7. ornamen yang selalu dikenal adalah hiasan Kala dan Makara.
Beberapa persamaan itu dapat ditemukan baik di candi-candi Hindu ataupun Buddha, seakan-akan telah menjadi ciri arsitektur bagi bangunan candi apapun di masa itu. Sebagai contoh pada butir b, baik pada candi Hindu ataupun Buddha pembagian vertikal tersebut selalu dapat dijumpai, yaitu (1) adanya bagian pondasi dan kaki candi dalam ajaran Hindu merupakan simbol dari alam Bhurloka, pada candi Buddha bagian ini dipandang sebagai pencerminan lapisan kehidupan Kamadhatu. (2) Bagian tubuh candi tempat bersemayamnya arca-arca dewa baik di bilik tengah (utama) atau relung-relung (parsvadewata) dalam ajaran Hindu merupakan simbol dari dunia Bhuvarloka, sedangkan dalam ajaran Buddha dapat dipandang sebagai pencerminan dari lapisan kehidupan Rupadhatu, dan (3) atap candi merupakan simbol Svarloka dalam Hinduisme, yaitu alam kehidupan para dewa. Adapun dalam ajaran Buddhisme atap adalah simbol Arupadhatu, suatu suasana tanpa wujud apapun, benar-benar hampa (śunyata).
Jadi berdasarkan pembagian arsitektur secara vertikal baik di candi Hindu ataupun Buddha sebenarnya melambangkan lapisan 3 dunia, yaitu dunia keburukan, dunia yang agak baik, dan dunia kebajikan sepenuhnya. Hal ini dinyatakan secara tegas dalam di bangunan candi, terutama dalam hal penerapan ornamennya, sebab ornamen-ornamen itu ada yang khas menggambarkan suatu dunia tertentu. Misalnya penggambaran figur-figur makhluk kahyangan yang melayang di awan, binatang-binatang mitos, pohon Kalpataru, relief cerita yang mencerminkan lapisan alam tertentu, dan sebagainya.
Sebelum membicarakan cirri penting candi-candi Hindu, berikut didaftarkan dulu candi-candi Hindu penting di wilayah Jawa bagian tengah. Dengan adanya daftar tersebut dapat diketahui adanya sejumlah candi Hindu yang bangunannya masih berdiri, walaupun ada yang tidak lengkap lagi. Candi-candi itu adalah adalah:
1. Kelompok Candi Dieng + abad ke-8 Banjarnegara
2. Kelompok Candi Gedong Songo + abad ke-8 Ambarawa
3. Candi Gunung Wukir tahun 732 M Magelang
4. Candi Pringapus + abad ke-9 Temanggung
5. Kelompok Candi Sengi + abad ke-9 Magelang
6. Candi Selagriya + abad ke-9 Magelang
7. Candi Sambisari + abad ke-9 Sleman
8. Candi Kedulan + abad ke-9 Sleman
9. Candi Morangan + abad ke-9 Sleman
10. Candi Barong + abad ke-9 Sleman
11. Candi Ijo + abad ke-9 Sleman
12. Candi Merak + abad ke-10 Klaten
13. Candi Lawang + abad ke-10 Boyolali
14. Candi Sari + abad ke-10 Boyolali
15. Percandian Prambanan tahun 856 M Sleman
Sebenarnya terdapat juga candi-candi Hindu yang tinggal runtuhannya saja, karena itu tidak dapat diperkirakan kembali wujud lengkapnya semula. Misalnya Candi Gondosuli di Temanggung, Candi Ngempon di Ambarawa, dan Candi Retno di Magelang. Tentunya di masa mendatang diperkirakan masih akan ditemukan candi-candi Hindu lainnya di wilayah Jawa Tengah, terutama di sekitar gunung atau pegunungan, mengingat terdapat konsep kuat bahwa di daerah pegunungan itulah para dewa bersemayam, jadi para pembangun candi diperkirakan akan banyak mendirikan candi di daerah dataran tinggi dan gunung-gemunung.
Berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah candi Hindu di wilayah Jawa Tengah dapat diketahui adanya sejumlah ciri khas yang dimiliki oleh bangunan-bangunan candi Hindu, yaitu:
  1. Di bagian tengah pondasi terdapat sumuran (perigi) tempat untuk menyimpan pendaman
  2. Lantai pradaksinapatha tidak terlalu lebar di bagian tepinya tidak ada pagar langkan (vedika).
  3. Terdapat 5 relung di dinding luarnya, 1 relung di setiap sisi dinding dan 2 relung kecil di kanan-kiri pintu (berisikan arca Durga Mahisasuramardini, Ganesa, Rsi Agastya, Mahakala, dan Nandiśvara)
  4. Jika berupa kompleks bangunan, maka terdiri dari 1 candi induk berhadapan dengan 3 Candi Perwara. Candi perwara tengah berisikan arca Nandi.
  5. Di bagian tengah bilik utama terdapat Lingga-Yoni, Yoni menutup mulut perigi yang terdapat di lantai bilik dan menembus pondasi.
  6. Mercu-mercu atap berupa bentuk candi kecil, kemuncaknya berbentuk motif ratna.
Demikian beberapa ciri penting yang terdapat pada bangunan gaya arsitektur candi Hindu-śaiva yang terdapat di Jawa bagian tengah. Ciri-ciri tersebut sebagian besar dapat ditemukan pada hampir semua bangunan candi Hindu-śaiva, namun ada pula yang hanya didapatkan pada 2 bangunan saja, selain dua bangunan tersebut tidak dapat dijumpai ciri yang dimaksudkan. Misalnya di lingkungan percandian Dieng dan Gedong Songo, setiap candi tidak dilengkapi dengan 3 Candi Perwara di hadapannya, melainkan terdapat satu bangunan saja yang denahnya empat persegi panjang, kasus demikian etrjadi pada Candi Arjuno yang berhadapan dengan Candi Semar. Di kompleks Gedong Songo terdapat Candi Gedong Songo II yang berhadapan dengan struktur kaki candi berdenah empat persegi panjang, dahulu mungkin merupakan candi perwaranya. Candi Gedong Songo I, justru tidak terdapat relung di sisi luarnya, dan terlihat adanya sisa pagar langkan di bagian tepian pradaksinapathanya, jadi mirip dengan bentuk arsitektur candi Buddha. Hanya saja karena candi-candi lainnya di kelompok percandian Gedong Songo tersebut bernafaskan agama Hindu-śaiva, maka candi Gedong Songo I pun digolongkan sebagai candi Hindu-śaiva pula.
Dalam pada itu terdapat pula candi-candi Buddha penting di wilayah Jawa bagian tengah, candi-candi itu ada yang dipandang menarik dari sudut arsitekturnya selain stupa Borobudur yang tidak ada duanya lagi di dunia. Candi Borobudur sebenarnya merupakan gabungan antara bentuk punden berundak yang dihiasi dengan stupa-stupa, stupa induk berada di puncak pundek seakan-akan menjelma menjadi mahkota bagi punden berundak khas bangunan suci masa prasejarah Indonesia (Wirjosuparto 1964: 53—54). Candi-candi Buddha ada yang mempunyai denah empat persegi panjang dalam ukuran besar (Candi Sari, Plaosan Lor, dan Banyunibo), sedangkan candi Hindu hanya berukuran kecil saja (Candi Semar dan Gedong Songo IIIc). Terdapat pula candi-candi Buddha yang dilengkapi dengan banyak Perwara, misalnya Candi Lumbung, Sewu, Plaosan Lor, dan Kidal, sedangkan candi Hindu hanya Prambanan saja yang dilengkapi banyak Perwara. Gambaran umum percandian Buddha di Jawa bagian tengah antara lain:
1. Percandian Ngawen + abad ke-9 Magelang
2. Candi Kalasan + abad ke-8 Sleman
3. Candi Sari (candi Bendah) + abad ke-8 Sleman
4. Stupa Borobudur + abad ke-9 Magelang
5. Candi Pawon + abad ke-9 Magelang
6. Candi Mendut + abad ke-9 Magelang
7. Percandian Lumbung + abad ke-9 Sleman
8. Candi Bubrah sekitar tahun 782 M Sleman
9. Percandian Sewu (Manjusrigrha) tahun 792 M Sleman
10. Percandian Plaosan Lor + abad ke-10 Klaten
11. Percandian Plaosan Kidul + abad ke-10 Klaten
12. Candi Sajiwan + abad ke-9 Klaten
13. Percandian Banyunibo + abad ke-9 Sleman
14. Stupa Dawangsari + abad ke-10 Sleman
Setelah membicarakan beberapa candi Buddha penting di wilayah Jawa bagian tengah, kronologi relatif, dan lokasinya sekarang ini, selanjutnya diperhatikan beberapa cirri penting dari candi-candi Buddha. Dinamakan penting karena cirri-ciri itulah yang secara umum hadir pada candi-candi Buddha, yaitu:

Ciri-ciri penting candi Buddha
  1. Bangunan candi induk dikelilingi oleh candi perwara di sekitarnya
  2. Lantai pradaksinapatha relatif lebar dan di bagian tepinya mempunyai pagar langkan (vedika)
  3. Pada bagian tubuh candi terdapat lubang-lubang yang tembus seakan-akan berfungsi sebagai ventilasi, selain terdapat relung-relung di dinding luarnya
  4. Mempunyai komponen bangunan berbentuk stupa, terutama di bagian atap
  5. Dilengkapi dengan arca-arca yang bersifat bauddha
  6. Di bilik candinya, menempel di dinding belakang terdapat “pentas persajian” , untuk meletakkan arca.
  7. Tidak mempunyai perigi sebagaimana yang dijumpai pada candi Hindu
  8. Pada beberapa candi besar halaman percandian diperkeras dengan hamparan balok batu, hal itu dapat ditafsirkan bahwa di masa silam pernah terjadi ritual yang banyak menyita aktivitas di halaman tersebut.
Demikianlah apabila diperhatikan secara seksama terdapat perbedaan antara candi-candi Hindu-śaiva dan Buddha Mahayana di masa Klasik Tua di Jawa bagian tengah. Perbedaan itulah yang dapat disebut langgam atau gaya, jadi di Jawa bagian tengah antara abad ke-8—10 candi-candi dibangun dengan dua langgam, yaitu langgam candi Hindu atau langgam candi Buddha. Pendapat R.Soekmono dalam hal ini dapat dikembangkan lebih lanjut, bahwa langgam candi Jawa tengah itu ternyata dapat dibagi menjadi 2 lagi. Sebenarnya kedua langgam itu telah mengalami gejala perpaduan di kompleks Prambanan, sebab ciri-ciri candi Hindu dan Buddha dapat ditemukan secara bersama-sama di gugusan candi Prambanan. Sejalan dengan pendapat J.G.de Casparis akhirnya terjadi perkawinan antara anggota “keluarga Sanjaya” yang Hindu dan anggota Śailendravamsa yang beragama Buddha. Perkawinan dua keluarga tersebut kemudian diwujudkan dengan mendirikan bangunan suci yang bercorak dua agama, yaitu percandian Prambanan atau Śivagrha dalam tahun 856 M (Sumadio 1984).

IV
Setelah kerajaan berkembang di wilayah Jawa bagian timur, maka bermacam aktivitas keagamaan pun beralih ke wilayah tersebut. Bangunan suci pun kemudian dibangun oleh masyarakat masa itu di lokasi-lokasi yang dipandang sakral melanjutkan tradisi Klasik Tua, seperti di pertemuan dua aliran sungai, daerah dataran tinggi dan pegunungan, dan dekat sumber-sumber air (mata air). Hal yang menarik di daerah malang sampai sekarang masih terdapat bangunan candi dengan Langgam candi Hindu Klasik Tua –sebagaimana yang terdapat pada candi Hindu-saiva di Jawa Tengah, yaitu Candi badut. Candi ini dihubungkan dengan Prasasti Dinoyo yang bertarikh 760 M. Dalam prasasti itu diuraikan adanya Kerajaan Kanjuruhan, Raja yang mengeluarkan prasasti itu adalah Gajayana yang beragama Hindu-saiva. Sehubungan dengan sebab tertentu yang belum dapat dijerlaskan, Kanjuruhan runtuh mungkin masih dalam abad ke-8 juga, kemudian uraian sejarahnya tidak dapat diketahui lagi.
Tinggalan arsitektur tertua setelah Mataram ibu kota berlokasi di Jawa bagian timur antara abad ke-10—11 M sebenarnya cukup langka, dua di antaranya yang penting adalah petirthān kuno, yaitu Jalatunda (abad ke-10 M) yang terletak di lereng barat Gunung Penanggungan dan Belahan terletak di lereng timurnya (abad ke-11 M). Kedua petirthan tersebut sampai sekarang masih mengalirkan air walaupun sudah tidak deras lagi. Menilik gaya arsitektur, relief dan seni arcanya patirthǎn Jalatunda dan Belahan dapat digolongkan sebagai karya arsitektur tertua di Jawa Timur setelah periode Kanjuruhan. Satu runtuhan candi yang semula merupakan patirthǎn pula adalah candi Sanggariti yang berlokasi di daerah Batu, Malang. Hanya saja candi penting dari sekitar abad ke-10 tersebut sudah tidak terurus lagi, sebagian bangunannya (tubuh dan atapnya telah hilang).
Sisa bangunan candi yang diperkirakan didirikan oleh raja Pu Sindok (929—947 M) adalah runtuh candi Lor yang terbuat dari bata di wilayah Kabupaten Nganjuk sekarang. Sisa candi Gurah di wilayah Kediri pernah ditemukan dalam penggalian arkeologi tahun 1969, bangunannya hanya tinggal pondasinya saja, sedangkan arca-arcanya dalam keadaan cukup baik, yaitu arca Brahma, Surya, Candra, dan Nandi. Bangunan Candi Gurah diperkirakan berasal dari Kerajaan Kadiri (abad ke-12 M), candi itu masih berlanggam candi Hindu Klasik Tua karena di depan candi induknya terdapat 3 candi perwara masing-masing mempunyai pondasi yang terpisah. Ujung pipi tangganya dihias dengan makara, suatu yang lazim pada candi-candi Jawa tengah, sedangkan arca-arcanya mirip dengan gaya seni arca Singhasari, oleh karena itu Soekmono menyatakan bahwa arsitektur candi Gurah merupakan mata rantai penghubung antara gaya bangunan candi masa Klasik Tua di Jawa Tengah dan masa Klasik Muda di Jawa bagian timur (Soekmono 1969: 4—5, 16—17).
Bangunan candi di wilayah Jawa bagian timur yang relatif masih utuh kebanyakan berasal dari periode Singhasari (abad ke-13 M) dan Majapahit (abad ke-14–15 M). Candi-candi yang dihubungkan dengan periode Kerajaan Singhasari yang masih bertahan hingga kini adalah Candi Sawentar (Blitar), Kidal, Singhasari, Stupa Sumberawan (Malang), dan candi Jawi (Pasuruan).
Adapun candi-candi dari era Majapahit yang masih dapat diamati wujud bangunannya walaupun banyak yang tidak utuh lagi, adalah:
1. Candi Sumberjati (Simping) Abad ke-14 M Blitar
2. Candi Ngrimbi (Arimbi) s.d.a Jombang
3. Candi Panataran (Rabut Palah) s.d.a Blitar
4. Candi Surawana s.d.a Kediri
5. Candi Tegawangi s.d.a Kediri
6. Candi Kali Cilik s.d.a Blitar
7. Candi Bangkal s.d.a Mojokerto
8. Candi Ngetos s.d.a Nganjuk
9. Candi Kotes s.d.a Blitar
10. Candi Gunung Gangsir s.d.a Pasuruan
11. Candi Jabung s.d.a Probolinggo
12. Candi Kedaton Abad ke-15 M Probolinggo
13. Candi Brahu s.d.a Trowulan/Mojokerto
14. Candi Tikus s.d.a s.d.a
15. Gapura Bajang ratu s.d.a s.d.a
16. Gapura Wringin Lawang s.d.a s.d.a
17. Candi Pari Abad ke-14 M Sidoarjo
18. Candi Pamotan Abad ke-15 M Mojokerto
19. Candi Dermo s.d.a s.d.a
20. Candi Kesiman Tengah s.d.a s.d.a
21. Candi Sanggrahan Abad ke-14 M Tulungagung
22. Candi Mirigambar s.d.a s.d.a
23. Candi Bayalango s.d.a s.d.a
24. Punden berundak di Penanggungan Abad ke-15—16 M Mojokerto
Berdasarkan wujud arsitektur yang masih bertahan hingga kini, maka bangunan suci Hindu-Buddha di wilayah Jawa Timur yang berkembang antara abad ke-13—16 M dapat dibagi ke dalam 5 gaya, yaitu (1) Gaya Singhasari, (2) Gaya Candi Brahu, (3) Gaya Candi Jago, (4) “Candi Batur”, dan (5) Punden berundak. Untuk lebih jelasnya ciri setiap gaya tersebut adalah sebagai berikut:

1.Gaya Singhasari
Dinamakan demikian karena wujud arsitektur yang menjadi ciri gaya ini mulai muncul dalam zaman kerajaan Singhasari dan terus bertahan hingga zaman Majapahit. Ciri yang menonjol dari Gaya Singhasari adalah:
1. Bangunan candi utama terletak di tengah halaman, atau di daerah tengahnya yang sering tidak terlalu tepat.
2. Bangunan candi terbagi 3 yang terdiri dari bagian kaki (upapitha), tubuh (stambha), dan atap yang berbentuk menjulang tinggi dengan tingkatan yang berangsur-angsur mengecil hingga puncak. Seluruh bangunan candi terbuat dari bahan tahan lama, seperti batu, bata, atau campuran batu dan bata.
3. Ruang atau bilik utama terdapat di bagian tengah bangunan, terdapat juga relung di dinding luar tubuh candi tempat meletakkan arca dewata.
Contoh gaya Singhasari adalah: Candi Sawentar, Kidal, Jawi, Singhasari (memiliki keistimewaan), Angka Tahun Panataran, Kali Cilik, Ngetos, dan Bangkal.

2.Gaya Brahu
Brahu adalah nama candi bata yang terletak di situs Trowulan, bentuk bangunannya unik, karena arsitekturnya baru muncul dalam zaman Majapahit. Dalam masa sebelumnya baik di era Singhasari atau Mataram Kuno bentuk arsitektur demikian belum dikenal. Dapat dipandang sebagai corak arsitektur tersendiri karena selain Candi Brahu candi yang sejenis itu masih ada lagi dalam zaman yang sama. Ciri Gaya Brahu adalah:
1. Bagian kaki candi terdiri atas beberapa teras (tingkatan), teras atas lebih sempit dari teras bawahnya).
2. Tubuh candi tempat bilik utama didirikan di bagian belakang denahnya yang bentuk dasarnya empat persegi panjang.
3. Seluruh bangunan dibuat dari bahan yang tahan lama, umumnya bata.
Termasuk kelompok Gaya Brahu adalah Candi Brahu, Jabung, dan Gunung Gangsir. Dalam pada itu di wilayah Padang Lawas, Sumatra Utara terdapat sekelompok bangunan suci dengan Gaya Brahu pula, dinamakan dengan Biaro Bahal yang jumlahnya lebih dari 3 bangunan. Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa biaro-biaro di Padang Lawas tersebut didirikan dalam masa perkembangan Majapahit pula.

3.Gaya Jago
Candi Jago terletak di Malang, arca-arcanya berlanggam seni Singhasari dengan adanya tokoh yang diapit oleh sepasang teratai yang keluar dari bonggolnya, namun gaya bangunannya tidak sama dengan dua macam gaya yang telah disebutkan terdahulu. Menilik bentuk bangunannya yang berbeda dengan dua gaya lainnya, maka Candi Jago bersama beberapa candi lainnya yang sejenis termasuk ke dalam gaya seni arsitektur tersendiri. Untuk memudahkannya gaya arsitektur itu dinamakan dengan Gaya Jago, dengan Candi Jago sebagai contoh terbaiknya. Ciri-ciri penting Gaya Jago adalah:
1. Kaki candi berteras 1, 2 atau 3 dengan denah dasar empat persegi panjang.
2. Bilik utama didirikan di bagian tengah teras teratas atau bergeser agak ke belakang teras teratas.
3. Atap tidak dijumpai lagi, diduga terbuat dari bahan yang cepat rusak (ijuk, bambu, kayu, dan lain-lain), bentuknya menjulang tinggi bertingkat-tingkat dalam bahasa Jawa Kuno dikenal dengan prasadha. Bentuk seperti ini masih dikenal di Bali dan digunakan untuk menaungi bangunan meru, pelinggih dan pesimpangan di kompleks pura.
Bangunan candi yang termasuk kelompok Gaya Jago adalah: Candi Jago, Candi Induk Panataran, Sanggrahan, dan Kesiman Tengah.


4. “Candi Batur”
Dinamakan demikian karena bentuknya hanya merupakan suatu bangunan 1 teras sehingga membentuk seperti siti inggil atau batur. Sekarang hanya tersisa batur itu saja dengan tangga di salah satu sisinya, denahnya bias berberntuk bujur sangkar dan dapat pula berbentuk empat persegi panjang. Di bagian permukaan batur biasanya terdapat objek sakral, antara lain berupa lingga-yoni, altar persajian, pedupaan berbentuk candi kecil atau juga arca perwujudan tokoh yang telah meninggal. Contoh bangunan candi seperti itu adalah Candi Kedaton di Probolinggo, Candi Kedaton di Trowulan, Candi Miri Gambar, Tegawangi, Surawana, Papoh (Kotes), dan Pasetran di lereng utara Gunung Penanggungan.

5. Punden berundak
Adalah bangunan teras bertingkat-tingkat meninggi yang menyandar di kemiringan lereng gunung. Ukuran teras semakin mengecil ke atas, jumlah teras umumnya 3 dan di bagian puncak teras teratas berdiri altar-altar persajian yang jumlahnya 3 altar (1 altar induk diapit dua altar pendamping di kanan-kirinya. Tangga naik ke teras teratas terdapat di bagian tengah punden berundak, terdapat kemungkinan dahulu di kanan kiri tangga tersebut berdiri deretan arca menuju ke puncak punden yang berisikan altar tanpa arca apapun. Contoh yang baik bentuk punden berundak masa Majapahit terdapat di lereng barat Gunung Penanggungan, penduduk menamakan punden-punden itu dengan candi juga, misalnya Candi Lurah (Kepurbakalaan No.1), Candi Wayang (Kep. No.VIII), Candi Sinta (Kep.No.17a), Candi Yuddha (Kep.No.LX), dan Candi Kendalisada (Kep.No.LXV). Selain di Gunung Penanggungan terdapat pula beberapa punden berundak di lereng timur Gunung Arjuno, hanya saja dinding teras-terasnya disusun dari batu-batu alami, tanpa dibentuk dahulu menjadi balok-balok batu.
Penggolongan bentuk arsitektur candi-candi di Jawa Timur tersebut berdasarkan pengamatan terhadap sisa bangunan yang masih ada sekarang, mungkin di masa silam lebih banyak lagi bentuk arsitektur yang lebih unik dan menarik, hanya saja tidak tersisa lagi wujudnya. Terdapat juga bangunan candi yang tidak dapat digolongkan ke dalam bentuk arsitektur manapun, misalnya Candi Pari yang bangunannya melebar dan tinggi, mirip dengan bangunan suci yang terdapat di Champa (Indo-China). Mungkin saja dahulu terdapat pengaruh gaya bangunan Champa yang masuk ke Majapahit, hal itu agaknya sejalan dengan berita tradisi yang mengatakan bahwa raja Majapahit pernah menikah dengan seorang putri Champa.Bangunan lain yang juga unik adalah Candi Sumur di dekat Candi Pari, dinamakan demikian karena ruang utamanya berupa lubang sumur yang berair. Candi Sumur mempunyai padanannya pada Candi Sanggariti di Batu, Malang, namun dari kronologi yang jauh berbeda.

V
Aktivitas keagamaan Hindu-Buddha di Jawa masa silam tentunya cukup bergairah, terbukti dengan ditemukannya banyak peninggalan bangunan suci dari kedua agama itu baik di wilayah Jawa bagian tengah ataupun timur. Para ahli arkeologi dan sejarah kuno telah sepakat untuk menyatakan bahwa munculnya berbagai karya arsitektur bangunan suci itu sebenarnya sejalan dengan keberadaan pusat kerajaan sezaman. Ketika pusat kerajaan berada di Jawa Tengah, candi-candi Hindu-Buddha banyak dibangun di wilayah tersebut, dan ketika pusat-pusat kerajaan muncul di Jawa Timur, pembangunan candi-candi pun banyak dilakukan di wilayah Jawa Timur.
Gaya arsitektur bangunan candi ketika pusat Kerajaan Mataram masih berlokasi di Jawa Tengah, lebih didasarkan pada latar belakang agamanya. Maka dari itu terdapat Langgam Candi Hindu-saiva dan Langgam Candi Buddha Mahayana. Lain halnya ketika pusat-pusat kerajaan telah berada di Jawa Timur, perbedaan gaya bangunan suci itu tidak didasarkan kepada perbedaan agama lagi, baik candi Hindu ataupun Buddha gaya arsitekturnya sama, hal yang membedakannya hanya terletak pada arca-arca yang dahulu disemayamkan di dalamnya. Mungkin kenyataan ini sejalan dengan konsep Siwa-Buddha bahwa sebenarnya dalam hakekat tertinggi sebenarnya tidak ada lagi perbedaan antara Siwa dan Buddha, oleh karena itu tidak perlu adanya perbedaan secara tegas terhadap wujud bangunan sucinya.
Satu masalah penting yang perlu kajian lebih lanjut adalah apa yang terjadi di wilayah Jawa bagian tengah ketika Kediri, Singhasari dan Majapahit berkembang di Jawa Timur?, apakah Jawa Tengah sepi dari aktivitas keagamaan?, apakah masih dihuni oleh penduduk?, mengapa tidak ada sumber sejarah dan arkeologi yang ditemukan di wilayah Jawa Tengah antara abad ke-11—14?. Demikianlah terdapat masalah yang menarik untuk diungkapkan di masa mendatang, bahwa tidak mungkin wilayah tua di Jawa bagian tengah bekas tempat kedudukan para Syailendra itu tiba-tiba sepi saja, ketika kerajaan-kerajaan berkembang di Jawa bagian timur. Penelisika untuk menjelaskan permasalahan itu masih terbuka, dan mengundang para ahli yang berminat untuk mengeksplorasinya lebih lanjut.

PUSTAKA

Munandar, Agus Aris, 2003, Aksamala: Bunga Rampai Karya Penelitian. Bogor: Akademia.
—————–, 2004, “Menggapai Titik Suci: Interpretasi Semiotika Perpindahan Pusat Kerajaan Mataram Kuno”, dalam dalam T.Christomy & Untung Yuwono (Penyunting), Semiotika Budaya. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia. Halaman 161—180.
Soekmono, R., 1969, Gurah, The Link Between The Central and The East-Javanese Arts. Bulletin of the Archaeological Institute of the Republic of Indonesia No.6. Djakarta: Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional.
——————, 1986, “Local Genius dan Perkembangan Bangunan Sakral di Indonesia”, dalam Ayatrohaedi (Penyunting), Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Jakarta: Pustaka Jaya. Halaman 228—246.
—————–, 1997, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius.
Sumadio, Bambang (Penyunting jilid), 1984, Sejarah Nasional Indonesia II: Jaman Kuna. Jakarta: Balai Pustaka.
Wirjosuparto, Sutjipto, 1964, Glimpses of Cultural History of Indonesia. Djakarta: Indira.

Arah Hadap Candi di Indonesia


Candi-candi di Indonesia diyakini bukanlah sekadar tumpukan batu yang tidak berarti. Peninggalan dari masa lampau itu merupakan bangunan suci agama Hindu dan Buddha. Menurut catatan-catatan kuno, sejak abad ke-5 hingga ke-15, banyak kerajaan bercorak Hindu dan Buddha muncul di Nusantara, antara lain Mataram, Sriwijaya, Singhasari, dan Majapahit. Kerajaan-kerajaan itu banyak mewariskan bangunan berupa candi.
Kesucian bangunan candi ditunjukkan oleh adanya tiga bagian pada candi itu. Pada candi Hindu, kaki candi melambangkan alam bawah, tempat manusia biasa; badan candi melambangkan alam antara, tempat manusia meninggalkan keduniawiannya; dan atap candi melambangkan alam atas, tempat para dewa. Menurut filosofi Buddha, bagian terbawah disebut kamadhatu (melambangkan dunia keinginan), bagian tengah rupadhatu (dunia berbentuk), dan bagian teratas arupadhatu (bagian tidak berbentuk).
Candi-candi di Indonesia pada dasarnya terdiri atas dua langgam, yakni langgam Jawa Tengah dan langgam Jawa Timur. Umumnya candi langgam Jawa Tengah menghadap ke Timur, sementara candi langgam Jawa Timur menghadap ke Barat.
Masyarakat kuno percaya bahwa candi harus terletak di tempat-tempat para dewa sering bercengkerama. Tempat-tempat itu umumnya dijumpai di puncak, lereng bukit, dan dataran tinggi. Tempat terbaik untuk pendirian candi konon adalah dekat air, terutama pertemuan dua sungai. Dulu, air merupakan perangkat penting untuk upacara keagamaan. Lokasi candi pun harus subur tanahnya sehingga akan menambah nilai plus pada bangunan tersebut.
Karena terpengaruh budaya India, maka pendirian candi tentu saja mengikuti aturan baku di sana. Sumber utamanya terdapat dalam kitab kuno Manasara (ukuran standar yang hakiki). Kitab itu dianggap sebagai inti Wastusastra (ilmu sastra) dan Silpasastra (ilmu tentang seni, sastra, dan mekanika bangunan).
Secara garis besar pembangunan candi terdiri atas tujuh tahap, yakni perencanaan oleh seorang sthapati (ahli pembuat candi), pencarian lokasi, pengujian tanah, penyiapan tanah, pembuatan wastupurusamandala (wastu = tempat tumbuhnya, purusa = inti alam semesta, mandala = denah suci), pembuatan denah candi di atas tanah, dan pengerjaan fisik.
Ciri khas candi-candi Hindu adalah terdapat arca-arca dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa atau perwujudan ketiganya. Bahkan arca-arca lainnya yang termasuk pantheon Hindu, seperti Ganesha, Nandi, dan Durga. Hiasan-hiasan candi yang dibuat pun selalu merepresentasikan ketiga dewa itu, antara lain tercermin pada lingga (tugu batu lambang kesuburan). Bagian bawah lingga berbentuk segiempat melambangkan dewa Brahma, bagian tengah berbentuk segidelapan melambangkan dewa Wisnu, dan bagian atas berbentuk bulat melambangkan dewa Siwa. Selain itu candi-candi Hindu memiliki delapan dewa penjaga arah mata angin (astadikpalaka).
Candi Buddha pun mempunyai ciri khas, berupa arca-arca Dhyanni Buddha, Dhyanni Boddhisatwa, dan Manusi Buddha. Masing-masing mewakili arah mata angin pokok (Utara, Selatan, Barat, dan Timur) ditambah satu di pusat.

Warna
Menurut dokumen-dokumen India, suatu bangunan kuno terkait secara simbolis dengan warna dan arah mata angin. Epigraf (ahli membaca prasasti kuno) Prancis L.Ch. Damais pernah melakukan penelitian sebagaimana tulisannya “Tentang Perlambangan Warna pada Mata Angin” (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, 1995, hal. 111-164).
Dari sejumlah kitab kuno India, Damais mencoba mencari hubungan antara warna-warna dasar dengan arah mata angin, dewa, planet, alat tubuh, dan sebagainya. Damais melihat dalam agama Hindu terdapat warna dan arah yang dihubungkan dengan keempat kasta, yakni Brahmana (warna putih, arah Utara), Ksatria (merah, Timur), Waisya (kuning, Selatan), dan Sudra (hitam, Barat).
Dalam agama Buddha pun terdapat rangkaian warna yang melekat secara simbolis pada Dhyanni-Buddha. Perpadanannya adalah Amoghasiddhi (hijau, Utara), Aksobhya (biru, Timur), Ratnasambhawa (kuning, Selatan), Amitabha (merah, Barat), dan Wairocana (putih, zenith).
 
Sebagai acuan, Damais menggunakan sistem klasifikasi Tiongkok yang populer dalam ilmu feng shui hingga sekarang. Warna-warna tersebut dikaitkan dengan lima raja. Setelah ditata menurut mata angin, hasilnya adalah Utara (warna hitam, unsur air), Timur (hijau, kayu), Selatan (merah, api), Barat (putih, logam), dan Pusat (kuning, tanah).
Ilmu feng shui sendiri lahir di Tiongkok sekitar tahun 3000 SM. Feng shui adalah pengetahuan tentang tata letak bangunan yang dipandang akan membawa keberuntungan bagi penghuninya.
Feng shui berhubungan dengan arah rumah atau bangunan berdasarkan angka kua seseorang. Angka kua diperoleh dari data kelahiran. Feng shui mengenal sembilan angka kua (dari 1 hingga 9) yang terbagi menjadi dua kelompok. Angka kua 1, 3, 4, dan 9 termasuk kelompok Timur. Angka kua 2, 5, 6, 7, dan 8 termasuk kelompok Barat.
Candi-candi di Indonesia umumnya menghadap ke Timur atau Barat, meskipun ada sedikit sudut penyimpangan. Filosofinya cukup sederhana. Timur adalah tempat matahari terbit dan Barat tempat matahari terbenam. Candi Gunung Wukir, misalnya, sebagaimana pengukuran arkeolog Eadhiey Laksito Hapsoro diketahui menghadap ke arah Timur 109 derajat. Batas toleransi dalam feng shui adalah 97,5 – 112,5 derajat dihitung dari Utara. Jadi arah hadap candi itu masih termasuk kelompok Timur.
Arah hadap candi dan kelompok dalam feng shui, yakni Timur dan Barat, kemungkinan besar mempunyai kesesuaian. Boleh jadi jika ada penelitian mendalam, akan diketahui siapa raja atau pejabat yang mendirikan candi itu dan waktu pendiriannya. Sebab selama ini yang diketahui adalah waktu peresmian (bukan waktu pendirian) sebuah candi sebagaimana disebutkan pada prasasti.

Matahari
Dalam mitologi India dikisahkan bahwa matahari yang terbit dari Timur merupakan sumber segala kekuatan. Sebagai penguasa arah Timur ditunjuk Indra, yang dalam pantheon (masyarakat dewa) Hindu “menjabat” Dewa Perang. Sedangkan penguasa arah Barat adalah Varuna, identik dengan Dewa Laut.
Mengingat falsafah utama dalam feng shui adalah “bersandar pada gunung, melihat lautan”, tentu adanya kelompok Timur dan Barat bukanlah tanpa perhitungan matang. Konon Dewa Indra bertempat tinggal di keindraan atau puncak gunung.
Aturan-aturan dalam feng shui versi Tiongkok diyakini mirip aturan-aturan Manasara versi India. Feng shui dan candi umumnya bersinggungan dengan arah mata angin dan bentuk.
Dalam astadikpalaka penjaga arah Utara adalah Kuvera atau Dewa Kekayaan dan penjaga arah Selatan adalah Yama yang diidentikkan dengan tempat kemalangan. Dalam feng shui arah Utara adalah lokasi elemen air yang melambangkan kemakmuran dan arah Selatan adalah lokasi elemen api yang biasanya diibaratkan kemalangan. Elemen adalah semacam “rumus” dalam perhitungan feng shui. Karena itu elemen api bukanlah api sesungguhnya, melainkan “pengaruh” tertentu, sebagaimana juga elemen air, tanah, kayu, dan logam.

Simbolisasi
Dari berbagai dokumen tertulis (prasasti dan naskah kuno) di Jawa dan Bali, Damais menyimpulkan bahwa warna dasar yang paling dikenal adalah putih, merah, kuning, dan biru tua. Warna dasar sebagaimana disebutkan Prasasti Sukamerta (1296 M) adalah putih, merah, kuning, dan hitam. Demikian juga dalam kitab kuno Dewa Ruci. Putih, merah, kuning, dan hitam adalah warna-warna di alam semesta. Warna kelima dianggap mewakili keseluruhan warna lainnya, dengan catatan biru tua mirip dengan hitam.
Menurut Damais, warna-warna dasar di Jawa identik dengan warna-warna kasta dalam agama Hindu. Kesimpulan lain adalah simbolisasi Jawa, khususnya perpadanan merah dengan api. Dalam hal ini Brahma dianggap Dewa Api, dihubungkan dengan kematian. Kematian sendiri disamakan dengan Selatan, suatu kiblat yang juga dibuktikan baik oleh letak candi di Prambanan (Jawa) maupun oleh letak altar di Pura Besakih (Bali).
Di Indonesia banyak sekali bangunan kuno yang dipengaruhi kebudayaan India. Untuk itu perlu ada studi yang mendalam mengingat banyak bangunan kuno belum diketahui tarikh pendiriannya. Di samping itu banyak bangunan kuno dipengaruhi kalender Jawa dengan pancawara-nya. Semoga masalah pertanggalan candi mendapat perhatian dari para arkeolog yang berkecimpung di bidang penelitian. Persoalannya adalah dari pertanggalan mutlak candi bisa diperoleh banyak informasi tentang berbagai hal yang tentu saja akan menguntungkan dunia arkeologi secara umum.






Struktur Candi Borobudur

Borobudur dilihat dari pelataran sudut barat laut
Candi Borobudur memiliki struktur dasar punden berundak, dengan enam pelataran berbentuk bujur sangkar, tiga pelataran berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua pelatarannya beberapa stupa.

Sepuluh pelataran yang dimiliki Borobudur menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.


Denah Borobudur membentuk Mandala, lambang alam semesta dalam kosmologi Buddha.
Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.

Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.

Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.
Struktur dasar candi borobudur
Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha, yang disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini.

Di masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada Raja Thailand, Chulalongkorn yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.

Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur Mandala.

Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu seperti balok-balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.

Sumber:
  1. Drs. R. Soekmono, (1973, 5th reprint edition in 1988). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 2nd ed.. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. hlm. 46. 
  2. Walubi. "Borobudur : Candi Berbukit Kebajikan". http://www.walubi.or.id/waisak2004/Borobudur%20-%20Candi%20Berbukit%20Kebajikan.shtml. 
  3. Soekmono (1976), page 35–36.
  4. Hiram W. Woodward Jr. (1979). "Acquisition". Critical Inquiry 6 (2): 291–303. doi:10.1086/448048. 
  5. Roderick S. Bucknell and Martin Stuart-Fox (1995). The Twilight Language: Explorations in Buddhist Meditation and Symbolism. UK: Routledge. ISBN 0700702342.